Bapak itu bernama Herman yang usianya sudah hampir enam puluh tahun. Bersama si kecil Eni (10) keduanya mencari sampah-sampah layak daur ulang di sekitaran Kebayoran Baru itu.
Sudah lima tahun lamanya Pak Herman memilih untuk menjadi pemulung. Padahal asam urat di kaki dia itu sudah parah sejak sepuluh tahun silam.
"Pertamanya saya cuma diam saja di rumah sama anak saya di Citayam. Saya pikir kalau hanya diam saja lama-lama bisa lumpuh. Ya sudah saya keliling cari kerjaan dan cuma jadi pemulung begini saya bisa kerja," kata Pak Herman di bawah pohon rindang ketika hari Kamis (5/6/2014).
Seharian memulung tak sampai penuh satu karung dia kumpulkan. Kaki yang tak kuasa lagi berjalan jauh hanya mampu mengumpulkan sekarung penuh dalam waktu seminggu.
Sekarung asa itu pun hanya laku terjual Rp 50.000 dan dia lalu harus melanjutkan lagi pekerjaannya. Sudah biasa seperti itu, sudah biasa teteskan peluh tanpa keluh tanpa mengaduh, tapi bukan kebiasaan Pak Herman untuk mengemis.
"Saya dari dulu tidak suka mengemis. Biar hidup saya begini, saya mau terus kerja walau pun penghasilan kecil. Kalau ada orang bilang saya pengemis, saya langsung pergi saja," ucap Pak Herman.
Setiap siang Pak Herman duduk di bawah pohon di Jalan Bumi yang menghadap sebuah SMP. Warung-warung sekitar sudah hafal kapan waktu Pak Herman datang, bergantianlah mereka sesekali memberi sebungkus nasi.
Siang itu pun Pak Herman dan si kecil Eni bersantap sebungkus nasi Padang untuk berdua. Menumpang di teras rumah seorang baik hati, keduanya berteduh dari hujan.
Sambil bersantai sebelum melanjutkan perjalanan setelah makan, Pak Herman bersenda gurau dengan Eni. Gadis kecil itu rupanya cukup pemalu dengan orang yang baru ditemui.
"Eni ini bukan cucu saya tapi sudah saya anggap cucu saya sendiri. Bapaknya Eni kabur dan menikah sama perempuan lain. Ibunya Eni jatuh stres karena itu. Jadi saya bantu momong Eni sambil kerja. Eni juga senang main sama saya," tutur Pak Herman.
Diusapnya kepala Eni tiap kali gadis kecil itu nampak kelelahan. Dirogoh dalam-dalam kantongnya untuk sekedar membelikan minuman kemasan kesukaan Eni.
Dalam tatap Pak Herman seperti berpikir bagaimana hari esok Eni. Kaki Pak Herman yang butuh tongkat untuk melangkah rasanya tak sanggup mengantarkan Eni ke gerbang masa depan cemerlang.
(bpn/trq)











































