Siapa saja tentu berhak memiliki mimpi meski hasta tak kuasa meraih asa. Bagi seorang pemulung sampah yang meniti 'karier' sejak 20 tahun silam seperti Pak Mumun (69), perantara pemimpin sangat berperan dalam menggapai itu.
Hidup sebagai seorang pemulung yang hanya diupah jauh dari standard kelayakan, Pak Mumun masih harus membiayai pengobatan istri yang sakit keras. Jauh dalam hati kecil Pak Mumun yang tak punya KTP untuk ikut memilih di Pemilu, dirinya sudah mengincar seorang pemimpin yang mungkin akan menangkap mimpinya yang terbang tinggi.
βKalau saya sih maunya memilih yang sudah kerja keras seperti Pak Jokowi. Dia itu yang sudah grusak-grusuk mendatangi rakyatnya. Tapi kalau pilihan Presiden itu kan nanti banyak orang yang memilih. Pendapat pribadi seperti punya saya tadi belum tentu sama dengan orang-orang lain,β tutur Pak Mumun di bawah atap seng permukiman pemulung di Jl Damai Raya, Cipete Utara, Jakarta Selatan, Senin (5/5/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menapaki usia senja membuat Pak Mumun tak selincah dahulu kala ketika masih muda. Sudah tak lagi dirinya mampu berkeliling jauh untuk mencari sampah yang sekiranya laku dijual.
βYa kalau harapan saya sih semoga nantinya lapangan kerja dibuka seluas-luasnya, biar anak-anak muda bisa kerja yang lebih baik. Semoga pemimpin yang akan datang nantinya juga bisa mengerti apa kebutuhan rakyat. Pemimpin itu harus turun ke bawah, jangan cuman denger doang jadi bisa buktikan kalau betul betul banyak yang nggak mampu atau banyak yang pengangguran,β kata Pak Mumun.
Ada kalanya juga pemimpin harus bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi orang kecil. Ketika itu terjadi maka hukum bisa menjadi pedang keadilan bermata dua, jadi bukan hanya tajam ke bawah saja.
βAkhirnya itu yang membikin suasana nggak nyaman. Kalau lapangan kerja kurang kan akhirnya kriminalitas yang ada,β imbuh Pak Mumun.
βSiapapun yang jadi harus bisa ayomi masyarakat. Harapan saya sih ya ke depan yang akan datang supaya masyarakat bisa diayomin kalau ada kerjaan ya dikasih kesempatan. Orang orang yang susah ya harus dikasih kerjaan,β lanjut Pak Mumun.
Soal pendamping Jokowi, pria yang mengharapkan kesejahteraan masyarakat ini tertuju pada sejumlah nama. Untuk sosok tegas menurut dia Prabowo layak mendampingi, tapi dia juga sangsi bila Prabowo bersedia.
βTapi kalau yang sudah pengalaman mungkin JK ya? Dia kan pernah jadi wapres juga, kalau Pak JK bersedia sih pasti cocok sekali. Tapi apa mau dia? Kan sudah pernah jadi wapres,β sebut dirinya.
Teringat kemudian Pak Mumun pernah bertemu Jokowi kala banjir menerpa dekat pemukiman dia. Kala itu Jokowi tengah meninjau lokasi terdampak banjir dan dikerubungi warga yang ingin salaman.
βTapi saya malu ah mau ikutan salaman. Saya kan orang kecil. Kerjaan juga mulungin sampah, tangan saya kotor waktu itu. Padahal bajir sudah lumayan dari tahun sebelumnya sedada, sekarang paling cuma sepaha,β kata Pak Mumun ketika menyudahi pemilahan botol bekas.
(bpn/trq)










































