Hampir 30 tahun Kholil (49) menarik nafas di tengah debu-debu jalanan Jawa dan Sumatera dengan menjadi sopir bus antar pulau. Pria asal Sumatera Selatan ini sejatinya hendak pensiun, namun terpikir pula nasib keluarga nantinya.
Sebagian bus yang setrayek dengan Kholil telah tancap gas menuju tanah Sumatera. Sementara Kholil masih memandangi bangku-bangku di bus yang dia kemudikan yang masih saja melompong.
"Beginilah nasib pengemudi bus. Uang yang dibawa pulang tergantung sama banyaknya penumpang yang diangkut. Kalau tidak ada yang naik ya berarti minus," ungkap Kholil dalam βkokpitβ bus di Terminal Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (12/3/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Padahal kan selama di Jakarta saya juga harus makan, belum lagi biaya operasional bus. Belum lagi waktu itu masih ada βPak Ogahβ yang suka memaksa minta duit. Waktu itu saya sampai bingung mau bilang apa ke keluarga," tutur Kholil.
Betapa mungkin dia tak bersyukur dengan Jakarta dewasa ini. Terima kasih dia haturkan kepada pemerintahan Ibukota sekarang ini yang sudah banyak berupaya membuat punah para βPak Ogahβ itu.
"Tapi lain kalau di Sumatera. Di sana semua bus antar pulau pasti pernah mengalami yang namanya dilempari batu. Saya pun pernah itu dilempari di daerah Merakbelantung, Lampung. Tidak tahu apa maksudnya tapi orang-orang itu langsung melarikan diri," ucap Kholil.
Tak tahu lagi ke mana Kholil mengadu agar rasa aman bukan lagi sekedar iming-iming mimpi. Apalah daya bila aparat pun belum mampu meringkus para pelaku pelemparan batu.
"Saya sih nggak bisa ngejelekin aparat. Apa boleh buat, aparat kan nggak bisa di tempat itu setiap jam. Tapi anak-anak pelempar batu itu sewaktu-waktu bisa datang," lanjut dia.
Kaca bus itu memang sudah kinclong seperti baru, tiada lagi bekas lemparan batu yang menyisa. Tapi rasa bimbang masih saja membekas soal gaji yang tak tentu.
"Bulan lalu pendapatan bersih bus ini cuma Rp 600.000 satu kali perjalanan. Itu pun dibagi tiga karena bus ini ada tiga kru. Padahal dalam seminggu cuma ada dua perjalanan. Jadi rata-rata sebulan cuma dapat Rp 1.600.000 per kru. Ya itu dicukup-cukupin saja," sebut Kholil.
Pekerjaan Kholil bukan pekerjaan mudah di mana dirinya harus selalu awas agar tak bahayakan dirinya dan para penumpang. Tak ada cerita bagi Kholil untuk tidur di waktu kerja seperti orang-orang yang kerap muncul di televisi.
(bpn/jor)











































