Setiawan Djodi: Banyak Tikus di Sektor Minyak

Setiawan Djodi: Banyak Tikus di Sektor Minyak

- detikNews
Jumat, 01 Agu 2008 11:07 WIB
Jakarta - Mengapa negeri ini mengalami krisis energi? CEO Grup Setdco yang antara lain membidangi perminyakan dan perkapalan Setiawan Djodi punya jawabannya. Menurut pengusaha yang juga seniman ini, krisis energi terjadi karena banyaknya tikus di sektor energi.

"Seharusnya negara ini sudah bisa mengekspor minyak dan bisa menggunakan bahan bakar gas untuk dikonsumsi di dalam negeri," kata Djodi.

Djodi menengarai pergolakan mafia minyak di negara ini lebih sadis dibandingkan mafioso di film-film. Yang menyedihkan lagi, kata Djodi, mafia yang terjadi di negara ini bukan hanya sekedar mafia minyak akan tetapi mafia kebangsaan.

Untuk mengurangi mafia minyak ini, Djodi meminta Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro untuk segera mengganti sistem yang sudah dibuat. "Saya sudah katakan kepada Purnomo yang juga teman saya itu, untuk segera mengubah sistem, karena kalau tidak, akan membuat negara ini semakin terpuruk dan rakyat menjadi susah," kata Setiawan Jodi saat berbincang dengan detikcom.

Lantas apa yang seharusnya dilakukan oleh negara ini agar bisa keluar dari krisis energi? Lalu adakah obsesi Djodi di tengah ramainya bursa capres?

Berikut petikan wawancara Ronald Tanamas dari detikcom dengan Setiawan Djodi di kantor Gerakan Indonesia Bersatu, Jalan Wijaya, Jakarta:


Bagaimana anda melihat gerakan dari DPR mengenai panitia hak angket BBM?

Saya harapkan saudara Zulkifli Hasan (Ketua Pansus Angket BBM DPR) dan timnya harus steril. Karena masa depan bangsa ini tergantung dari tindakan yang dilakukan oleh panitia angket ini. Selain itu pertaruhannya adalah nama partai PAN yang dipercaya sebagai mediator antara pro dan kontra.

Saya tidak punya pretensi negatif terhadap siapapun. Saya selalu positif thinking agar tim angket ini membuktikan kerjanya kepada rakyat. Karena sudah menjadi public secret kebijaksanaan energi selama satu dasawarsa ini adalah set back 32 tahun yang lalu.

Apakah krisis energi di negeri ini disebabkan oleh mafia minyak sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan?

Oh iya. Tentunya penyebab krisis energi di negara kita karena disebabkan oleh mafia minyak karena sejak SBY mulai jadi presiden sudah ada strategi energi yang bagus. Jadi misalnya pemakaian gas di dalam negeri sudah siap semuanya. Ditambah dengan 3 tahun sudah dibuat terminal-terminal gas yang dimulai dari Sumatera dan tidak mengimpor BBM yang jumlahnya sangat signifikan dengan pemakaian energi dalam negeri karena telah di-LNG-kan.

Jadi sebenarnya jika minyak mau naik sampai US$ 150 per barel, presiden tidak perlu pusing lagi, rakyat Indonesia malah mendapatkan profit. Karena ada orang yang tidak suka dan menginginkan impor BBM dilakukan dengan tidak mau dibangunnya refinery (kilang).

Saya tidak mengatakan ini karena mafia, akan tetapi jika pernah melihat film mafioso, dalam hal ini lebih berbahaya dari film tersebut karena ini adalah mafia kebangsaan.

Yang penting buat SBY untuk segera recover untuk beliau mau survive lagi apa nggak. Saya terang-terangan saja karena beliau adalah sahabat saya, dan saya tidak mau terkontaminasi dengan politik atau policy beliau.

Menurut anda, siapa yang bertanggung jawab di dalam permainan mafia minyak ini, apakah Purnomo patut bertanggung jawab dalam permasalahan ini?

Mungkin tidak baik kalau saya menunjukkan siapa orangnya. Tapi yang jelas gambarnya itu. Saya tidak mau mengomentarinya. Kalau saya bilang hanya Purnomo pribadi, saya sudah bilang kepada beliau urusan untuk mafia korupsi itu urusan KPK tapi sistem yang anda buat harus kita ubah secara bersama-sama karena kebijakan yang selama ini, itu sangat salah.

Terbukti dari harga gas yang dimainkan sejak zaman Pak Ibnu Soetowo (mantan Dirut Pertamina) di mana saya ikut belajar membuat sistem JCC itu yang penting simple. Box daripada index harga minyak yang diimpor dari pemerintah Jepang katakanlah indexnya sekarang 130 potong rata-rata jadi 120 lalu kalikan dengan 15% maka akan menarik semuanya.

Dari ini saja, saya belum bicara impor BBM karena ruginya kecil. Tapi tidak sebanyak kerugian dari harga gas jika tidak ditertibkan.

Saya usulkan moratorium dulu kontrak itu dari whole dulu begitu produksi pakai dalam negeri dulu. Jika belum bisa jual keluar dengan harga spot. Harga spot di luar US$ 20 dan saya bisa bantu. Jika ada yang bilang bisa di bawah harga itu namanya tikus.

Siapapun yang bilang harga gas hanya di bawah US$ 20, baik itu menteri, DPR atau pejabat tinggi sekalipun saya katakan itu tikus yang harus diseret ke meja hukum. Minyak itu seharusnya negara kita sudah bisa ekspor, untuk penggunaannya di dalam negeri pakai gas. Batubara masak 80 % diekspor, harusnya dalam negeri. Ini sistemnya yang salah, kenapa salah? Karena ada tikusnya.

Terkait impor minyak, saat ini Pertamina sedang membuat satu badan khusus yang berisi orang-orang asing untuk menangani hal ini. Menurut anda ?

Buat apa membuat badan khusus seperti itu? Tentukan dan buat sistem yang bersih. Kalau mau buka-bukaan, bersihkan saja sistemnya. Contoh pembelian minyak dari Saudi Arabia dan carilah produser-produser BBM yang tidak melalui trader sisanya boleh lewat trader tapi yang resmi dan ditunjuk oleh produser. Ini yang saya lakukan, tapi saya tidak mau menyentuh minyak Indonesia, lebih baik bermain di negara luar saja. Alasannya kenapa? Karena saya tidak mau menjadi tikus.

Apa kegiatan anda saat ini ?

Saya sedang menjalankan bisnis minyak. Saya menjual harga resmi dari pemerintah Rusia dengan menjadi marketing arm-nya antara Rusia dan China. Di Rusia, ada Rosneft dan Gazprom, di China yang besar hanya ada CNPC, China Oil dan Sinopec. Jadi harganya semua resmi. Dan jaraknya jangan hanya per tiga bulan tapi minimal langsung setahun.

Lantas apa yang menyebabkan semuanya menjadi kacau seperti ini ?

Negara ini kacau karena low investment dan diacak-acak oleh duit. Salah satu tikusnya ada di DPR itu. Terbukti dengan adanya privatisasi di Indosat dan Telkomsel mestinya yang beli itu pemerintah dan swastanya. Saya berencana mau membeli Telkomsel sehabis lebaran ini tapi jangan minta harga di atas US$ 5 miliar karena saya tahu harga jualnya hanya US$ 1.3 miliar boleh naik tapi jangan keterlaluan.

Apakah anda tidak tertarik ingin mencalonkan diri sebagai presiden ?

Tidak saya tidak tertarik. Saya maunya hanya menjadi presiden di Kantata Takwa saja. Ha ha ha.... (ron/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads