Sudah hampir setengah hari Pak Herman (58) yang kakinya kena asam urat akut itu berjalan dengan tongkat mengumpulkan sampah plastik. Si kecil Eni (10) yang selalu bersama dia pun sudah kehausan dan membisik minta minuman teh kemasan dingin.
Seharian berjalan susah payah juga tak bisa membuatnya memenuhi karung dengan sampah plastik bagi Pak Herman. Tapi bagi dia yang kurus itu, kewajiban seorang manusia adalah bekerja.
Pekerjaan kecil pun kalau ditekuni tak akan menyisakan keluh. Hanya saja asa senantiasa ada. Di balik angan setinggi awan itu ada rindu akan sosok pemimpin yang perhatian dengan rakyat kecil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seliweran kendaraan sering tak segan menglakson Pak Herman yang terseok-seok menyeberang jalan. Sudah tak heran lagi dia merasa banyak orang arogan bertebaran.
Menggeleng Pak Herman melihat kelakuan seperti itu padahal si kecil Eni sudah melambaikan tangan meminta kendaraan-kendaraan itu melambat. Secarik doa terkirim kepada Yang Kuasa, semoga kelak negeri ini tak diberi pemimpin yang arogan.
"Saya takut bicara politik soalnya dulu kan kalau bicara politik pasti nanti kenapa-kenapa," ucap Pak Herman.
Teringat kemudian Pak Herman akan seorang pemimpin yang membekas di hati. Ketika tak segan datang ke masyarakat dan memberi.
"Waktu zaman Megawati sih enak, saya dapat penggorengan, sembako, kompor, tenda, banyak semua. Sampai sekarang penggorengannya masih ada dipake masak sama istri saya di Citayam," kata Pak Herman.
Dari penggorengan tak seberapa, terpatri dalam benak bapak beranak dua itu untuk selalu berprasangka baik kepada pemimpin. Tak ingin dia bicara-bicara buruk tentang pemimpin.
"Saya sih berharapnya nanti ada pemimpin yang seperti itu lagi. Yah walaupun banyak dikasih macam-macam, tidak membuat masyarakat malas kerja. Malah lebih semangat soalnya merasa sudah ada yang dimakan di rumah jadi kerja lebih plong," tutur Pak Herman yang berbaju kotak-kotak.
Sudah sampailah Pak Herman di permukiman semi permanen sebelah rel KA Kebayoran Lama. Tak seperti orang-orang besar yang arogan, Pak Herman langsung dibantu menyeberangi rel oleh orang-orang yang terpinggirkan di situ.
Si kecil Eni pun langsung berlari mengecup ibunya yang sering diam karena ditinggal suami kemudian Eni berlari lagi mencari teman bermain. Pak Herman beranjak menuju lapak tidurnya dan sesegera mungkin rebahan sebelum rasa sakit asam urat kambuh lagi.
Satu lagi hari berat dilalui. Menanti esok sembari bekerja, mengharap pemimpin yang giat bekerja.
(bpn/trq)











































