Kapten kapal KR Sri Agung Karyono memberi wejangan untuk tokoh yang menurut kabar angin akan segera dicapreskan. Bagi Karyono kabar angin itu tak ubahnya angin laut yang berembus kencang, tak terlihat namun pasti.
"Jokowi itu bagus, tapi nanti kalau digoyang gimana? Seperti Bu Mega dulu juga bagus, tapi kan dia terus digoyang sama yang dibelakangnya. Saya takut nanti Jokowi juga digoyang," ujar Karyono seraya memberikan wejangan di Dermaga Muara Angke, Jakarta Utara, Senin (3/3/2014) kemarin.
Strategi untuk mendaulat Jokowi sebagai pemimpin nasional harus kuat. Pertimbangan matang diperlukan agar tak terombang-ambing seperti kapal yang kehilangan kordinat di tengah laut.
"Lebih gampang memilih ikan daripada memilih pemimpin. Memilih ikan langsung ketahuan mana yang bagus mana yang jelek. Memilih pemimpin ada yang dibilang bagus tapi nanti berubah. Kalau pemimpin itu tergantung selera yang dipimpin. Orang bilang Pak Harto buruk, yang inilah, yang itulah. Di luar daripada itu saya bilang Pak Harto itu bagus. Memang tidak mungkin ratusan penduduk akan berpendapat sama tentang satu orang," tutur Karyono penuh makna.
Memandang jauh ke hamparan laut nan luas, nampak nelayan lain yang tengah duduk termenung. Nama dia adalah Wardi (32) seorang penangkap ikan asal Indramayu.
"Saya belum terlalu kenal Jokowi. Tapi saya lebih tidak kenal yang lain. Kehidupan saya lebih banyak di laut, jadi belum sempat memantau," ungkap si nelayan.
Meski demikian Wardi berharap pemimpin yang selanjutnya akan lebih baik dari yang saat ini. Tak ada kenaikan harga bahan bakar dan harga ikan di pasaran terjamin.
Di sekeliling pria itu para nelayan lain asyik menghitung dan menimbang hasil tangkapan. Sebagian diekspor dan sebagian lainnya diolah untuk kebutuhan pangan lokal.
Tak jauh dari dermaga terletak sebuah pemukiman dengan aroma khas hasil laut. Di situlah kampung pengolahan ikan terletak, terpinggirkan oleh hingar bingar pembangunan gedung yang menjulang tinggi.
"Saya ingin Jokowi lebih mampu lagi mengatasi permasalahan. Sekarang ini memang masih belum bisa mengatasi banjir, tapi ini lebih baik dari yang sebelumnya," sebut Gatot (30), seorang nelayan yang tinggal di kampung tersebut.
Gatot tak menaruh harapan banyak soal pemimpin yang akan datang. Dia hanya berharap supaya anak-anaknya bisa sekolah hingga perguruan tinggi dengan biaya murah dan tidak menjadi nelayan seperti dirinya.
"Kalau nelayan penghasilannya kecil, kerjanya berat. Sementara harga kebutuhan pokok pasti meninggi," ucap dia.
(bpn/van)











































