Ini Kisah Sanadji, 'Presiden' Kerempeng Kampung Senen Sejak 1977

Wong Cilik

Ini Kisah Sanadji, 'Presiden' Kerempeng Kampung Senen Sejak 1977

- detikNews
Jumat, 16 Mei 2014 09:54 WIB
Ini Kisah Sanadji, Presiden Kerempeng Kampung Senen Sejak 1977
Jakarta -

Gedung-gedung nampak menjulang tinggi di pusat kota Jakarta. Hiruk pikuk Pasar Senen ikut andil dalam padatnya suasana Ibu kota di siang hari.

Terselubung di antara keramaian itu sebuah kampung yang tak kalah padat. Kampung Senen namanya dan seorang pria kerempeng bernama Sanadji (72) telah menjabat sebagai Ketua RT 15 RW 04 di sana.

β€œSaya dipilih masyarakat untuk menjadi Ketua RT. Saya tidak tahu kenapa saya dipilih lagi, tapi saya jadi Ketua RT dari tahun 1977,” kata RT Sanadji di rumah dia yang ukurannya 3 x 2,5 meter persegi di Jl Pasar Senen Dalam, Jakarta Pusat, Selasa (13/5/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sudah jelas Sanadji terpilih bukan karena kepemilikan aset, karena tanah saja dia masih menumpang untuk tinggal. Beruntung dua tahun lalu ada bantuan dari pemerintah daerah yang mengganti dinding tripleks RT Sanadji menjadi batako.

β€œSudah ada 20-30 tahun saya tinggal di tempat ini. Awalnya ini tempat tinggal Mpok saya, tapi karena kasihan sama saya yang tidak pernah punya rumah jadinya dikasihkan ke saya. Ukurannya kecil jadinya harus ditingkat tiga biar muat nampung tujuh orang,” kata RT Sanadji.

Nampak tumpukan baju-baju yang belum diseterika berserakan di ruangan paling bawah. Sebuah televisi tabung, rak piring, galon air mineral, dan foto-foto keluarga tumplek bleg jadi satu di ruangan yang tak ubahnya seperti sebuah indekost.

Begitu masuk dari pintu depan, langsung menemui kamar mandi tanpa bak di sebelah kiri. Sementara di tingkat dua dan tiga ditempati cucu dan cicit yang semua berjumlah enam orang.

β€œSaya tidak punya apa-apa. Punya warung minuman saja sudah hancur karena kayunya lapuk, jadi belum buka lagi. Cucu saya yang laki-laki kerja jadi buruh pabrik,” kata bapak kelahiran tahun 1942 itu.

Tapi kesangatsederhanaan itu tak lantas membuat RT Sanadji lupa akan tugas yang dia emban sebagai β€˜Presiden’ di lingkup bertetangga. Setiap hari dia berkeliling lingkungan RT 15 sekedar untuk ingin tahu apa kebutuhan masyarakat.

β€œSemua saran dan kritikan saya terima dari masyarakat. Banyak masukan-masukan semua saya tampung. Kalau butuh mengurus surat-surat juga saya bantu sampai ke kelurahan. Setahun ini saja sudah berapa ratus surat pengantar yang saya keluarkan. Semua saya lakukan biar masyarakat tidak kesusahan,” tutur RT Sanadji.

β€œWarga saya ngomelin saya boleh tapi saya nggak akan ngomelin warga. Kalau saya jiwanya begitu. Kita harus ini dong apakah memang benar saya begitu? Saya nggak mau ribut sama orang. Saya diributin mau tapi saya nggak mau ribut,” imbuh dia kemudian.

Sebuah suasana harmonis berusaha dia bangun pada Kampung Senen yang padat penduduk itu. Segala permasalahan sebisa mungkin dia gunakan jalan musyawarah yang mencapai mufakat.

β€œBiasanya dikumpulkan warga di tempat bisa berkumpul. Misalnya saja di musala itu kan luas dalamnya,” sebut RT Sanadji.

Tak heran pengabdian dia sejak dahulu berbuah sederet penghargaan dari pemerintah daerah. Piagam Santiaji pun sukses dia koleksi atas keberhasilan dia menciptakan lingkungan yang kondusif.

Β 

(bpn/trq)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads