Cerita Tukang Sampah yang Ingin Presiden Peduli Sampah

Cerita Tukang Sampah yang Ingin Presiden Peduli Sampah

- detikNews
Selasa, 11 Mar 2014 16:10 WIB
Cerita Tukang Sampah yang Ingin Presiden Peduli Sampah
Foto: Bagus/detikcom
Jakarta - Gerobak oranye yang sedari tadi ditarik Imam Syafii sang pengangkut sampah sudah separuh terisi. Lalat mengerubung layaknya kawan Syafii sehari-hari menyusuri blok demi blok rumah di Kelurahan Guntur, Setia Budi, Jakarta Selatan.

Meski hanya tukang sampah, kiprah Syafii sudah dikenal oleh dunia internasional. Adalah media Inggris, BBC Two yang memfilmkan perbedaan tukang sampah Indonesia dengan Inggris pada 2012 silam.

"Jujur saya masih berharap setelah Pemilu nanti di Indonesia lahir presiden yang manajemen sampahnya seperti di Inggris. Tukang sampah tidak perlu menarik gerobak berat setiap hari. Ada mobil operasional yang bersih," ungkap Syafii yang tengah berkeliling mengangkut sampah rumah tangga, Kamis (6/3/2014).

Saat Syafii difilmkan oleh BBC Two, dia pun disandingkan dengan tukang sampah asal Inggris Wilbur Remirez. Syafii pun tak dapat menyembunyikan rasa iri kepada Wilbur yang jauh lebih sejahtera meski satu profesi.

"Dari segi gaji saja sudah beda jauh. Padahal pekerjaan tukang sampah di Inggris lebih ringan daripada di sini. Masyarakat Inggris lebih gampang diatur untuk memilah-milah sampah. Kalau di sini sudah dikasih tempat sampah beda antara yang organik dan non-organik juga tetap saja dicampur," kata Syafii.

Badan Syafii hanya dilapisi oleh kaos putih berbahan katun dan celana panjang kumal. Dia memakai topi untuk melindungi dari terik sementara kakinya hanya beralas sandal karet

"Sekarang masih mendingan lah, kalau dulu perhari paling cuma dibayar Rp 18.000 kalau sekarang sudah Rp 50.000. Makanya saya bilang Jokowi ini memperhatikan tukang sampah," tutur Syafii.

Perubahan sudah barang tentu hal yang didambakan Syafii. Siapa pula orang yang rela terus menerus tercebur di lautan sampah seumur hidup?

Padahal jika tak ada yang mengangkut sampah maka tiap rumah tangga harus membakar sampah. Tak terbayang polusi yang dihasilkan jika hal itu terpaksa dilakukan.

"Dalam sebulan paling sedikit sekarang bisa dapat Rp 1.200.000 dari mungutin sampah. Sekarang saya sudah bisa kredit motor. Jadi nanti tahun depan saya bisa pulang kampung membawa motor. Jadi keluarga juga senang melihat hasil kerja saya di Jakarta," ucap Syafii.

Masih segar dalam ingatan Syafii ketika sahabatnya asal Inggris Wilbur Remirez membiayai operasi istrinya. Istri Syafii ketika itu harus operasi di RS Swasta akibat kanker payudara.

Saat ini istri Syafii tinggal di Brebes, Jawa Tengah bersama seorang anaknya. Syafii pun berniat menyusul ke Brebes tahun mendatang.

Agaknya Syafii sudah cukup mengenyam asam garam persampahan di Ibukota. Hanya harap yang terus dia tampung dalam gerobak oranye kesayangannya itu hingga entah kapan.

(bpn/wwn)



Berita Terkait