Sebuah gubuk reyot terdiam di sudut Jl Kalibaru Timur II, Cilincing, Jakarta Utara. Nampak seolah tak berubah sejak 40 tahun silam kala pertama kali berdiri di situ.
Seorang pemuda bernama Kadis (28) sepertinya hendak berangkat ke suatu tempat, mencari nafkah untuk hidup. Bersama Nenek Kasturi (72) sang ibunda yang ia cintai, Kadis berharap pemerintah mendatang dapat lebih perhatian.
“Saya sih inginnya memilih sosok yang perhatian sama masyarakat. Sosok yang tidak ekslusif, dekat dengan rakyat jadi lebih mudah kalau mau kasih pendapat,” sebut Kadis sambil bersiap untuk berangkat kerja dari gubuk tempat tinggal dia dan ibunya Rabu siang (14/5/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak ayahnya mengalami luka bakar dan lumpuh empat tahun silam, Kadis bekerja sebagai petugas kebersihan di salah satu pusat perbelanjaan. Uang hasil bekerja itu digunakan untuk menghidupi kedua orang tuanya dan sebagian disisihkan untuk biaya pengobatan ayahnya.
“Sejak dulu keluarga kita tidak pernah yang namanya dapat bantuan apa pun. Baru sekarang ini baru mau ngurus buat KJS. Tadinya saya mikirnya kalau semua bantuan pemerintah itu ngurusnya susah, tapi katanya yang KJS ini asal punya KTP bisa diurus,” imbuh Kadis.
Akan lebih tenang dirinya bekerja apabila nantinya kesehatan sang ibunda yang sudah berumur senja itu dijamin oleh pemerintah. Setidaknya ada kebijakan pemerintah yang akan langsung dia rasakan.
“Dari dulu saya pilih banteng (PDIP). Soalnya menurut saya itu yang paling perhatian soal rakyat kecil,” ucap Kadis.
Berpikir matang ketika menjalani pekerjaan, agaknya Kadis pun sedikit terpikir untuk memperbaiki kualitas hidup. Minimal dia ingin memperbaiki rumah agar ibunda nyaman ketika tidur.
“Pengen juga saya ketika nanti Presiden kita ganti yang baru itu ada banyak lapangan kerja. Lebih luas lagi, kalau perlu kesempatan kerja buat tamatan SMA seperti saya juga terjamin. Menurut saya kalau berpasangan dengan JK (Jusuf Kalla) sepertinya hal itu semakin mungkin. Pasti lapangan kerja terbuka lebar,” harap Kadis.
Sebentar dia merapikan kayu bakar yang biasa digunakan untuk masak, kayu bekas sisa bangunan. Sisa-sisa makanan tempat dia bekerja sebagai petugas kebersihan pun diletakan di sudut gubuk sehingga kucing-kucing kampung dapat menyantapnya.
Setelah persiapan berangkat rampung dia lakukan, dia kemudian mengeluarkan sebuah motor yang baru saja diajukan ke perkreditan. Motor yang akhirnya dapat dia nikmati setelah bekerja 4 tahun.
Mencium hangat tangan ibunda seraya meminta doa restu, Kadis kemudian berangkat kerja. Sebuah pekerjaan yang seringkali dipandang rendah oleh orang kebanyakan, tetapi oleh Kadis dapat menjadi buah manis untuk orang tua tercinta.
(bpn/trq)











































