Meski Andaryoko sudah sepuh, namun ingatannya masih tajam. Dia bahkan cas cis cus saat ditanya mengenai kisah-kisah sejarah yang terjadi puluhan tahun silam. Andaryoko mengaku kalau dirinya membuka identitas dirinya atas perintah Bung karno.
Kontan saja pengakuan ini mendapatkan respon dari kalangan sejarahwan. Asvi Warman Adam, peneliti sejarah LIPI, saat dihubungi oleh detikcom mengatakan tidak mungkin Andaryoko adalah Supriyadi yang asli.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas apa tanggapan dan cerita sesuai sejarah selama ini terkait kehidupan Supriyadi? Bagaimana gelar pahlawan nasional yang telah diberikan selama ini oleh pemerintah jika orangnya masih hidup ? Berikut petikan wawancara Ronald Tanamas dari detikcom dengan Asvi Warman Adam :
Seperti apa sejarah Supriyadi yang ada ?
Jepang membentuk PETA pembela tanah air yang bisa digunakan untuk membantu Jepang. PETA dilatih di Tangerang. Di Pulau Jawa namanya PETA, sedangkan di Sumatera Boei Giyugun, namun fungsinya sama. Di Blitar, Supriyadi dan kawan-kawan tidak senang dengan Jepang, maka melakukan pemberontakan pada tanggal 14 Februari 1945.
Pemberontakan itu ditumpas oleh Jepang. Puluhan orang ditangkap dan dibawa ke Jakarta untuk diadili. Ada 6 orang yang dijatuhi hukuman mati. Tapi di dalam orang yang ditangkap itu tidak termasuk Supriyadi. Maka dari itu dia dinyatakan hilang.
Setelah pasca menrdeka, Soekarno mendirikan kabinet, kemudian Supriyadi diangkat menjadi Menteri Keamanan Rakyat. Supriyadi diangkat menjadi menteri dengan tujuan memperlihatkan ke dunia internasional bahwa kabinet itu bukan boneka Jepang. Dan memang pada masa itu seseorang diangkat tanpa dihubungi bukan hal yang aneh, karena komunikasi memang sulit.
Dua minggu sesudah kabinet diumumkan Supriyadi tetap tidak muncul. Jadi diangkat orang lain sebagai pelaksana kementerian tsb. Sampai pada tahun 1975 ada ide yang muncul dari pemerintah untuk menjadikan Supriyadi pahlawan nasional. Ketika ada ide tersebut, harus dipastikan apakah Supriyadi masih hidup atau tidak.
Melalui Nakajima (mantan pelatih Supriyadi di Seinendojo, Tangerang) yang juga pernah ada di Blitar, Nakajima mengatakan awal tahun 1946 Supriyadi pernah singgah di rumahnya. Baru setelah itu melanjutkan perjalanan ke Banten tepatnya di daerah Bayah.
Di Bayah, ada seorang haji yang mengaku memakamkan Supriyadi karena sakit disentri. Kemudian ada penggalian yang dilakukan oleh Depsos. Di tempat tersebut ditemukan rangka manusia kemudian dibawa ke Yogya untuk diteliti oleh Prof Teuku Yakub yang bekerjasama dengan forensik lainnya untuk meneliti kerangka tersebut.
Kemudian ada Utomo Darmadi yang merupakan adik tirinya Supriyadi dan mengatakan cirinya di kerangka tersebut tidak sama karena giginya tidak utuh dan kedua kakinya bengkok. Setelah dinyatakan bukan Supriyadi, pemerintah mengangkat Supriyadi sebagai pahlawan nasional.
Saat ini ada yang mengaku sebagai Supriyadi, bernama Andaryoko Wisnu Prabu. Apakah memang banyak yang mengaku-mengaku sebagai Supriyadi, dan akhirnya seperti apa?
Pada masa Soeharto ada 5 orang yang mengaku sebagai Supriyadi. Utomo Darmadi, adik tiri Supriyadi, diminta untuk menemui orang yang mengaku-ngaku Supriyadi. Kemudian Utomo Darmadi mengajak orang tersebut berbicara dengan bahasa Jepang dan Belanda namun orang yang mengaku Supriyadi tidak bisa menjawab. Padahal masa lalunya, Supriyadi sangat menguasai kedua bahasa tersebut.
Jika memang benar Andaryoko adalah Supriyadi tokoh PETA, apa dampaknya bagi sejarah Indonesia?
Dampak negatifnya adalah membuat rancu tentang gelar pahlawan nasionl. Pahlawan nasional adalah orang yang sudah meninggal dengan pertimbangan yang masuk akal. Mana ada pahlawan nasional yang masih hidup? Dan tidak ada dalam sejarahnya di Indonesia gelar pahlawan yang dicabut.
Positifnya, bangsa Indonesia akan bisa mendapatkan cerita sejarah yang benar-benar dari pelaku langsung dan bisa meluruskan cerita yang selama ini tidak benar dan tidak diketahui.
Apa mungkin ini kesalahan dari pemerintah pada waktu itu?
Menurut saya pemerintah tidak akan melakukan tindakan yang ceroboh. Karena pada tahun 1975 pemerintah sudah melakukan penggalian dan ternyata memang tidak ada orangnya.
Sekali lagi jika isu ini benar, apakah ini bisa dikatakan sebuah skandal sejarah nasional, dan siapa yang harus bertanggung jawab ?
Saya menilai ini bukan skandal, tapi memang dia (Andaryoko) adalah anggota PETA di Blitar dan kemudian setelah Indonesia merdeka bekerja menjadi pegawai pemerintahan di Semarang sehingga bisa bertutur kata yang halus, mengetahui sejarah dengan lancar. Tapi menurut saya dia bukan Supriyadi, karena kalau asli kenapa tidak muncul dari dulu. (ron/iy)











































