Sebuah Tu Pe Kong yang terletak di tepi sungai pun dia rawat meski Lim beragama Kristen. Semangat menghargai perbedaan yang juga diharap Lim dimiliki oleh pemimpin negeri ini kelak.
βKalau saya milihnya Jokowi buat jadi Presiden RI besok. Karena saya lihat dia juga orangnya menghargai perbedaan, kelihatan dari kebijakan dia yang tidak membeda-bedakan agama,β ujar Lim di tepian Sungai Cisadane, Tangerang, Banten, Senin (14/4/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βSaya sih warga Banten, tidak merasakan langsung bagaimana baiknya dipimpin Jokowi yang Gubernur DKI Jakarta. Tapi yang saya dengar itu Jokowi turun langsung ke masyarakat, ikut terjun ke comberan, kalau yang lain mana mau seperti itu?β kata Lim.
Senja kala itu mulai ramai di tepian Cisadane. Orang-orang sekadar menanti mentari tenggelam ataupun memancing ikan mulai berjejer pada pagar yang berwarna merah.
βKalau pemimpin itu mendatangi rakyat langsung, pasti tahu apa yang dimau masyarakat. Jadi kebutuhan masyarakat selalu tersedia,β imbuh Lim.
Teringat kemudian Lim ketika masanya harga-harga kebutuhan pokok murah terjangkau masyarakat. Ketika Soeharto βSang Jenderal Tersenyumβ menjadi Presiden RI.
βSaya sih maunya harga-harga murah lagi seperti dulu, tapi kalau zaman Pak Harto saya akui ya memang kita dikekang. Tidak boleh ini dan itu. Jadi kalau saya sih inginnya selain harga murah juga pemimpin itu harus menghargai perbedaan,β sebut Lim.
Tak mungkin seorang Lim dapat menabung jika hanya mengandalkan pekerjaan saat ini. Tak tega pula dia meninggalkan pekerjaan pendayung sampan dan mengabaikan orang-orang yang hendak menyeberang.
βKalau kebutuhan pokok murah sih mungkin dengan pendapatan saya saat ini bisa menabung dan memenuhi kebutuhan. Tapi kalau semakin mahal ya terpaksa harus menerima apa adanya. Toh saya sudah tua dan tak mungkin mencari pekerjaan yang lain,β ucap Lim lirih.
(bpn/trq)











































