Pemuda Teguh Berjuang Menyelamatkan Masyarakat dari Tragedi Bintaro

Wong Cilik

Pemuda Teguh Berjuang Menyelamatkan Masyarakat dari Tragedi Bintaro

- detikNews
Selasa, 18 Mar 2014 10:29 WIB
Pemuda Teguh Berjuang Menyelamatkan Masyarakat dari Tragedi Bintaro
Teguh
Jakarta -

Masih hangat dalam benak kita sebuah tragedi yang terulang kembali di Bintaro, Jakarta Selatan. Tragedi tabrakan kereta dengan truk tanki di pagi kelabu waktu itu membuat Ibu Kota diselimuti asap kelam.

Tentu semua kita tak ingin jika itu terulang kembali. Adalah Teguh (21) merasa terpanggil untuk berbakti agar si ular besi dapat menjalankan tugasnya dengan baik tanpa hambatan.

β€œSaya jadi penjaga perlintasan kereta di Bintaro ini sekitar sebulan lalu. Awalnya saya bukan di bagian ini, tapi di bagian rehabilitasi perlintasan,” kata Teguh di perlintasan Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan, Kamis (13/3/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ruang tempat Teguh memantau lalu lalang si ular besi tak lebih dari 3 x 3 meter persegi saja. Sendiri dalam ruangan itu, dia hanya ditemani pesawat telepon yang setiap kali memberitahukan posisi kereta yang akan melintas.

β€œSejak peristiwa waktu itu ada banyak perubahan di KAI. Kami yang muda-muda diminta untuk menjadi penjaga perlintasan agar kejadian tidak terulang lagi. Termasuk membuat jalur ini hanya satu arah untuk kendaraan bermotor,” ucap Teguh menerangkan.

Dalam sehari dia bekerja selama 8 jam untuk kemudian berganti giliran rekannya. Dalam sekali giliran itu pula dia harus sigap dan awas untuk membunyikan sirine serta menurunkan palang sehingga kereta dapat melaju cepat tanpa khawatirkan sesuatu apapun.

β€œTapi masih saja banyak pengendara yang nakal menerobos jalur satu arah ini. Padahal sudah ada tanda dilarang melintas di sana, mungkin mata mereka sudah kabur atau tak mengerti arti tanda itu,” ucap Teguh menunjuk rambu dilarang melintas.

Telepon berdering nyaring membuat Teguh berpaling kemudian menjawab panggilan tersebut. β€œYa, baik. Laksanakan,” ujar dia singkat lalu menekan tombol sirine di belakang dia.

Sesaat kemudian tombol penurun palang pintu juga dia tekan. Kemudian dia bergegas ke luar gardu jaga itu dan membunyikan lonceng yang berjarak 2 meter dari gardu. Berdirilah dia dengan tegap melihat kalau-kalau ada pengendara nakal sambil meniup-niup peluit.

β€œJresssssss…,” kereta Commuter Line melaju cepat tanpa terhambat kendaraan yang nyelonong.

β€œSebelum di perkereta-apian saya menjadi kenek Metro Mini 71 jurusan Blok M – Bintaro. Tapi kemudian saya diajak ayah saya berbakti di kereta tahun 2011. Saya langsung mau saat itu karena kebetulan pekerjaan ini juga lebih menarik,” tutur dia setelah kereta berlalu dan palang pintu lintasan dinaikan.

Masih panjang perjalanan Teguh menatap masa depan. Di awal langkahnya itu dia memilih berbakti demi keselamatan masyarakat sambil terus melanjutkan jenjang pendidikan perguruan tinggi. Secercah harapan juga tersemat di dadanya menunggu hasil Pemilu membawa perbaikan bagi bangsa.

(bpn/trq)


Berita Terkait