Hilir mudik kendaraan mentereng seliweran saat siang bolong di wilayah para eksekutif Jakarta. Di depan gedung para pendekar pemberantas korupsi di Kuningan, Jakarta Selatan, sepasang tukang kopi bersepeda mencari penghidupan. Mereka harus berjibaku di tengah kerasnya Jakarta, sembari miris melihat koruptor hilir mudik diperiksa KPK.
Adalah Taud (48) dengan sigap melayani para pelanggan 'kafe keliling' milik dia. Senyum lebar menyungging dari wajahnya tatkala siapa pun meminta pesanannya diantarkan.
"Yang namanya melayani itu memang harus begini. Harus mau berjalan ke sana ke mari. Biasanya yang sudah punya nomor telepon saya bisa pesan lewat SMS. Jadi dia tidak perlu datang, nanti diantarkan," tutur Taud atau yang akrab disapa para pelanggannya sebagai Pak Juju di bawah Jembatan Shelter TransJ Kuningan Madya, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat (7/3/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau saya sih nggak muluk-muluk, asal masih hidup ya kita harus bisa melayani. Semua pemimpin itu menurut saya sudah bagus dari bidangnya masing-masing. Kalau ada kekurangan ya kita lengkapi," kata dia sambil menatap Kantor KPK.
Setiap hari Taud dan istrinya, Zuhro (45), membuka 'kafe' kopi sepeda di depan Kantor KPK. Keduanya berbagi kehangatan meski hati pedih melihat koruptor keluar masuk kantor itu.
"Kalau jujur sih saya sakit hati setiap melihat koruptor di sana. Namanya korupsi kan efeknya ke rakyat kecil juga. Tapi kita namanya rakyat kecil hanya bisa pasrah, yang penting saling memberi semangat saja," ujar pria asal Cirebon, Jawa Barat, ini sambil memegang nampan yang di atasnya terdapat dua gelas es kopi, masing-masing Rp 5.000.
Para koruptor memang berdarah dingin membunuh rakyat pelan-pelan, sedingin puncak gunung es di tengah laut. Namun Pak Juju dan Zuhro siap berbagi kehangatan agar rakyat kecil pun mampu mandiri meski kadangkala diabaikan pemimpin yang acuh tak acuh.
(van/nrl)










































