Teras toko-toko di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, bertebaran beras-beras tumpah. Di sanalah Supri mengumpulkan butir-butir penghidupan sejak era 80an.
βDari dulu ya saya begini, dari awal ke Jakarta sudah memungut beras. Habis saya anak orang nggak punya, jadi ke Jakarta juga nggak bawa apa-apa,β kenang Supri sambil memegang sapu ijuk berdebu untuk mengumpulkan beras di hari Selasa (11/3/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βYa kalau harapan sih pasti punya, tapi saya ini orang bodoh, orang kecil, siapa yang mau dengar?β ucap Supri dengan segenggam beras yang sudah terkumpul dalam pengki yang dia bawa.
βSetiap Pemilu saya nyubles gambar banteng. Kata bapak saya gambar banteng itu punya Pak Karno jadi saya pilih. Besok nggak tahu milih siapa, kalau Megawati juga dulu saya pilih,β imbuh perempuan yang ditinggal suami ke hadapan Ilahi sejak 20 tahun silam itu.
Sebuah utopia mengenai negara yang memperhatikan rakyat kecil menggelora di benak Supri. Tapi apalah arti mimpi bagi Supri yang hanya memungut beras untuk hidup?
βKalau saya yang penting kerja apa saja yang penting bisa makan. Saya nggak mau beda-bedakan zaman dulu dan sekarang. Zaman dulu bagus, zaman sekarang juga bagus. Saya nggak mau pilih kasih sama pemimpin, semua bagus kok,β tutur Supri legowo.
Mungkin benar sikap Supri yang memilih untuk βmengemongβ para pemimpin meski dirinya tetap harus memungut beras untuk bisa hidup. Ada harap di balik sikap itu, berharap sang pemimpin mendatang juga tak bersikap pilih kasih kepada semua rakyat.
(bpn/trq)











































