Sudah menunggu di rumah dia istri tercinta dan tiga dari lima anaknya. Sudah lapar pula dia karena hanya membawa bekal dua gelas air mineral.
"Anak saya yang dua sudah kerja sendiri. Anak ketiga nggak bisa ngomong dan mentalnya agak beda, kalau yang keempat baru masuk SMA, dan terakhir kelas 2 SMP," kata Pak Royani di siang hari Kamis (19/6/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lumayan itu KJP, bisa dipake untuk beli keperluan sekolah. Kalau SPP kan sudah ditangging sama BOS ya? Kalau KJP kan lain, itu buat keperluan lain seperti tas, sepatu, buku, seragam. Memang sesuai namanya sih, jadi belum bisa buat beli beras," tutur Pak Royani.
KJS pun sudah dikantongi Pak Royani, meski belum pernah dipakai karena memang belum perlu ke rumah sakit. Tinggal menunggu pembangunan lain yang siapa tahu butuh tenaga dia.
"Saya ini sebenarnya kuli bangunan, tapi kalau tidak ada kerjaan ya saya berburu kroto seperti ini," ujar Pak Royani.
"Jokowi sebenarnya bagus juga itu. Baru sebentar saja sudah banyak perubahan. Cuma karena saya jarang nonton TV jadi masih nimbang-nimbang besok mau pilih siapa," imbuh dia.
Selama memimpin Jakarta, Pak Royani melihat program-program Jokowi sangat rinci menyasar ke masyarakat. Walau pun tak selalu muluk-muluk dan menjual mimpi, setidaknya ada yang dirasakan masyarakat.
"Setidaknya dia sudah berbuat," ucap Pak Royani.
Memandangi bungkusan kecil kroto sebelum berangkat lagi berburu, Pak Royani tersenyum kecil. Setidaknya sudah ada hasil meski sedikit, tapi bukan sekedar angan-angan.
(bpn/trq)











































