Sepasang suami istri dari kalangan proletar itu dengan manis menjajakan minuman bagi siapa saja yang lewat di depan Kantor KPK, Jl. Rasuna Said, Jakarta Selatan. Ada harapan tertuang dalam segarnya minuman yang mereka jajakan itu.
"Saya sih berharap ekonomi Indonesia seperti zaman Pak Harto. Zamannya Pak Harto cari uang masih mudah. Punya duit 1000 perak udah enak banget. Beras cuma 200 perak, bensin 700 perak," tutur Taud yang tengah mengantarkan minuman pesanan pelanggan di hari Jumat (7/3/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kayaknya sih nggak ada lagi yang bisa bikin Indonesia kayak zaman Pak Harto. Susah itu. Apalagi sekarang tuntutan zaman sudah maju, harus mahal apa-apanya. Karena kan kita diatur oleh luar negeri, kita kerjasama sama luar negeri," kata dia.
Taud kemudian memberikan uang dari pelanggan kepada sang istri tercinta. Dengan wajah sumringah, agaknya selembar Rp 5000 itu sangat berarti bagi mereka berdua.
"Seperti uang Rp 5000 ini. Kalau zaman dulu ini bisa kita pakai untuk makan sekeluarga. Kalau sekarang tidak cukup. Semua mahal, nyari pekerjaan susah, saya cuma bisa berharap pemerintahan yang baru nanti tidak seperti sekarang ini," sebut bapak empat anak ini.
Deru kendaraan seliweran yang dibuntuti kepulan asap tak membuat gentar semangat Taud dan Zuhro melayani orang. Mungkin seharusnya para pelayan publik dan pemangku kebijakan meniru semangat melayani pasangan ini.
Taud dan Zuhro berbagi tugas dengan apik, Zuhro yang meracik minuman dan Taud yang mengantarkan minuman ke pelanggan. Penugasan seperti ini sebenarnya sudah biasa, tapi akan luar biasa hasilnya jika dilakukan sepenuh hati.
"Mungkin perlu pemimpin kita yang baik dari kalangan pengusaha baik-baik. Saya belum mendengar ada pengusaha baik-baik yang berpolitik. Kebanyakan militer," ucap Taud memandangi gedung bertingkat yang menjulang tinggi.
(bpn/van)











































