Kampung Senen yang padat penduduk itu tersembunyi di antara gedung-gedung bertingkat yang bertumbuhan di pusat Jakarta. Berkerumun sebagai satu kesatuan warga Kampung Senen, tak ada keinginan untuk saling serang meski perbedaan pasti ada.
Salah seorang pemimpin yang dihormati adalah Ketua RT 15/RW 04 bernama Sanadji (72). Sang pemimpin itu pun berkisah tentang pengalaman politik yang pernah dia terjun ke dalamnya bersama Partai Golkar.
βDulu saya menjabat sebagai Kordinator Cabang di Golkar. Waktu itu masih zaman Pak Harto yang megang Golkar,β kata RT Sanadji dalam sebuah rumah ukuran 3 x 2,5 meter persegi di Jl Pasar Senen Dalam, Jakarta Pusat, Selasa (13/5/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βKalau sekarang semua-semua diukur dengan uang. Semua ada mahar. Beda dengan dulu kalau yang namanya simpatisan ya sudah pasti sukarela,β tutur RT Sanadji.
Sebagai seorang kordinator cabang, RT Sanadji pun turut berperan dalam merekrut massa kampanye untuk Golkar. Tak perlu dia iming-imingi dengan nasi bungkus, ratusan massa berhasil dia kumpulkan.
βKalau dulu nggak ada yang namanya ikutan kampanye itu dibayar. Paling-paling cuma dikasih lontong sama air minum diplastikin biar nggak pingsan pas lagi di lapangan. Kagak pakai nasi bungkus lah,β kata RT Sanadji.
Tak ada pula yang namanya bagi-bagi kaos partai kata RT Sanadji. Semua atribut dibeli atas keinginan sendiri tanpa diminta.
βPadahal kalau kampanye nggak pernah tuh Pak Harto datang. Paling-paling yang datang cuma Pak Harmoko doang. Tapi semua-semua pada teriaknya βPak Hartoβ begitu kalau kampanye,β ucap RT Sanadji.
Pemimpin itu memang soal bagaimana dia memimpin, bukan bagaimana dia muncul. Agaknya percuma bagi RT Sanadji bila hanya omong kosong di kampanye sementara tak pernah melakukan apapun untuk masyarakat.
βDulu kebanyakan orang milih Golkar soalnya tahu kalau Presidennya yang jadi pasti Pak Harto dan sudah tahu rasanya dipimpin Pak Harto yang apa-apa murah. Jadi nggak perlu datang kampanye juga orang sudah tahu Pak Harto gimana. Orang kecil seperti kita-kita ini kan yang dipikirin cuma harga murah saja, kalau soal politik yang berat-berat kita nggak tahu,β sebut RT Sanadji.
(bpn/trq)











































