Sebuah tempat peribadatan Buddhis kepercayaan Tionghoa terletak anggun di tepi sungai coklat itu. Sebuah ukiran nampak berumur ratusan tahun namun masih elok dipandang. Sentuhan tangan Reni Edi Lim (55) yang membuatnya tetap lestari.
βSelain mendayung sampan, saya juga ikut merawat Tua Pe Kong ini. Ini namanya Tua Pe Kong Kali, karena letaknya di tepi kali. Supaya manusia juga ikut merawat kali biar tetap bersih,β ujar Edi Lim sambil menyandarkan sampan di tepi Sungai Cisadane, Tangerang, Senin (14/4/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βSetiap ke sini saya selalu membersihkan ini. Walaupun saya ini beragama Kristen, tapi saya tetap ikut merawat Tua Pe Kong ini. Banyak pelajaran kehidupan yang bisa diambil dari sini,β ucap Lim ketika tangannya mulai mengayunkan kain lap.
Tak ada yang membedakan manusia di hadapan Tuhan menurut Lim. Tak pantas pula jika perbedaan agama dijadikan alasan untuk saling benci.
βMenurut saya salah itu kalau ada orang saling serang, bahkan saling bunuh dengan mengatasnamakan agama. Kalau beragama ya seharusnya saling menghargai kehidupan, bukan saling bunuh,β ungkap Lim.
Sejenak kemudian datang seorang berbaju merah dengan kepala botak. Dia lalu melepaskan seekor kura-kura hidup ke sungai yang mengalir itu.
Setelahnya dia menghormat ke arah sungai dan dilanjutkan dengan menghormat ke Tua Pe Kong dengan khusuk. Disapa orang itu oleh Lim dengan ramah seperti seorang sahabat yang telah lama tak bersua.
βLihat kan, tidak ada yang salah dengan ajaran setiap agama. Buktinya di agama Buddhis seperti orang tadi itu diajarkan untuk melepaskan makhluk hidup ke alam bebas. Mereka percaya bila melepaskan makhluk hidup ke alam bebas maka usia akan panjang dan hidup sehat. Bayangkan jika semua orang juga merawat sesama hidup seperti ini,β tutur Lim.
Benar saja apa yang dituturkan Lim. Tak heran jika biota alam di Sungai Cisadane masih tetap lestari meski pencemaran lingkungan oleh manusia-manusia tak bertanggung jawab terus saja dilakukan.
βBayangkan dengan pabrik-pabrik yang masih saja buang limbah di sungai ini, orang-orang yang buang sampah di sini. Setidaknya masih ada sekelompok orang yang berpikir untuk menjaga sungai,β imbuh Lim.
Menghormati ajaran agama lain tak lantas membuat Lim meninggalkan ajaran agama yang dia peluk. Masih rutin dia beribadah ke Gereja untuk memanjatkan harap kepada Tuhan.
Membayangkan manusia sesama hidup saling bergandengan tangan, Lim pun berkaca-kaca penuh haru. Sebuah imaji keindahan melayang dalam pikirnya, imaji lingkungan yang bersih.
βKalau manusia hidup rukun pasti lingkungannya bersih, bukannya manusia ditugaskan Tuhan buat merawat bumi?β sebut Lim.
Lim kemudian juga setengah membungkuk seperti menghormat ketika Tua Pe Kong berwarna merah itu sudah dia bersihkan. βOrang Indonesia itu kan Bhinneka Tunggal Ika,β sebut dia lagi.
(bpn/trq)











































