Bang Edi Loper Difabel, Wong Cilik yang Anggap Debat Capres Tak Penting

Wong Cilik

Bang Edi Loper Difabel, Wong Cilik yang Anggap Debat Capres Tak Penting

- detikNews
Senin, 30 Jun 2014 10:38 WIB
Bang Edi Loper Difabel, Wong Cilik yang Anggap Debat Capres Tak Penting
Jakarta -

Sudah siang bolong terik ditambah kendaraan melolong berisik, koran-koran yang dijual Trimo 'Edi' Puji Slamet (35) belum habis. Dengan penuh semangat meski hanya punya satu kaki dan arus informasi cepat berganti, Bang Edi tetap saja menjajakan koran demi nasi.

Tak peduli wajah siapa yang terpampang di koran yang dia jajakan, asalkan bermanfaat tentu dia tawarkan. Asalkan banyak bekerja, dengan satu kaki pun Bang Edi sudah bisa bawa pulang sebungkus nasi untuk istri dan bayinya.

"Buat saya sekecil apa pun penghasilan, bukan berarti saya miskin. Saya memang orang kecil, wong cilik, tapi saya bukan orang miskin," tutur Bang Edi di persimpangan Jl Matraman - Jl Pramuka, Jakarta Timur, Rabu (25/6/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Otot kaki kiri Bang Edi terlihat sangat kuat menopang seluruh badan meski tak disertai kaki kanan. Bang Edi tak minta dikasihani, yang penting buat dia adalah pemimpin yang memahami.

"Kalau debat capres menurut saya nggak penting. Saya setiap minggunya nonton tapi cuma buat hiburan saja, malah ketawa-ketawa sendiri setiap nonton," ucap Bang Edi.

Dilanjut lagi berdagang koran-koran sambil menawarkan berita utama dari setiap koran. Memang seminggu ini informasi calon Presiden membanjiri halaman depan.

"Biasanya kalau ada koran yang nggak habis, saya baca-baca lagi di rumah. Saya jadi tahu mana yang benar-benar peduli sama masyarakat," tutur Bang Edi.

Saling silat lidah di layar kaca membuat Bang Edi terheran-heran. Bagaimana membuktikan apa yang dibicarakan?

Sudah belasan tahun Bang Edi menjadi loper koran. Belasan tahun itu pula dia menelan informasi macam-macam dan pergantian zaman.

"Orang banyak uang ya tetap banyak uang, orang kecil ya tetap kecil. Tapi orang kecil belum tentu miskin kalau bahagia. Orang banyak uang kalau nafas saja susah, berarti dia miskin. Udara yang gratis saja dia nggak bisa beli, kan mendingan saya bisa ketawa-ketawa di mana saja," kata Bang Edi sambil terkekeh.

Setiap hari tanpa libur Bang Edi menjual koran dari pukul 06.00 WIB sampai 18.00 WIB. Saat ada berita yang ramai dibahas, pembeli lebih banyak dan Rp 60 ribu bisa dibawa pulang.

"Daripada berdebat saja, lebih baik tunjukkan kalau memang peduli sama masyarakat. Saya suka pemimpin yang merakyat, mau berbaur sama rakyat daripada tidak sama sekali," ucap Bang Edi.

"Tapi yang paling nggak penting menurut saya adalah kampanye hitam, sebar-sebar fitnah nggak pakai bukti. Buat saya itu tidak pengaruh ke masyarakat kecil, karena masyarakat kecil melihatnya kenyataan, lagian saya sudah punya pilihan," kata Bang Edi berpendapat.

Bang Edi memang bukan sarjana sosial-politik apalagi profesor. Dia hanya seorang anak manusia yang lahir dari rakyat kecil dan seperti lainnya, mendamba kebahagiaan hidup.

Sudah bukan waktunya bagi Bang Edi hanya berharap pada janji-janji. Selama masih punya kaki untuk menapak, walau cuma satu bukan berarti itu halangan untuk bekerja.

(bpn/trq)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads