Bermodal tangan yang sedikit sudah gemetaran dan niat yang selalu bulat, Kakek Abbas tak berhenti mematri kaleng tua. Ketika bara api dari alat patri menyala, ketika itu pula Kakek Abbas menyebut nama seorang pemimpin yang memiliki semangat untuk masyarakat.
"Yang kayaknya menang itu ya Pak Jokowi. Katanya memang dia yang unggul begitu, tapi memang kelihatannya dia yang bagus," tutur Kakek Abbas saat berteduh dari hujan di kediamannya yang tak ubahnya sebuah gubuk tak bertelevisi maupun radio di bilangan Tegalparang, Jakarta Selatan, Jumat (2/5/2014).
Rintikan hujan dan aroma khas ketika menyentuh tanah mengingatkan dia akan kampung halaman yang menenteramkan hati. Alangkah damainya bila pekerjaan pun mudah didapat di kampung halaman.
"Saya ke Jakarta ini kan untuk mencari nafkah untuk istri dan anak-anak saya, karena di kampung saya sulit mencari pekerjaan. Sawah saya tidak punya," kata Kakek Abbas kemudian.
Sejenak dia memandangi langit kelabu yang menurunkan hujan, dalam lamunan itu dia teringat akan sosok yang sering menghampiri masyarakat dengan ramah. Sosok yang menurut dia mungkin bisa menunaikan harap yang dia panjatkan ke Sang Khalik.
"Mungkin kalau Jokowi itu mau blusukan ke kampung saya, nanti bisa ketahuan bagaimana permasalahan di kampung saya itu di Tasik. Mungkin nanti kalau dia jadi Presiden baru bisa blusukan ke tempat saya. Kalau sekarang sih cuman Gubernur Jakarta jabatannya, jadi nggak bisa ke kampung saya, ke kampung yang lain," ucap Kakek Abbas.
Bagi Kakek Abbas belum pernah ada Gubernur yang mau menyambangi rakyatnya tanpa harus repot-repot menyiapkan penjagaan protokoler yang tetek bengek itu. Pun Kakek Abbas belum pernah sekadar mendengar Gubernur Jawa Barat tempat kampungnya terletak itu mampir ke situ.
"Saya malah lebih kenal Dede Yusuf ketimbang Gubernur yang sekarang ini, Pak Aher ya namanya? Kalau Pak Dede Yusuf dulu seringnya ninjau sekolahan, kalau Pak Aher saya belum tahu tuh. Mungkin dia baru ya? Makanya belum terkenal seperti Jokowi di Jakarta sini. Padahal mah kalau Gubernur Jawa Barat kayak Jokowi mungkin mau betulin jalanan di kampung saya, biar ke mana-mana gampang," kata Kakek Abbas.
Pada dinding dari kardus yang membungkus gubuk Kakek Abbas terdapat sebuah bendera PPP bersandar. Membentang memanjang, rupanya Kakek Abbas pun seorang simpatisan partai berlambang Ka'bah itu.
"Saya dari dulu pilih PPP, kemarin juga pilih PPP. Tapi kalau pilpres besok maunya pilih Jokowi biar jadi Presiden RI. Saya ini anti golput, menurut saya memilih itu wajib meskipun harus mengumpulkan uang berminggu-minggu buat pulang kampung dulu nyoblos di sana," ungkap Kakek Abbas yang sehari-hari bekerja sebagai tukang patri keliling itu.
Hujan berangsur reda hingga rintikannya nyaris tidak terdengar lagi. Tibalah saat Kakek Abbas harus menyiapkan peralatan patri untuk kembali berkeliling mencari pelanggan yang mungkin hampir punah ditelan kemajuan teknologi.
Tapi biar bagaimana juga Kakek Abbas yang sudah di usia sangat senja itu mungkin tak sempat lagi mencari pekerjaan lain. Hanya kemampuan mematri yang dia punya, meski harapan setinggi awan putih di atas sana yang berarak mulai mengusir yang kelabu.
"Saya sih berharap Jokowi jadi Presiden bukan buat saya sendiri, tapi buat warga kampung-kampung lain biar juga didatangi Jokowi," ucap Kakek Abbas menutup waktu rehat yang singkat kala hujan reda.
(bpn/rmd)











































