Mesin-mesin pengangkut manusia berbaris sepanjang Jl TB Simatupang, Pasar Rebo, Jakarta Timur, seperti biasanya. Acuh tak acuh terhadap pengendara lain, mereka seolah sedang berjalan di halaman rumah sendiri.
Petugas berbadan besar pun mungkin akan kesulitan mengatur sebuah perempatan yang mana lampu lalu lintasnya hanya menyalakan warna kuning saja. Bila petugas berbadan besar mungkin tak dihiraukan oleh pengguna jalan, tapi kelihatannya tidak bagi seorang Jumadi (58) yang bertubuh mini.
βSaya berangkat ke sini untuk mengatur lalu lintas dari jam tujuh pagi, nanti pulang jam lima sore. Setiap hari begitu saja. Setiap siang ya tidak makan, terusan kerja pokoknya,β kata Jumadi menggunakan Bahasa Jawa di ruas jalan yang mengarah dari Pasar Minggu, Senin (28/4/2014) siang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βPertamanya saya tinggal di Kampung Gedong, tapi karena orangnya reseh-reseh, jadi saya pindah ke wilayah sini. Di sini juga ngontrak juga,β kata Jumadi.
βDi sini sekarang saya tinggal sama anak dan cucu-cucu saya. Anak saya yang perempuan tinggal sama saya sendiri, yang laki-laki tinggal di kampung sana. Cucu saya semuanya empat, dua di sini dan dua di sana,β imbuh Jumadi.
Sebenarnya Jumadi beristri dua, namun istri pertama dia telah lama meninggal dunia di Demak. Sedangkan istri yang kedua, yang dinikahi di Jakarta, telah bercerai dengan dirinya.
βLalu dia minta rujuk lagi, tapi syaratnya dia mau minta sawah keluarga saya di kampung. Saya tidak mau lah, itu sawah keluarga. Jadi saya putuskan saja,β ucap Jumadi.
Hasil jerih payah dia sehari kemudian digunakan untuk sekadar memberi makan seisi rumah, termasuk salah satu cucunya yang masih balita. Tak tega dia bila harus berdiam diri di rumah dan membiarkan sang anak memeras keringat.
βAnak saya yang di sini yang perempuan, kalau suaminya kerja di tempat Ibunya di sana jadi agen di toko-toko. Penghasilannya nggak seberapa banyak, pokoknya saya kasih jatah ke anak itu sekitar Rp 25.000 sehari buat belanja macam-macam,β kata Jumadi.
Penghasilan Jumadi sebagai seorang pengatur lalu lintas βswastaβ pun tak seberapa besar. Tapi memang tak ada lagi pekerjaan lain yang mau menerima pekerja seperti Jumadi dengan tinggi badan tak lebih tinggi daripada sepeda motor.
βSehari antara Rp 150.000 atau Rp 100.000, tergantung ramai atau tidak. Sebagian saya kasih ke anak buat beli makanan segala macam, sisanya saya simpan buat yang di kampung,β ungkap ayah pekerja keras itu.
(bpn/trq)











































