Muncul sesosok makhluk bertanduk dari balik pohon. Tak hanya satu, tetapi puluhan makhluk berkaki empat yang tampak malu-malu berjalan mendekati seorang bapak tua berkopyah hitam lusuh.
Ternyata bapak itu yang sedari tadi bersiul dan sesekali bertepuk tangan. Rupanya siulan bapak itu yang mengundang makhluk bertanduk itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Caranya ya bersiul sambil tepuk tangan. Cuma kalau orang lain yang gitu (bersiul) ya nggak bakal ngedeket rusa-rusanya," kata pria yang biasa dipanggil Pak Gito itu di taman rusa Monas, Jakarta Pusat, Senin (17/3/2014).
Keseharian Pak Gito memang mengurusi rusa-rusa tutul di taman yang asri itu sejak 3 tahun lalu. Pria asli Banyumas ini mengaku sudah bekerja di kawasan Monas sejak tahun 1980-an.
"Dari awal dulu nyapu-nyapu taman. Sampai sekarang juga kadang-kadang nyapu juga. Kalau di sini ya saya yang dituakan," kata Pak Gito sambil sesekali melempar pakan rusa berupa potongan ubi dan wortel.
Kehidupan Gito memang berputar di kawasan Monas. Meski begitu, dia mengaku, gaji per bulan yang jumlahnya di bawah UMP Jakarta itu cukup untuk menghidupi istri dan 4 anaknya.
"Status saya dan rekan-rekan ya THR, tenaga harian lepas. Jumlahnya untuk yang di kandang rusa ada 13 orang. Penghasilan cuma itu aja, nggak dari mana-mana, cuma ngandelin duit bayaran aja setiap bulan. Ya dicukup-cukupin lah," tutur pria yang tinggal di Kebayoran Lama ini.
Meski begitu, Gito mengaku menikmati pekerjaannya. Dia hanya berharap gaji yang didapatnya tidak terlambat.
Hari itu pengunjung Monas tidak terlalu ramai. Hari pertama di minggu ini memang bukan waktu yang pas untuk mengajak keluarga untuk berlibur ke Monas. Namun, Pak Gito tetap setia mengurus rusa-rusa.
"Cuma ya begitu, yang namanya kita yang jelas tiap hari kerja rutin, ya tiap hari juga dibayar, gitu kan," ucapnya sembari menyeka keringat.
(dha/trq)











































