Ketika Keluarga Kecil yang Tinggal di Rel Berjuang untuk Kesehatan Anak

Wong Cilik

Ketika Keluarga Kecil yang Tinggal di Rel Berjuang untuk Kesehatan Anak

- detikNews
Rabu, 23 Apr 2014 14:37 WIB
Ketika Keluarga Kecil yang Tinggal di Rel Berjuang untuk Kesehatan Anak
Jakarta - Tak ada yang menginginkan hidup di bantaran rel dengan sebuah gubuk berukuran 1x1,5 meter persegi. Apalagi jika telah memiliki keluarga. Namun kehidupan itu dijalani Rustam (28) dengan suka dan duka. Ia menerima hidup yang ia miliki dengan mensyukurinya dan berusaha untuk keluar dari ketidakpastian penggusuran dan masalah lainnya.

Seperti yang terjadi pada awal tahun 2014 ini, anak bungsu Rustam, Adam (4), harus berjuang melawan TBC. Di tengah kondisi keuangan keluarganya yang hanya cukup untuk makan sehari-hari, Rustam berpikir keras bagaimana caranya supaya sang buah hati bisa ceria kembali.

"Katanya punya ini (KJS) itu gratis. Obatnya sih gratis, ya ongkosnya nggak gratis bolak balik," ujar Rustam di gubuk kecilnya di kawasan Tanah Tinggi, Senen, Jakarta Pusat, Minggu (20/4/2014) lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika membawa anaknya itu ke sebuah rumah sakit di Jakarta Pusat, Rustam bertemu seorang dokter. Sang dokter mengomeli Rustam karena Adam dibawa ketika kondisinya telah memburuk. Rustam pun tak habis pikir, karena ia mengharapkan dokter itu langsung sigap merawat anaknya, bukan memberinya kuliah cara menjadi orangtua yang baik.

"Saya bilang, saya ke sini mau berobat bukan mau diomelin. Kalau situ nggak mau obatin ya sudah. Namanya RS gede, banyak yang harus dibayar, ya bayar-bayar rontgen," kata pria yang banyak mengalami kerasnya hidup di jalanan sejak masih balita itu.

Beruntung, ada sekelompok warga yang peduli dengan kondisi anak Rustam, mereka membantu biaya rawat inap Adam. Namun Rustam mengalami hal yang tak mengenakkan setelah beberapa lama Adam mendapatkan perawatan.

"Saya bilang, saya sudah tidak sanggup lagi tinggal di RS. Lalu sama bapak-bapak dari RS itu dibawain surat-surat, katanya kalau resep datang tinggal ditukar sama surat itu. Lalu tanggal 1 April 2014 kemarin saya disuruh balik lagi ke rumah sakit, tapi saya nggak datang. Saya takut anak saya diambil, tapi jadinya semua gratis. Dokter juga ngertinya nyalahin doang, bukan nolongin," ujar Rustam yang lalu memeluk Adam yang telah sehat dan ceria.

"Saya jalan kaki dari Senen ke rumah sakit itu buat merawat anak saya waktu itu," ujar istri Rustam, Ika, menambahkan keterangan suaminya.

Kemudian Rustam teringat kisah ketika istrinya melahirkan anak sulung mereka bernama Bayu (6) di sebuah rumah sakit di Jakarta. Peristiwa itu yang membuat Rustam tampaknya tak menyukai profesi dokter, karena dokter yang ditemui Rustam saat itu memarahinya dengan kata-kata yang menyinggung perasaannya sebagai orang yang jauh dari kata berkecukupan.

"Waktu itu celengan nggak ada, terus diomelin sama dokter situ, katanya 'Situ cuma bikin saja tapi nggak punya celengan'. Saya jawab, 'Situ bukannya bantuin malah ngomelin'," ujar Rustam sambil menghiraukan kereta barang yang melintas di depan gubuknya dalam jarak 50 cm dari pintu.

Beruntung saat itu Rustam bisa meminjam ponsel kakaknya yang telah bekerja, walau serabutan. Ia kemudian menghubungi sekelompok mahasiswa yang pernah menggelar jambore untuk Rustam dan kawan-kawannya yang hidup di jalanan. Melihat ponsel monochrome yang digunakan Rustam, dokter di rumah sakit mengatakan 'orang susah tapi punya ponsel'.

"Itu dokternya bilang ke kakak-kakak mahasiswa itu, saya dibilangin kakak-kakak itu katanya jangan bawa ponsel. Tapi gimana saya mau hubungi keluarga saya dan cari pinjaman kalau saya nggak bawa. Tapi akhirnya kakak-kakak itu ada yang kenal dokter di sana, lalu tembus-tembusin akhirnya gratis semua," ujar Rustam.

"Waktu kakak-kakak itu belum datang, uang tinggal Rp 75 ribu, obatnya Rp 135 ribu, saya mengemis kalau bisa istri saya diproses dulu. Nanti saya cari pinjeman ke mana gitu. Terus katanya nggak bisa ngutang, saya bilang, "Saya nggak ngutang tapi nyari," ujar Rustam.

Namun walau biaya persalinan istrinya itu bisa gratis berkat bantuan para mahasiswa tersebut, Rustam masih ingat sorot mata curiga sang dokter yang tak percaya dirinya tinggal di bantaran rel dengan sebuah gubuk yang sangat kecil. Rustam pun mengajak dokter itu bertandang ke rumahnya, namun sang dokter menolak tawaran itu.

"Kata dokternya masa tinggal di rel, saya bilang 'Kalau nggak percaya sini ikut saya'. Tapi dia bilang dia percaya. Saya sampai bilang ke istri saya waktu habis melahirkan, tinggalin sajalah anak kita di RS, sudah nggak kuat biayanya. Tapi kita berusaha urus surat-surat ke sana ke mari dan bisa," ujar Rustam di bawah terik matahari.

"Semoga saja gembel seperti kami ke depannya bisa lebih mudah mendapatkan kesehatan gratis, termasuk pendidikan untuk anak kami. Kami juga ingin dilayani dokter dan lainnya sama seperti orang lain yang hidupnya lebih beruntung," ujar Ika menambahkan kata-kata suaminya.

(vid/trq)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads