Sinar sang surya tak terasa panas ketika hamparan laut nan luas meniupkan angin. Siang bolong itu Wardi masih termenung di atas Kapal KR Bintang merindukan pelukan keluarga tercinta.
Wardi telah akrab dengan lautan sejak usianya 18 hingga sekarang usianya telah 32 tahun. Bapak dua anak ini jarang pulang karena harus mencari nafkah hingga ke tengah laut selama 2 bulan lebih.
"Selama di laut kapal ini ada 13 orang, 1 orang kapten yang menahkodai kapal dan yang lain Anak Buah Kapal (ABK). Susah senang selalu kita bagi bersama. Hampir tak ada jenuh kalau di laut. Selalu saja ada yang lucu-lucu diceritakan kawan-kawan," tutur Wardi dengan logat Banyumasan di Dermaga Muara Angke, Jakarta Barat, Senin (3/3/2014) kemarin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita tidur apa adanya, cuma pakai tikar. Di laut kita berusaha dapat ikan, kembali ke daratan pusing lagi mikirin harga. Semua mahal!" kata Wardi mencurahkan isi hatinya.
Sekitar dua bulan melaut, pendapatan Wardi dihitung secara bagi hasil. Rata-rata dia membawa pulang Rp 2 juta untuk sekali berlayar.
"Dari uang itu, yang Rp 700.000 saya pakai buat beli pancingan. Sisa Rp 1.300.000 saya kirim buat istri di kampung di Indramayu. Sebenarnya sih tidak cukup, tapi mau bagaimana lagi? Harga-harga pokok mahal semua, belum buat anak sekolah, belum yang lainnya. Tambah lagi katanya harga solar mau ikut harga industri," ucap Wardi.
Selama ini harga solar untuk nelayan adalah Rp 5.500 untuk pembelian di bawah 30 ton solar. Sedangkan untuk di atas 30 ton harus membayar sesuai harga non-subsidi sebesar Rp 13.500.
"Bayangkan kalau kita juga harus ikut harga non-subsidi, makin sedikit saja pendapatan kita. Tambah lagi harga ikan di pelelangan tidak ada yang menjamin. Bahan bakar sudah pasti naik, tapi harga yang dijual belum tentu ikut naik," ujar Wardi.
Berjarak tiga kapal di belakang KR Bintang, nampak kapal yang lebih besar yaitu KR Sri Bintang. Sang Kapten yang bernama Karyono nampak fokus memperhatikan penghitungan hasil tangkapan saat bongkar muat.
"Hasil yang kita bawa pulang adalah hasil dari lelang ikan ini. Jangan sampai ada yang kurang ketika dihitung. Jadi sistemnya adalah hasil lelang dibagi dua antara pemilik kapal dengan awak kapal. Jatah untuk awak kapal itu dibagi-bagi ke semua secara rata. Terakhir kami bawa pulang Rp 3 juta untuk dua bulan lebih," papar Karyono.
Karyono mengilustrasikan hasil lelang pada dua bulan lalu yakni Rp 1,125 miliar. Sebelum dibagi dua, hasil lelang itu dikurangi berbagai biaya operasional.
"Untuk perawatan freezer sebesar 10%, perawatan jaring sebesar 25%, biaya perbekalan sebesar Rp 350 juta, dan lauan atau biaya jasa buat ABK sebesar 5%. Sisa dari itu baru bagi hasil antara pemilik kapal dan kami," kata Karyono menjelaskan.
Masih mengganjal di pikiran Karyono soal kenaikan harga solar yang sewaktu-waktu dapat muncul. Dia tak sanggup membayangkan dia dan 40 anak buahnya semakin tertekan oleh harga yang membumbung.
"Kami ini siapa? Hanya lulusan SD. Mana mungkin keluhan kami didengar," imbuh Karyono.
Agaknya jeritan Wardi dan Karyono ini ikut terhempas angin di laut. Hilang ke arah tak tentu, berharap calon pemimpin negeri mendengarkan.
(bpn/van)











































