Suatu siang yang panas terik menyengat kulit sebuah kopor berisi alat cukur bertengger di pagar Gereja. Alat-alat itu nampak terlihat sudah lama tapi berbahan stainless steel sehingga tak berkarat.
Datang kemudian seorang pelanggan yang langsung duduk pada kursi yang ada setelah memberi kode kepada sorang pria paruh baya di dekat kopor itu. Pria paruh baya itu bernama Hasanudin (55) seorang tukang pangkas rambut yang sudah berpengalaman puluhan tahun.
βSaya mulai nyukur itu dari kecil, umur sepuluh apa lima belas saya lupa. Pokoknya saya cuma sekolah sampai kelas 4 SD habis itu kerja nyari duit,β kata Pak Hasan di Jl Urip Sumoharjo, Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (16/5/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tanpa contoh model rambut, Hasan langsung menyukur sesuai dengan pesanan ataupun sesuai yang dirasa cocok oleh dia. Guntingan perlahan tapi pasti menjadi ciri khas Hasan ketika mencukur rambut pelanggan.
βPertamanya saya ikut-ikutan jualan sayur di pasar. Nggak betah, habis itu diajakin jual martabak. Cuma dua tahun saya capek jualan martabak karena kurang tidur. Akhirnya paman saya yang saya panggil βMamangβ, ngajak saya buat nyukur rambut di kios pasar Jatinegara. Dia bilang kalau saya ada bakat keturunan soalnya kakek saya juga tukang cukur,β papar Pak Hasan.
Tak butuh waktu lama bagi Pak Hasan ketika mencukur pelanggan yang rata-rata pria. Paling lama lima belas menit, para pelanggan yang kebanyakan dari kelas menengah ke bawah itu merasa segar kembali.
βDi kios itu ada kali hampir tiga puluh tahun saya nyukur. Tapi habis itu abis reformasi kiosnya dijual sama Mamang saya itu. Akhirnya saya coba jadi tukang cukur keliling deh. Pertama saya ngider (keliling) saya nyukur di Kayumanis, Cipinang, Kampung Pulo, Bendungan,β kata Pak Hasan yang sudah hampir rampung mencukur rambut pelanggannya.
βKalau keliling itu bisa samperin pelanggan langsung jadi lebih cepat nyari pelanggannya kalau kita rajin. Tapi capek juga kalau keliling terus, akhirnya saya dapat tempat di sini. Kebetulan dekat kompleks tentara jadi banyak pelanggan,β imbuh Pak Hasan.
Gereja Koinonia menjadi tempat yang bersedia menampung dia membuka lapak cukur. Dari kebaikan hati itu Pak Hasan pun dapat menghidupi istri dan kedelapan anaknya.
βSekarang saya punya cucu empat, tapi saya masih merasa punya tenaga untuk mencukur. Anak saya yang terakhir kembar itu masih SMP soalnya,β kata dia.
Dalam sehari Pak Hasan melayani empat hingga lima pelanggan. Dengan menetapkan tarif Rp 10.000 sekali potong, seringkali Pak Hasan hanya dibayar Rp 8.000 oleh pelanggan.
βTapi tentara yang pangkatnya tinggi-tinggi itu, jenderal-jenderalnya mungkin itu biasanya manggil saya ke rumahnya di kompleks itu. Kalau dipanggil ke rumah biasanya ada uang lebihan atau dikasih kopi,β sebut Pak Hasan.
Selesailah sudah Pak Hasan mencukur seorang sopir pribadi seseorang. Biaya Rp 10.000 kontan diterimanya dan sopir itu langsung menjemput majikan dengan wajah baru ke tempat belanja.
Masih ada waktu lama hingga pukul 17.00 WIB sore nanti. Sejak mangkal pukul 08.00 WIB, Pak Hasan yang tinggal di Bogor ini baru dapat dua pelanggan.
βKalau dapat pelanggan banyak ya pulang ke Bogor. Tapi kalau cuma sedikit ya tidur di situ saja, di Kantor Pos dekat puskesmas Jatinegara sama teman-teman yang lain,β ucap Pak Hasan si tukang cukur βDPRβ alias 'Di bawah Pohon Rindang'.
(bpn/trq)











































