Di dalam Undang-undang semestinya, hidup setiap warga negara yang kekurangan dijamin oleh pemerintah. Namun kenyataan tak selalu seindah apa yang tertulis di lembar konstitusi. Pun yang dialami seorang Tionghoa bernama Ableh (53). Tinggal di kawasan Sewan, Tangerang, Banten, Ableh berjuang menyambung nafas untuk menghidupi keluarganya.
Menjelang gelaran Pemilu 2014, warna warni bendera partai politik menghias seluruh pelosok negeri. Hanya saja, bapak 3 anak itu tak ambil pusing soal percaturan politik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ableh merasa sudah lelah untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah. Baginya, politik hanyalah angin lalu. Baginya, daripada angin politik, lebih semilir hembusan angin yang menerpa wajahnya saat bekerja serabutan membersihkan salah satu makam di pekuburan itu.
"Dibilang saya nggak fokusin itu (soal pemilu). Yang penting tiap hari ada yang ngasih kerjaan, barang duit seberapa buat makan. Udah itu aja," kata Ableh.
Waktu beranjak dengan pasti menuju masa depan yang masih kabur akan kepastian hidup. Ableh yang berasal dari Jembatan Dua, Kota, Jakarta Utara, hijrah ke daerah itu karena menikahi salah satu wanita di perkampungan itu. Hidup tanpa pekerjaan tetap dan pemasukan yang pasti, bukan berarti Ableh berpangku tangan.
"Semua udah pernah saya coba. Dari dagang kue, naik sepeda dari sini ke Srengseng, 2 jam. Nggak lama, bangkrut. Dagang apa aja lah tapi nggak balik modal, bangkrut. Waktu muda dulu kerja di perusahaan mebel, pabriknya bangkrut," kenang Ableh sambil menenggak segelas air.
Meski tak acuh dengan politik negeri ini, Ableh patuh akan peraturan yang mewajibkan dirinya harus memilih calon pemimpin negeri. Namun tetap saja, Ableh tak berharap lebih.
"Kita wajib nyoblos ya nyoblos. Terserah siapa saja nanti yang jadi, terserah. Kita berdoa aja lah, dari mana rejeki juga dateng," ucapnya pasrah.
Ableh bernaung di sebuah rumah tak jauh dari pekuburan etnis Tionghoa itu. Rumah biliknya beratap jerami menjadi peraduan bagi dia, istri, dan 3 anaknya. Sebuah tempat sembahyang khas bernuansa merah seperti di kelenteng-kelenteng tertata di bagian depan rumah.
"Kita mah ya sembahyang pagi sore. Yang penting hidup dijalani aja. Berdoa juga, masak iya mau hidup kayak gini terus," kata pria yang aslinya bernama Tan Cang In itu.
(dha/trq)











































