Pekerjaan mereka seringkali dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang. Tapi siapa sangka ternyata mereka pun perhatian terhadap isu politik yang berkembang.
“Sayang ya kita tidak bisa memilih. Padahal kita sudah punya pilihan. Mubazir ya kalau tidak milih,” ujar salah seorang PRT Bibit (42) di sudut sebuah rumah depan Taman Situ Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (8/4/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kalau aku sih pilih PDIP, biar Jokowi yang jadi Presiden. Dari dulu saya pilih PDIP kok, tapi karena tahun ini nggak bisa milih karena nggak ada biaya buat ambil berkas-berkas di kampung ya sudah tidak bisa milih. Lha kamu mau pilih apa?” tanya Bibit balik.
“Sama juga mau pilih PDIP, tapi gimana lagi ya? Cuma bisa kirim doa saja supaya yang terpilih yang terbaik,” jawab Trisnawan.
Angin pun berhembus sejenak ketika pembicaraan terhenti. Mata mereka yang berenam itu pun menerawang memikirkan bagaimana caranya menyalurkan suara.
Tiga di antara PRT itu masih belia dan bertanya apakah suara mereka sebenarnya menentukan. Mereka berpikir kalau satu atau dua suara tak tersalurkan ya tidak masalah.
“Saya juga mau milih PDIP sih. Kebetulan kan saya pemilih pemula. Baru pertama kali milih tahun ini. Tapi ya udah lah, masih ada lima tahun lagi kalau mau milih,” kata Nungki (19) si juru masak.
“Tapi kan yang namanya suara orang-orang seperti kita ini pasti menentukan lah. Mana tahu nanti kan suara selisih sedikit, kalau kita tidak milih ya mubazir,” timpal Bibit.
“Saya juga sebenarnya mau milih PDIP sih, tapi memangnya Jokowi bisa jadi Presiden? Di Jakarta saja belum selesai kok,” tanya Wawan (18) yang keseharian dia menjadi tukang kebun.
“Yang bilang Jokowi itu cuma untuk Jakarta berarti pikirannya sempit. Memangnya Jakarta doang yang boleh dipimpin Jokowi? Di daerah juga mau lah dipimpin Jokowi,” balas Bibit.
“Iya benar itu, masa cuma Jakarta doang yang beneran pendidikan gratis? Di kampung kita itu di Purbalingga kan sekolah tetep aja bayar. Bilangnya aja gratis, tapi bayar juga. Buktinya kita saja nggak selesai sekolahnya toh?” ujar Nungki.
“Benar juga ya, kita saja nggak tuntas sekolah gara-gara nggak punya uang. Coba kalau gratis kan pasti kita sudah selesai sampai SMA,” imbuh Endah (17) yang juga juru masak.
“Kalau saya sih milih karena Jokowi kan perhatian sama orang kecil kayak kita. Siapa tahu nanti dia mau bikin lagi subsidi pupuk. Kalau pupuk disubsidi sih saya pulang kampung saja jadi petani, iya nggak?” kata Bibit.
Untunglah tetangga mereka yang menjadi kuli bangunan ada yang berwajah mirip Jokowi. Setidaknya ada tempat bagi mereka menyampaikan aspirasi meski mungkin orang bilang tak tepat.
“Kalau ada apa-apa kita bilang ke Pak Doyok aja kali ya. Kan wajahnya mirip Jokowi. Siapa tahu bisa juga sampaikan aspirasi kita,” kelakar Bibit.
(bpn/trq)











































