Tawaran Beasiswa ke Austria Tak Tersosialiasi Baik

Dubes Triyono Wibowo:

Tawaran Beasiswa ke Austria Tak Tersosialiasi Baik

- detikNews
Senin, 25 Agu 2008 08:24 WIB
Tawaran Beasiswa ke Austria Tak Tersosialiasi Baik
Wina - Duta Besar Indonesia untuk Austria-Slovenia Triyono Wibowo akan purnabakti pada Desember 2008 setelah kurang lebih 3 tahun bertugas. Dalam Pesta Rakyat sambut Ulangtahun Kemerdekaan RI pada hari Sabtu 23 Agustus, detikcom berkesempatan berbincang sejenak mengenai hubungan diplomatik Indonesia-Austria dan juga kiprah Indonesia didunia internasional.

Berikut petikan wawancara tersebut:

Apa makna ulang tahun ke-63 kemerdekaan RI kali ini bagi warga Indonesia yang tinggal di Austria dan bagaimanakah gambaran umum warga Indonesia yang bermukim di sini?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hubungan diplomatik Indonesia-Austria pada 2005 sudah mencapai 50 tahun, jadi kini lebih dari 50 tahun diplomatik kita telah terjalin. Dari masa ke masa warga Indonesia yang datang ke Austria juga semakin bertambah.

Kini lebih dari 700 orang Indonesia yang hidup di sini. Mereka tidak hidup di Wina saja tapi tersebar di berbagai daerah di Austria. Untuk itu, momen kemerdekaan RI ini juga merupakan wahana bagi warga Indonesia untuk berinteraksi, berkumpul, dan meningkatkan solidaritas.

Namun demikian kita juga telah membuat wahana lain untuk mereka berinteraksi sepanjang tahun, seperti pengajian, atau aktivitas kerohanian lain, serta GPN atau Gema Puspa Nusantara (unit Kebudayaan - Seni di Kedutaan RI).

Dalam rangka Visit Indonesia Year, adakah pencapaian atau target yang sudah dijalankan?

Ya, kita memang saat ini harus compete dengan negara negara lainnya di Asia seperti Malaysia, Singapura, Thailand bahkan Vietnam, dalam menarik wisatawan. Oleh karena itu, banyak kegiatan kebudayaan berskala internasional yang gigih kita ikuti untuk mempromosikan Indonesia. Dan efeknya memang ada.

Sebagai gambaran saja, dari data pemohon visa ke Indonesia setiap bulan bisa mencapai 200 orang untuk berbagai kepentingan tentunya, dan kebanyakan memang untuk turis. Belum mereka yang datang ke Indonesia dengan visa on arrival dari negara lain, karena kita memang mempunyai kebijakan itu. Jadi bisa saja lebih. Tahun lalu tercatat lebih dari 2.800 orang ke Indonesia. Kita harapkan ini terus bertambah di tahun yang akan datang.

Tentang pendidikan. Salah satu poin dalam sambutan Bapak saat upacara Kemerdekaan RI kemarin adalah tentang harus ditingkatkannya kualitas pendidikan di Indonesia. Adakah program yang telah dicanangkan untuk mendukung itu?

20 Tahunan lalu banyak sekali mahasiswa Indonesia yang dikirim dan bersekolah di Jerman dan juga Austria. Ini mungkin karena saat itu pak Habibie memiliki hubungan erat dengan Jerman. Namun kebelakang, makin sedikit mereka yang datang ke Austria untuk menuntut ilmu.

Saya paham, karena kebanyakan dari akademisi condong melihat kiblat pendidikan Barat ke Amerika, Inggris, atau Australia. Tapi sesungguhnya, Austria bisa dibilang tak kalah bagus. Beberapa cabang keilmuan di Austria, bisa saya bilang sangat maju, dan cocok untuk kondisi Indonesia. Contohnya pertanian, pertambangan, atau metalurgi yang bisa kita pelajari.

Bagaimana dengan program beasiswa, atau pertukaran pelajar dengan Indonesia yang juga banyak diselenggarakan di negara lain?

Sangat banyak sebenarnya program beasiswa dari Austria yang diperuntukkan untuk orang Indonesia. Namun seorang profesor dari universitas di sini pernah mengeluh, tidak pernah ada respons yang baik, bahkan peminat di bawah target. Setelah ditelusuri, ternyata sebagaian besar tawaran beasiswa tersebut kurang tersosialisasi dengan baik.

Oleh karena itu, saya saat ini mengimbau agar tawaran beasiswa langsung dipromosikan ke universitas-universitas yang bersangkutan. Itu jauh lebih efektif.

Namun memang ada satu kendala di sini yang mungkin jadi pertimbangan banyak orang, yaitu bahasa. Sebagian besar sekolah menggunakan bahasa Jerman.

Target ke depan. Harapan dan apa yang harus dilakukan untuk Duta Besar berikutnya?

Sejauh ini, kita sudah banyak melakukan perjanjian bilateral dalam bidang tertentu dengan Austria. Pada tahun 2007 awal kita telah menyelesaikan kerjasama di bidang IPTEK termasuk lebih menggiatkan pertukaran, dosen, ilmuwan, mahasiswa. Dan yang terkahir pada Januari 2008, kita baru saja merampungkan perjanjian bebas visa dan paspor diplomatik/dinas.

Berbicara mengenai target ke depan bagi penerus saya, saya tidak bisa memberi guideline pasti, karena setiap utusan memiliki mission paper yang berbeda-beda. Tapi yang jelas, ke depan , kita masih perlu menjalin kerjasama untuk pembangunan ekonomi, termasuk investasi. (sal/nrl)


Berita Terkait