Abah Aca yang Merindukan Pohon Kapuk Bersemi Kembali Usai Pilpres

Wong Cilik

Abah Aca yang Merindukan Pohon Kapuk Bersemi Kembali Usai Pilpres

- detikNews
Rabu, 14 Mei 2014 17:50 WIB
Abah Aca yang Merindukan Pohon Kapuk Bersemi Kembali Usai Pilpres
Jakarta -

Sore hari itu cukup basah setelah hujan mengguyur cukup besar. Ketika pedagang-pedagang yang punya kios masih bisa melanjutkan kesibukan, penjual keliling hanya bisa berteduh.

Lain lagi cerita Abah Aca (65) yang berjualan kapuk keliling naik sepeda tua. Apa jadinya kapuk kalau basah? Abah Aca pun memilih untuk bergegas pulang sebelum seluruh kapuk yang dia bawa benar-benar basah.

β€œSekarang kapuk susah dicari, kalau rusak atau habis harus pesan dulu ke Jawa Tengah. Pohon kapuknya di Jakarta sudah jarang. Pada ditebangin buat bikin rumah tanahnya,” kata Abah Aca ketika beristirahat di rumah dia yang terletak di sebuah gang Jl AMD, Pertukangan Utara, Jakarta Selatan, Senin (12/5/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Abah Aca pun resah ketika harus bersaing dengan barang-barang import yang menggerus nafas produk lokal. Ketika barang import sangat erat dengan teknologi baru dan seperti difasilitasi peredarannya, produk lokal seperti komoditas Abah Aca ditinggalkan sendirian terpinggirkan.

β€œOrang sekarang jarang ada yang mau pakai kapuk. Paling-paling maunya pakai busa sama dekron yang semua itu kebanyakan import. Produk-produk import itu sebenarnya yang mematikan usaha lokal seperti saya ini. Pedagang lokal kecil seperti saya merasa tidak diperhatikan,” sebut Abah Aca.

Sedari pagi mengitari jalanan perbatasan ibukota pun belum satu jua kapuk yang berhasil dijual Abah Aca. Masih belum ada harapan hari ini untuk menbeli makanan.

β€œKalau saja pemerintah itu melindungi usaha lokal, pasti kapuk juga akan tetap laku sampai sekarang. Saya juga sebelum jualan kapuk kan tani. Di tani juga gara-gara kebanyakan import jadi susah buat lakunya. Paling-paling sekarang bertani itu cuma buat kebutuhan makan sendiri saja,” ucap Abah.

Dalam setahun Abah Aca hanya panen sebanyak dua kali. Itu pun seringkali mengalami puso sehingga hanya bisa memanen tak lebih dari dua karung dalam satu periode.

Ketika puso melanda maka banyak padi kopong bertumbuhan merajalela. Hanya bisa tertunduk dan menggeleng, padi seadanya pun disulap jadi beras.

β€œKalau sudah jadi beras itu paling-paling tahan cuma dua bulan. Tapi kalau masih padi bisa tahan lama. Saya nggak punya lumbung sih, jadi nggak bisa nyimpan padi. Tapi kalau puso ya nggak bisa disimpan,” tutur Abah Aca.

Sebenarnya ada subsidi pupuk bagi petani seperti Abah Aca, tapi birokrasi yang rumit menghalangi langkah Abah Aca untuk mendapat subsidi itu. Jadilah Abah Aca memilih untuk membeli sendiri yang harganya selangit.

β€œSemua-semua diimport sih. Jadinya mahal. Semoga nanti kalau ganti Presiden semua bisa lancar lagi usaha kita. Pohon-pohon dibanyakin lagi, pupuk-pupuk dibikin murah,” tutur Abah Aca.

Sembari membayangkan duduk di bawah pohon kapuk randu, Abah Aca mengibaskan handuk sambil matanya sayup-sayup. Pohon kapuk randu yang teduh itu sangat indah ketika sedang bermekaran dan berjatuhan. Jika negeri Jepang punya sakura, seharusnya negeri kita punya kapuk randu.

(bpn/trq)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads