Dengan permintaan Gerindra, Prabowo yang kalah dalam Konvensi Partai Golkar 2004 itu tidak bisa menolak. Dia akan maju bila memang rakyat menghendaki. Putra begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo itu merasa cocok dengan Gerindra yang mengusung ekonomi kerakyatan. Prabowo melihat Indonesia saat ini lebih kapitalis dibanding negara kapitalis.
Berikut tanya jawab Prabowo dengan para wartawan dalam jumpa pers di Restoran Nusa Dua, Senayan, Jakarta, Senin (14/7/2008). Prabowo yang mengenakan baju safari cokelat muda tampak semangat menjawab pertanyaan wartawan:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum sampai di situ. Saya kira setiap organisasi perlu, dan ada sistem organisasi keanggotaan. Saya kira ini masih dalam proses. Saya sendiri akan berunding dengan tokoh-tokoh di organisasi tersebut, bagaimana nanti kedudukan saya.
Meskipun baru masuk Gerindra, mengapa bapak selalu diidentikkan dengan Gerindra sejak lama?
Saya kira memang demikian ya, bahwa tokoh-tokoh Gerindra memang dari awal selalu mendesak saya untuk bergabung dan mereka mengatakan berkali-kali ingin mengusung saya. Dan juga kalau kita lihat platform Gerindra, saya kira sangat dekat dengan cita-cita saya, pandangan-pandangan saya, yaitu ekonomi kerakyatan, kembali ke Undang-Undang Dasar 1945 versi 18 Agustus 1945. Yah jelas ruhnya harus kita tegakkan dan jalankan, yaitu yang sudah kita lihat kehilangan arah. Saya lihat suasana kita kok lebih kapitalis dari negara-negara kapitalis sendiri. Kapitalisme kita seolah sudah tanpa kendali. Yang pembangunan ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang dianggap cukup baik, 6 persen setahun, ternyata hanya dinikmati segelintir orang. Jadi ini yang kita ingin perbaiki. Dan saya lihat Partai Gerindra partai yang jelas dan tegas dalam platformnya.
Partai Gerindra sendiri mengusung Bapak sebagai apa?
Mereka banyak yang minta saya sebagai calon Presiden.
Sikap Bapak untuk itu?
Sikap saya adalah marilah kita lihat perkembangan dinamika poltik. Tentunya kalau ada respons, kalau ada dukungan riil, setiap warga negara harus menanggapi sebagai suatu panggilan tugas. Tetapi, jika tidak ada respons dan kurang dukungan riil, saya kira kita juga harus realistis dan kita juga harus, e.. jangan kita apa itu istilahnya.... ge er...ya, kalau dukungannya tidak signifikan ya saya kira kita bisa berjuang di status lain.
Apakah Bapak ada keinginan untuk maju sebagai Capres 2009?
Saya kira begini ya. Kondisi bangsa kalau memang dalam keadaaan sulit, setiap warga negara harus bersedia menyumbangkan tenaga dan pikirannya di bidang apapun yang dituntut. Jadi itu panggilan tugas bagi setiap warga negara. Jadi ini bukan soal ingin secara pribadi atau tidak ingin secara pribadi. Saya kira Anda harus tahu setiap orang yang maju di bidang politik itu berkorban ya, setiap orang. Jadi ini bukan keinginan pribadi, jadi sekali lagi saya katakan jika kondisi bangsa menuntut, membutuhkan tenaga dan pikiran setiap warga negara, warga negara tersebut harus mau.
Tapi ini bukannya opsi Bapak untuk saat ini?
Tadi kan sudah saya jawab, kalau ada respons dan ada dukungan. Kalau dukungannya satu angka, ya untuk apa saudara-saudara. Namanya ge er itu...hehe
Apakah bapak hanya menjadi icon bagi Gerindra untuk menarik massa?
Saudara-saudara, sekali lagi saya tekankan ini bukan soal ingin atau tidak ingin. Ini adalah jawaban terhadap kebutuhan. Kalau memang kebutuhan daripada rakyat demikian, saya kira satiap warga negara harus merespons dengan baik.
Jika perolehan suara Gerindra kecil, kemudian ada partai besar seperti Golkar, PDIP dan segala macamnya mendapat suara besar dan ingin mengusung Bapak sebagai Presiden atau wakil Presiden. Apakah Bapak bersedia?
Saudara, tadi sudah saya jawab. Kita akan melihat dinamika pekembangan politik. Sekali lagi saya akan menjawab respons daripada rakyat.
Anda sudah bertemu JK untuk menyatakan mundur dari Golkar. Berapa lama pertemuan dengan JK, dan apakah JK keberatan?
