Dulu Ableh Coblos SBY, Tapi Tak Tahu Capres yang Dipilih Sekarang

Dulu Ableh Coblos SBY, Tapi Tak Tahu Capres yang Dipilih Sekarang

- detikNews
Senin, 24 Mar 2014 19:01 WIB
Dulu Ableh Coblos SBY, Tapi Tak Tahu Capres yang Dipilih Sekarang
Tangerang - Sejenak Ableh (53) bersantai di antara puluhan kuburan warga Tionghoa. Kawasan kuburan yang biasa disebut bong itu berada di tengah perkampungan China Benteng di Sewan, Tangerang, Banten.

Pria keturunan Tionghoa itu telah mengecap asam garam hidup di Republik ini sejak zaman Presiden Soekarno hingga Presiden SBY kini. Bungsu dari 7 saudara ini telah ditinggal pergi seluruh sanak saudara ke haribaan Yang Maha Kuasa. Namun, dia tetap berjuang melanjutkan hidup.

"Sama aja sih, dari presiden ini, presiden itu, sama aja nggak ada peningkatan, ya begini," kata Ableh yang bernama asli Tan Cang In di pekuburan Tionghoa depan rumahnya, di RT 03/06, Sewan, Rawa Kucing, Tangerang, Banten, Selasa (18/3/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ableh juga mengaku tidak mengenal siapa-siapa saja yang pernah dan sedang duduk di singgasana negeri Zamrud Khatulistiwa ini. Menurutnya siapapun presidennya, belum ada yang mampu membuat hidupnya lebih baik.

"(Pemilu 2004) dulu milih SBY, nggak tahu siapa. Ya kan dulu banyak di poster-poster, asal aja lah. Terserah aja siapa yang jadi (presiden). Nggak tahu saya (siapa presiden sekarang). Nggak musingin kayak gitu, yang penting gimana caranya ngasih makan anak bini, udah," ucapnya sembari duduk di depan makam Tionghoa bertuliskan huruf ukir China nan apik.

Ableh tak punya pekerjaan tetap. Sekitar 11 tahun yang lalu, dia pernah menjadi buruh di salah satu pabrik mebel di Tangga Asem, Tangerang. Namun, pabrik itu bangkrut dan Ableh menganggur.

Terkadang dia membersihkan rumput liar 1 minggu sekali di salah satu makam di pekuburan Tionghoa itu dan dibayar Rp 50 ribu sampai Rp 150 ribu. Uang itu diperolehnya sekali dalam setahun dari keluarga yang makamnya diurusi Ableh. Bapak 3 anak itu juga bekerja apa saja asalkan istri dan anaknya tetap bisa makan.

"Saya pengen kayak orang-orang ya gitu. Hidup gimana caranya yang (tercukupi) gitulah. Dulu pernah dagang kue bangkrut, dagang apa lagi bangkrut. Nggak laku," ucapnya.

"Sekarang mau dagang, nggak ada modalnya. Ya udah gini-gini aja. Kalau ada (orang) yang nyuruh ya dikerjain, beresin apa lah atau masang genteng. Rejeki mah ya ada aja," imbuh Ableh sembari sesekali menarik nafas panjang.

Mungkin bagi Ableh, seorang pemimpin harus turun langsung bertemu rakyatnya satu per satu. Sebab Ableh tak mengenal media untuk mencari tahu siapa pemimpinnya. Jadi menurutnya, lebih penting pemimpin mengenal rakyat daripada sebaliknya.

"Jangan terlalu banyak pusing, nanti kalau dipikirin jadi penyakit. Biarin aja lah. Paling tahu dari poster. Nggak pernah nonton tv saya mah jadi nggak tahu," kata Ableh.

Hari semakin sore. Semilir angin membawa serta semerbak wangi sampah yang menusuk hidung. Sebab tak jauh dari perkampungan itu terdapat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing.

Ableh tak menghiraukannya. Kulitnya menebal daki dan peluh hasil dari jumpalitan menyambung hidup. Seolah dia sudah kebal dengan penderitaan. Garis-garis keriput di wajahnya menandakan masa-masa sulit yang dia lalui sampai sekarang.

"Ya (pemilu) nanti nyoblos. Namanya rakyat kecil wajib kan. Siapa yang jadi (presiden) nanti, ya udah. Udah saya bilang tadi, nggak musingin saya," kata Ableh dan berlalu kembali ke rumahnya yang beratap jerami dan berdinding bilik di sudut perkampungan China Benteng.

(dha/trq)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads