Balada Pak Harto yang Jadi Tukang Gali Sejak Zaman Soeharto

Balada Pak Harto yang Jadi Tukang Gali Sejak Zaman Soeharto

- detikNews
Senin, 12 Mei 2014 10:48 WIB
Balada Pak Harto yang Jadi Tukang Gali Sejak Zaman Soeharto
Jakarta -

Sebuah siang nan elok menjelang akhir pekan memanggil orang-orang sibuk segera menunaikan tugas. Sibuk, seringkali jadi alasan orang-orang untuk abai dengan sekeliling.

Duduk termenung di tepi jalanan, seorang dengan caping melayang dalam lamunan. Tangan besar dengan otot menonjol, Pak Harto (60) menolak jika disebut pengemis.

β€œSudah ada bangsa dua puluh tahunan saya jadi tukang gali seperti ini. Tidak tentu sehari dapat pesanan gali atau tidak. Setiap hari keliling saja nyari yang mau manggil, atau duduk di pinggir jalan,” ujar Pak Harto di tepian Jl Khairil Anwar, Kreo, Tangerang, Jumat (9/5/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebuah cangkul dan serokan bambu yang sedari tadi melekat di dekatnya itu sepertinya sudah tak basah lagi. Tanah-tanah yang menempel terlihat kering, seperti sudah lama sekali Pak Harto tidak mendapat panggilan menggali.

β€œSeminggu ya kadang cuma empat kali. Itu sudah untung kalau bisa segitu. Sekali kerja juga tidak nentu dapatnya berapa. Kadang ada yang kasih Rp 100.000, ada yang kurang. Tergantung jenis pekerjaannya juga,” imbuh Pak Harto seraya menghela nafas panjang.

Masih harus dia sebentar lagi mengirimi uang untuk keluarga di kampung halaman. Anak keduanya yang masih duduk di bangku SD tentu masih terpenuhi gizi dan pendidikannya.

Dari masa ke masa tak banyak perubahan dirasakan oleh Pak Harto. Hanya kenaikan harga satu-satunya perubahan yang dirasakan oleh Pak Harto.

β€œSaya sih dari dulu gini-gini saja. Orang bilang zaman orde baru enak, tapi saya zaman itu juga begini-begini saja kok. Nggak tahu nanti ke depannya gimana. Saya sih yang penting menunggu rezeki datang saja,” ungkap Pak Harto.

Menyapukan pandangan ke sekeliling, barangkali ada orang yang membutuhkan jasa Pak Harto. Barangkali mungkin sebuah rumah yang sedang direnovasi di ujung jalan itu mau memanggil Pak Harto.

Mungkin memang rembulan tak layak dirindukan kumbang, rezeki pun lebih suka dijemput ketimbang ditunggu. Hanya saja rasa lelah berjalan sejak pagi terasa menghalangi Pak Harto untuk sekedar menanyakan ke ujung jalan.

(bpn/trq)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads