Perjalanan Wawan dari Lokalisasi Kramat Tunggak ke Jakarta Islamic Centre

Wong Cilik

Perjalanan Wawan dari Lokalisasi Kramat Tunggak ke Jakarta Islamic Centre

- detikNews
Rabu, 25 Jun 2014 10:09 WIB
Perjalanan Wawan dari Lokalisasi Kramat Tunggak ke Jakarta Islamic Centre
Jakarta -

Menatap mantap di pinggiran utara kota Jakarta nampak sebuah bangunan megah berdiri. Sebuah tempat ibadah terpadu yang lengkap dengan fasilitas pendidikan dan penginapan.

Seorang pria berkulit gelap terlihat tekun menyapu pelataran selasar Masjid megah itu. Dialah Gunawan atau yang lebih dikenal dengan Bang Wawan (44) si petugas kebersihan.

"Saya kerja di sini sudah sekitar 15 tahun sejak tempat ini belum berdiri. Saya ikut jadi kuli yang bangun ini dulu. Dulunya tempat ini bukan Masjid, tapi tempat prostitusi yang namanya Kramat Tunggak," ujar Bang Wawan di Jakarta Islamic Centre, Jl Kramat Jaya, Koja, Jakarta Utara, Jumat (20/6/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Betapa mencengangkan penuturan Bang Wawan itu. Sebuah tempat ibadah megah itu rupanya pernah menjadi tempat maksiat.

"Saya tahu soalnya sebelum jadi petugas kebersihan di sini saya juga jadi tukang parkir di lokalisasi itu," imbuh Bang Wawan.

"Kehidupan di sini dulu parah. Pokoknya yang dimau laki-laki ada di sini semuanya. Saya saja yang cuma tukang parkir bisa ikut menikmati itu semua," sebut dia.

Meski hanya berpangkat tukang parkir, Wawan juga ikut kecipratan nikmat kehidupan malam di situ. Bang Wawan berjasa mengantarkan pelanggan baru dan merekomendasikan wisma bagi mereka yang awam.

"Jadi misal si bos-bos itu datang, saya parkirin kendaraannya. Habis itu saya tanya, mau minum-minum aja atau sama yang lain. Kalau sama yang lain ya saya antar ke wisma yang dia mau. Terus saya dapat uang tip yang nggak tanggung-tanggung. Acara musik-musik kan biasanya kelar jam 12 malam, nah habis itu sepi semua di sini," ujar Bang Wawan.

Setiap hari Bang Wawan merasa kehidupan dia hanya penuh hura-hura saja. Uang mudah datang, tapi mudah pula pergi begitu saja.

Waktu itu usia dia hampir kepala tiga, tapi tak terbersit sedikit pun untuk menikah. Menurut dia waktu itu lebih baik hura-hura saja di lokalisasi Kramat Tunggak.

"Tapi ketika lokalisasi ditutup, semua berubah. Akhirnya saya sadar kalau selama ini buang-buang waktu saja. Tapi mau gimana lagi? Saya kan asli kampung sini. Dari remaja saja saya sudah kerja di Kramat Tunggak. Pengaruh pergaulan, susah untuk lepas," ucap Bang Wawan.

Hentakan reformasi rupanya berimbas pula pada tuntutan masyarakat untuk menutup lokalisasi. Kala itu masa pemerintahan Gubernur Sutiyoso.

Tak mudah menghilangkan kebiasaan buruk masyarakat yang sudah melekat. Bang Wawan adalah saksi hidup bagaimana kemauan keras pemerintah untuk mengambil kebijakan tak akan terhenti hanya karena penolakan sebagian pihak.

Dua tahun setelah penutupan, master plan Jakarta Islamic Centre pun tersusun. Bang Wawan melihat peluang bertaubat dari wacana itu, kemudian bergegaslah dia menawarkan diri sebagai

Sekarang Bang Wawan bersikeras membersihkan catatan buruk masa kelam dengan mengabdi sebagai juru kebersihan. Gaji yang diterima hanya Rp 850.000 per bulan setelah dipotong administrasi outsourcing, tapi spirit bertaubat bagi dia jauh tak ternilai.

(bpn/trq)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads