Menepi dari kebisingan jalan raya, di sebidang tanah nan luas tinggal koloni penarik delman. Di antara gunungan sampah botol plastik yang membumbung tinggi menghiasi sepanjang jalan setapak menuju perkampungan kecil di Jl Palem VIII, Kelurahan Petukangan Utara, Kecamatan Pesanggerahan, Jakarta Selatan, suara saling sahut berbagai hewan ternak nyaring terdengar memecah sepi.
Terlihat rumah petak berjejer dengan sejumlah kereta delman terparkir di depannya. Dari sekian banyak rumah kecil, tinggal seorang pria tirus mengenakan peci putih dan bersarung tengah menatap pekarangannya yang dihiasi kereta-kereta delman.
Pria yang diketahui bernama Hadi Sungsoro berbagi kisah seputar kehidupannya di dalam salah satu sudut ruang rumahnya yang lengang. Hidup berdua bersama sang isteri yang senantiasa menemani hari-harinya, Hadi menekuni usahanya sebagai Pak Kusir. Lebih dari setengah abad dia menikmati perannya sebagai penarik kereta kuda di atas tanah Betawi ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hadi memiliki sebuah kandang luas yang menaungi berbagai hewan ternak kesayangannya di depan rumah. Tampak 4 ekor kuda berjejer rapi sedang mengnyah makanannya sambil menggoyangkan ekornya dengan lincah. Di samping sekat-sekat kuda, terdapat pula sekat kandang sapi. Ada 4 sapi besar dan gemuk menghuni bagian itu dengan sesekali mengeluarkan suara 'Moooo' panjang.
"Dua diantaranya kuda milik saya, namanya Gatot sama Untung," kata ayah dari enam orang anak ini.
Hadi pun menjelaskan, nama Gatot diberikan untuk kuda bertotol hitam-putih itu karena kuda itu gagah tapi bentot (gemuk). Sedangkan kuda cokelat yang tak kalah gagahnya dia beri nama Untung. Hal ini dikarenakan si kuda senantiasa mendatangkan keuntungan baginya setiap kali menarik delman.
Hadi mengaku pertama kali jatuh cinta dengan dunia delman di tahun 1969. Alasannya bukan ingin dibilang gagah bak pahlawan bertopeng saat menunggang kuda, tetapi ia merasa delman sudah menjadi bagian dari belahan jiwanya.
"Selesai sekolah, walaupun nggak tamat cuma sampai kelas 4 SD itu langsung jatuh cinta sama delman. Nggak pernah terpikir usaha yang lain, nggak pernah. Dari awal itu selain nyari kesenangan ya nyari hasil gitu. Sudah hobi sama berkuda. Sudah tak dapat terpisahkan lagi," lanjutnya penuh senyum.
Meski hidup pas-pasan di bawah rumah yang sangat sederhana, Hadi tak pernah berhenti mengucap syukur. Di atas sajadah panjangnya, pria berusia 64 tahun yang hanya menamatkan pendidikannya sampai tingkat SD ini melantunkan doa agar diberi kesempatan menghabiskan sisa harinya berlimpah kenikmatan.
"Sudah tua begini apa lagi yang mau saya cari. Kita nikmatinnya usaha demi masa depannya agar kita bisa menikmati hidup. Yang penting disyukuri segala sesuatunya. Dapat sedikit ya merasa cukup, nah pas dapat banyak ya merasa alhamdulillah. Nggak pernah keluh-kesah atau nyesel gitu nggak. Nggak mikirin. Kalau cukup sehari-harinya saja sudah senang," kata Hadi tenang.
Bicara soal siapa pemimpin negeri masa depan yang dapat memenuhi asanya, dia mengaku belum memiliki pilihan yang sreg. Tanpa mau membayangkan sosok presiden kelak, Hadi hanya meletakkan sepucuk harapannya.
"Nggak mikir pokoknya. Soal pimpinan siapa itu nggak mikir. Siapa saja yang penting diikuti (dihormati). Yang penting, bisa mimpin rakyat, aman, maju negaranya, bebas korupsi dan masyarakat jangan sampai terlantar," ujarnya.
Di balik asanya itu, Hadi juga menyimpan harapan untuk nasib delman yang semakin tergerus zaman. Tak ingin lenyap begitu saja dari bagian sejarah, pria berambut putih ini ingin pemerintah selanjutnya dapat terus melestarikan keberadaan kereta delman.
"Inginnya sih dilestarikan jangan sampai dibubarkan. Percaya atau tidak, setinggi-tingginya pendidikan anak tukang delman pasti ada satu atau dua yang mengikuti jejak ayahnya sebagai penarik delman. Jadi ingginya jangan sampai bubar, sebaliknya harus terus dilestarikan karena ini kendaraan tradisional," tutupnya.
(trq/trq)











































