Kudapan merakyat nikmat dari kedelai itu namanya tahu. Entah sejak kapan orang-orang menyantap itu tapi sepertinya menjadi tak terpisahkan dari meja makan orang Indonesia.
Putih lembut nan gurih sepotong tahu tak lepas dari kegigihan pembuatnya. Siapa sangka makanan lembut itu dibuat dengan tenaga kerja keras buruh-buruh pabrik seperti Undang Nuriya (38).
βSaya dari awal ke Jakarta 8 tahun lalu sudah langsung kerja di pabrik tahu. Sebelumnya ya di kampung tidak ada pekerjaan. Cari-cari ke sana ke mari tidak dapat pekerjaan. Akhirnya saya ikut kakak ipar ke Jakarta dan kerja di pabrik tahu,β ujar Pak Nur di pabrik tahu kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Selasa (20/5/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mulai dari proses menggiling, menguapkan, menyaring, mencetak, dan memotong digarap semua. Bersama delapan kawannya, dalam sehari bisa empat hingga lima kuintal kacang kedelai diproduksi menjadi tahu yang bebas pengawet.
βSama bos yang lama dulu kita digaji harian, tapi karena sering nggak keurus jadi diambil alih sama bos baru ini. Kalau bos yang baru ini enak gajinya bisa bulanan, bisa harian. Bos yang ini juga ikutan kerja bareng kita soalnya dia dulunya juga buruh pabrik tahu,β kata Pak Nur.
Tak kunjung mendapat pekerjaan dan berlabuh menjadi pekerja pabrik tahu membuat Pak Nur baru menikah di usia 36. Itu pun dirinya masih belum berani untuk tinggal menyewa rumah kontrakan.
βSaya sama istri tinggal di sini saja, di pabrik tahu pasti kan disiapin kamar-kamar buat buruh di lantai atas. Sementara tidak apa-apa tinggal sama-sama di sini, toh istri saya juga tidak mau ditinggal di kampung. Kalau ngontrak rumah saya masih belum berani karena penghasilan tidak seberapa,β sebut Pak Nur.
Untuk sebulan bekerja, Pak Nur menerima upah sebesar Rp 1.500.000 yang sebagian dia tabung untuk persiapan mencari pekerjaan lain. Meski terdengar sangat kurang untuk standard gaji di kota besar, tapi upah segitu sudah menjadi barang lumrah di dunia pabrik tahu.
βSaya sih pinginnya sebentar lagi dapat pekerjaan lain, karena kan kalau pabrik tahu lama-lama tenaga saya habis. Kerja di pabrik tahu itu berat sekali. Tapi saya tidak sama seperti orang-orang lain yang pengetahuannya luas. Saya tidak tahu apa-apa kecuali kerja di pabrik tahu,β tutur dia.
βSebenarnya cita-cita ini kepengennya jadi guru, tapi apa boleh buat. Saya cuma lulusan SMA,β ucap Pak Nur.
Waktu istirahat itu pun dimanfaatkan Pak Nur untuk mandi dan merenggangkan otot. Maklum saja selain perlu tanga besar, suasana di dalam pabrik tahu sangat panas karena harus diuapi hingga mencapai rasa yang didambakan. Meski itu bukan berarti dambaan Pak Nur untuk menjadi guru bisa tercapai dengan kerja keras bersama mesin uap.
(bpn/trq)











































