“Kami di sini senasib semua. Tetap menjual kerupuk meski keterbatasan fisik. Kami semua tidak ada yang dapat bantuan BLT atau semacamnya. Tidak tahu apa tidak terdaftar atau gimana,” ungkap Pak Slamet di senja Jumat (14/3/2014).
Terik sudah tak lagi terasa, namun deru bising kendaraan yang menggantikan peran terik menjadi rintangan bagi Pak Slamet dan kawan-kawan. Rintangan itu tak seberapa bila dibanding dengan harapan akan hari esok yang mungkin lebih baik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sederet kontrakan petak di Meruya, para penyandang tunanetra ini tinggal berdampingan. Tak jarang mereka berbincang untuk mendiskusikan hari esok.
“Sejauh yang kami dengar di radio atau televisi sih memang suara Pak Prabowo sepertinya orangnya baik. Dari suaranya sepertinya orangnya tegas. Saya harap bisa menjadikan Indonesia negara yang adil,” ucap Pak Slamet.
Sebuah negara adil menjadi dambaan Pak Slamet serta penyandang difabel yang lainnya. Sebuah negara di mana keterbatasan fisik bukan menjadi pembeda antara warga yang satu dengan yang lain.
Semua warga berhak mendapat kesamaan hak mendapat pendidikan, kesamaan hak memeroleh pelayanan kesehatan, dan berhak mendapatkan kelayakan hidup dengan harga-harga kebutuhan pokok yang amat mudah dijangkau.
“Kami harap sih Pak Prabowo mampu melakukan hal yang seperti itu. Kalau yang lain saya belum mendengar. Paling-paling kalau yang lain ya saya mendengar Gubernur Jakarta itu Pak Jokowi yang sering mendatangi masyarakat,” kata Pak Slamet.
Pak Slamet pun sangat jengkel pada orang-orang yang mampu membuka mata untuk melihat namun tak dapat membuka mata hati. Mereka-mereka itu adalah para koruptor yang dengan sengaja telah merenggut hak-hak warga termasuk Pak Slamet.
“Saya juga dengar soal korupsi di mana-mana. Yang begitu harus ditindak tegas supaya Indonesia bisa lebih adil,” sebut Pak Slamet.
Penghujung masa pemerintahan ibarat senja di mana yang lain sudah akan tutup jabatan, sementara yang lain baru mencoba memasuki pemerintahan. Tak ada pilihan bagi orang-orang yang hendak memimpin kecuali membuka mata hati lebar-lebar.
(bpn/trq)
