Tapi tidak bagi Kholil, dia berusaha untuk tenang di jalanan meski ada saja yang membuat kesal. Hanya keselamatan para penumpang yang selalu membuat dia berhati-hati.
"Tapi saya bingung sama anggota dewan yang sering gontok-gontokan itu. Mau bilang kecewa ya apa mungkin pendapat saya bisa didenger ke sana. Tapi kalau bilang tidak kecewa ya tidak juga. Buktinya saya masih bisa nahan tidak gontok-gontokan," kata Kholil di Terminal Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (12/3/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya harap sih buat yang akan datang bisa bersikap lebih terhormat lagi lah, jangan seperti begini. Harus sportif lah kalau kalah pendapat ya harus hargai yang menang," kata Kholil berpendapat.
Bagi seorang sopir bus memang bukan hal mudah untuk menyampaikan aspirasi meski telah dilindungi undang-undang sekalipun. Kholil sangat ingin adanya sosok pemimpin yang mampu datang langsung ke masyarakat tanpa diminta.
Hingga sulit bagi Kholil mengingat sepak terjang para tokoh pemimpin negeri ini. Belum ada kesan yang kuat dari tokoh-tokoh itu sehingga menarik minat Kholil untuk memilih.
"Biasanya saya baru kepikiran milih setelah melihat gambarnya di bilik suara itu. Tapi walaupun warga Sumatera Selatan untuk sekarang ini yang saya lihat bagus cuma Jokowi saja," ucap dia.
Bapak tiga anak itu kemudian menoleh ke kiri dan kanan menyimak kalau-kalau ada penumpang yang akan naik. Dengan tatapan penuh harap pula dia menantikan datangnya sosok pemimpin untuk Indonesia.
(bpn/gah)











































