Kiat Wagiyo Mengakali Pekerjaan Ojek Onthel yang Tergerus Zaman

Wong Cilik

Kiat Wagiyo Mengakali Pekerjaan Ojek Onthel yang Tergerus Zaman

- detikNews
Selasa, 25 Mar 2014 10:22 WIB
Kiat Wagiyo Mengakali Pekerjaan Ojek Onthel yang Tergerus Zaman
Wagiyo
Jakarta - Roda bervelg keras berlalu lalang di jalanan Ibu kota dengan suara mesin yang menderu dan sebuah asap keluar dari benda yang dinamakan knalpot. Bagai sepeda di zaman generasi sebelumnya, sepeda motor seperti menjadi setia masyarakat untuk bepergian.

Menyeruput teh manis hangat pada kedai tenda di pojokan Jl Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara, itu adalah Wagiyo (46) seorang pengojek sepeda onthel. Sudah 20 tahun Wagiyo setia pada pekerjaan itu meski tergerus zaman.

“Kalau dulu masih banyak orang yang mau diangkut naik sepeda onthel kayak begini. Kalau sekarang orang lebih pilih motor buat ke mana-mana. Selain lebih cepat juga lebih kuat,” kata Wagiyo yang duduk di kedai saat sore di hari Rabu (19/3/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Riuh rendah Pasar Ikan masih mengisi petang yang sedang datang itu. Sebagian sudah mulai menutup toko, sebagian lain masih tetap buka.

“Kalau sekarang sih saya terima saja kalau ada yang minta belanja stok di Pasar Grogol. Biasanya dibayar Rp 25.000 sekali belanja ke Grogol,” tutur Wagiyo.

“Ada lagi kadang yang minta nitip bayar listrik, nitip bayar kredit motor, nitip beli makanan. Macam-macam lah,” imbuh dia.

Upah yang diterima Wagiyo pun macam-macam dan tak jarang diupah dengan harga teman. Tapi itulah cara untuk mengakali pekerjaan yang nyaris tergerus zaman.

“Kalau kita mengeluh karena pekerjaan kita nggak dipandang orang lain ya tidak dapat apa-apa. Yang penting bersyukur sama apa yang kita lakukan saja,” kata Wagiyo.

Sepeda onthel telah menjadi moda transportasi yang klasik dan cukup menarik untuk alternatif wisata. Meski demikian Wagiyo tak tertarik membanting setang menjadi penyedia jasa wisata onthel seperti di kawasan Taman Fatahillah.

“Nanti kalau saya ke sana, lalu siapa yang melayani orang-orang pasar sini? Kan mereka banyak yang sudah tua dan mempercayakan saya untuk ke sana ke mari,” ucap Wagiyo.

Berpesanlah Wagiyo agar semua orang pun gigih dan bisa dipercaya agar tak ada lagi yang mengeluh soal dunia. Tak perlu mengumpati orang lain untuk mendapat simpati. Cukup yakin dengan diri bahwa masih berguna bagi orang lain dan siap melayani.

“Alhamdulillah saya masih dipercaya sama orang-orang sini untuk dititipi bayar-bayar segala macam. Kepercayaan dari orang lain itu mahal loh, tidak mudah didapatkan,” kata Wagiyo.

Seorang pedagang perabotan rumah tangga kemudian melintas dekat kedai di mana Wagiyo mangkal. Disapalah Wagiyo yang tengah menunggu penumpang itu.

“Kuncinya ya misal kita dikasih amanah tuh harus selalu lapor. Walaupun kembalian cuma seribu perak juga tetap harus dilaporkan,” sebut dia kemudian.

Satu lagi hari akan dilalui Wagiyo sebagai pengojek onthel. Jelang malam masih panjang, masih ada waktu bagi Wagiyo untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat. Dia tak akan lupa akan kepercayaan yang diberikan kepada dia. Karena kepercayaan itu bagi dia berlaku untuk lintas zaman.



(bpn/trq)


Berita Terkait