Keluhan Kholil, 30 Tahun Jadi Sopir Hadapi Jalan Rusak

Wong Cilik

Keluhan Kholil, 30 Tahun Jadi Sopir Hadapi Jalan Rusak

- detikNews
Minggu, 16 Mar 2014 19:01 WIB
Keluhan Kholil, 30 Tahun Jadi Sopir Hadapi Jalan Rusak
Foto: Bagus/Detikcom
Jakarta -

Dalam waktu seperempat abad Republik Indonesia telah mengalami kepemimpinan 5 Presiden. Dalam kurun waktu itu pula aliran pembangunan terus mengalami pergantian.

Satu sudut di pinggiran Ibukota terletak sebuah terminal yang menghubungkan masyarakat di Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera. Termenung menunggu jadwal keberangkatan seorang pengemudi Bus Putra Sulung yang bernama Kholil (49).

"Saya jadi sopir sudah dari tahun 1985, hampir 30 tahun. Saya mengawali jadi sopir truk fuso, baru kemudian masuk ke PO ini tahun 1997," ujar Kholil di terminal bus Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (12/3/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Kholil pembangunan infrastruktur jalan sejak zaman itu tak mengalami perubahan yang signifikan. Masih ada saja jembatan terputus di wilayah Sumatera.

"Saya belum tahu sih sudah diperbaiki apa belum, tapi setahu saya jalan lewat situ masih dialihkan. Jadi masih belum bisa dilewati," ujar Kholil.

Meski demikian terminal Kalideres menurut Kholil sudah mengalami perubahan, meski sedikit. Pedagang asongan tak lagi menyemut seperti dahulu. Tapi yang beberapa di sana itu adalah yang berhasil menyelinap seperti kancil yang mencuri timun.

Bergema kemudian peringatan dari pengurus terminal bahwa pedagang asongan dilarang untuk memasuki wilayah terminal. Tunggang langgang pedagang-pedagang bandel itu lari ke luar terminal.

"Memang sekarang sudah lebih tegas sih, tapi kalau bicara soal macet soal lainnya itu masalah warga yang susah diatur. Mau di mana juga pasti begitu kalau warga tak mau diatur," ucap pria asal Sumatera Selatan ini.

"Kalau pembangunan yang sekarang sih ya bukannya saya mau menyalahkan Pak SBY, tapi ya semoga yang berikutnya lebih baik dari yang sekarang," imbuh dia.

Jalan berlubang sudah seperti normal bagi Kholil ketika menjalankan tugas. Tak terbersit sedikitpun di kepala Kholil untuk protes meski perasaan khawatir akan keselamatan juga tak bisa dielaknya.

"Saya ini kan orang kecil ya. Misalnya saya bilang itu yang kurang pengawasan dari PU nya atau bagaimana kan saya nggak bisa ngomong," tutur Kholil.

Sebagai seorang pengemudi pendapatan Kholil tak menentu dan tak bisa ditentukan dengan pasti. Bagi dia yang sudah pasti dapat ditentukan adalah perubahan harga kebutuhan pokok yang kian hari kian menanjak.

(bpn/jor)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads