Gus Choi justru menganggap peringatan tersebut sebagai cara Gus Dur membesarkannya. Dia juga akan tetap menghormati Gus Dur sebagai guru, panutan, bahkan orang tua.
Berikut hasil wawancara detikcom dengan Gus Choi melalui telepon, Senin (18/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa yang dikemukakan Gus Dur kita hormati semua. Karena beliau adalah guru saya, pemimpin saya dan orang tua saya. Peringatan itu adalah cara Gus Dur membesarkan saya.
Soal langkah Gus Choi yang memilih mendaftar di LPP Cak Imin?
Saya merasa dalam koridor yang benar, karena Muhaimin adalah ketum dewan tanfidz hasil Muktamar Semarang, bukan Ancol. Karena MLB Parung dan Ancol sama-sama tidak sah. Jadi soal rekrutmen, Muhaimin yang punya hak.
Nggak takut dianggap membelot/berkhianat terhadap Gus Dur?
Kalau yang menang di MA (Mahkamah Agung) MLB Ancol berarti saya membelot. Tapi MLB Ancol dan Parung kan tidak ada. Saya ini mengakui keputusan MA. Muhaimin kembali jadi Ketum PKB sesuai Muktamar Semarang, dan Lukman Edy sebagai sekjennya. Ini langkah yuridis. Tidak ada pengkhianatan.
Saya tidak mau konflik, pecat memecat, beku membekukan, saya tidak tahan lagi. Saya ambil jalur normatif, yuridis dan kultural. Karena rakyat juga tak menginginkan begini terus.
Kenapa tidak mendaftar melalui DPP Kalibata saja?
LPP yang sah kan LPP-nya Muhaimin. Dia yang berhak membuka pendaftaran.
Langkah Gus Choi ini juga diikuti kader PKB lain?
Sudah banyak yang niru. Ya lebih dari 20-an lah. Tapi perlu saya tegaskan, kita tetap hormat kepada Gus Dur. (anw/nwk)











































