Hari itu sudah hari Kamis (19/6/2014), siang bolong pula. Tapi baru empat bungkusan koran berisi kroto yang terkumpul sedari tadi pagi mencari.
"Segini paling cuma cukup buat bikin umpan pancing. Tidak bisa ada sisa buat dijual ke pasar burung," ucap Pak Royani saat berleha di tepi Jl Brawijaya, Jakarta Selatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mudah-mudahan lomba mancing besok Minggu bisa menang. Lumayan hadiahnya bisa buat beli makanan," kata Pak Royani.
Sudah lama sekali Pak Royani mengukir prestasi dalam bidang pancing memancing. Berbagai hadiah mulai dari uang tunai hingga motor sudah dia raih.
Namun dia selalu pikir dua kali sebelum mendaftar lomba memancing. Harga pendaftaran yang tinggi membuat dia kebanyakan hanya jadi joki saja.
Setidaknya bisa obati rasa lapar ketika kerja serabutan tak bikin dapur mengepul. Masih ada tiga dari lima anaknya yang tinggal bersama dia. Pun anak yang ketiga memiliki keterbelakangan mental.
"Masih harus keluar uang lagi nih buat bikin umpan pancingan yang bagus," sebut Pak Royani.
Kembali dia berpikir, umpan pancing andalannya itu perlu biaya tak kecil. Sepotong keju, kornet, mentega, dan tepung kanji yang dikukus jadi satu dengan kroto baru lah bisa memancing seekor 'panglima' ikan.
"Rp 120.000 buat bikin itu semua," imbuh Pak Royani.
Mengandai-andai dirinya mana kala danau-danau dan sungai-sungai di Ibukota merupakan tempat nyaman bagi ikan-ikan bermukim. Sehari memancing saja bisa buat makan hampir seminggu.
"Ikan dari lomba mancing bisa dijual ke tetangga, walau pun harganya murah tapi bisa untung karena dapatnya banyak," tutur Pak Royani.
(bpn/trq)











