Ketemunya setengah jam. Saya katakan suasana akrab, karena hubungan saya baik sekali sama beliau. Itu terus terang saja saudara-saudara, salah satu hari yang paling berat bagi saya. Karena saya dulu di tentara, Anda tau juga Golkar yang mendirikan tentara, jadi kemarin itu hari yang berat, jadi saya banyak pendukung di Golkar, di kabupaten-kabupaten, di Provinsi. Hari yang berat bagi saya kemarin itu, tapi itu terpaksa saya lakukan supaya tidak ada rancu, tidak ada ketikjelasan di masyarakat. Hubungannya baik, bahkan kita mengenang masa lalu. beliau mengatakan "Prabowo dulu kita kan punya guru yang sama," guru yang sama itu beliau sebut adalah Jenderal dari Makasar yaitu Pak Muhammad Yusuf. Pak Kalla dulu dekat dengan Pak Yusuf, saya pun juga sangat mearasa dibesarkan oleh Pak Yusuf waktu itu, waktu saya sebagai Letnan. Kita mengenang saat itulah, bagaimana kita hormat dan kagum kepada Jenderal Muhammad Yusuf, yang dulu sempat menjadi Panglima ABRI waktu itu. Suasananya baik, dan saya kira kita berpisah dengan baik. Dan beliau katakan "Prabowo kita hanya berpisah organisasi saja, tapi kita tidak berpisah cita-cita dan harapan maupun cinta terhadap tanah air. Saya kira itu suatu sikap yang sangat baik, saya jadi lebih enak, jadi lebih lega lah begitu.
Bagaimana bapak menghilangkan citra negatif ketika tahun 1998, Bapak dinilai sebagai aktor tindakan itu?
Saya kira begini ya saudara. Kita menghadapi kondisi sulit sebagai bangsa, kita ke depan kita ingin berbuat yang terbaik. Silakanlah rakyat yang menilai. Saya kira kembali ke masa lalu ke 98 banyak kontroversi, banyak versi, sejarah juga akan mempelajari sebenarnya. Saudara-saudara sendiri juga merasakan apa yang terjadi, mungkin baru sekarang saudara-saudara tahu yang sebenarnya. Jadi saya kira, saya ingin melihat ke depan, hati nurani saya bersih, saya ingin menyumbangkan sebaik-baiknya untuk rakyat Indonesia. Bagi saya kepentingan rakyat di atas kepentingan lain, kepentingan bangsa Indonesia. Saya berdiri di atas keyakinan saya untuk membela negara dan bangsa. Dari dulu demikian, sekarang demikian.
Bapak kan pernah ikut konvensi Partai Golkar tahun 2004, kira-kira bapak bisa menjaga konstituen bapak yang dulu?
Kalau anda simak, waktu saya turun di konvensi Golkar, dokumentasinya, inti dari perjuangan saya adalah kemandirian dalam bidang ekonomi, yakni swasembada pangan. Itu yang saya perjuangkan 2004, itu yang saya sekarang perjuangkan. Jadi saya tidak batasi pada konstituen yang ada di Partai Golkar, saya berjuang di hadapan seluruh rakyat Indonesia. Marilah kita sekarang bicara masalah, masalah yang kita bicarakan. Masalah apa? Masalah kemandirian pangan, masalah energi. Ini krisis yang harus kita jawab untuk rakyat, rakyat butuh solusi, rakyat butuh suatu langkah-langkah nyata yang konkret untuk keluar dari kondisi bangsa ini.
Artinya pemerintahan bapak sekarang tidak memberikan solusi, makanya bapak keluar Golkar yang pendukung Pemerintah?
Silakan saudara yang jawab, silakan rakyat yang jawab. Kita ini kan sebagai warga negara dalam kondisi yang sulit, kita menawarkan solusi. Mungkin ada warga negara B, ada warga negara C, ada figur di pemerintah, semua menawarkan solusi, rakyat yang menilai. Mana yang nyata, mana yang realistis, mana yang tidak realistis. Ini kan paham demokrasi seperti itu.
Jika rakyat responsnya menghendaki bapak menjadi Capres 2009, apakah bapak bersedia? Penegasannya pak?
Penegasannya sudah saya sampaikan dengan tegas, apabila rakyat memang menghendaki, kewajiban setiap insan untuk menjawab panggilan tersebut. Sudah jelas belum? Wuahahaha.... Anda mau apa? Saya sudah katakan setiap warga negara termasuk saya, apabila rakyat menghendaki harus menerima amanat tersebut, kalau tidak, berarti dia tidak menjalankan kewajiban sebagai warga negara. (asy/iy)











































