Saya Ingin Kalahkan AAC

Chaerul Umam:

Saya Ingin Kalahkan AAC

- detikNews
Rabu, 30 Apr 2008 08:32 WIB
Saya Ingin Kalahkan AAC
Jakarta - Bagi remaja sekarang, nama Chaerul Umam mungkin kurang dikenal. Tapi bagi yang menyimak perfilman Indonesia, siapa sih yang tidak kenal dengan sutradara kawakan ini? Pria ini merupakan sutradara ternama di negeri ini. Penghargaan maupun nominasi baik lokal maupun internasional telah digenggamnya.
Β 
Piala Citra, yang menjadi ukuran penghargaan bergengsi di dalam negeri, misalnya sudah sering disabet Chaerul Umam. Film yang disutradarai pria kelahiran Tegal,
Jawa Tengah, 4 April 1943 ini seperti Nada dan Dakwah mendapat 12 nominasi Citra. JugaΒ  ada Ramadhan dan Ramona yang meraih 5 Citra pada tahun 1992. Penghargaan internasional seperti Festival Film Asia 1977 pun disabet sutradara gaek ini untuk film Al Kautsar.
Β 
Setelah perfilman Indonesia tiarap, Chaerul Imam pun absen dari dunia film. Jebolan psikologi UGM ini banting setir ke dunia sinetron. Sinetron "Jalan Lain ke Sana" dan "Maha Kasih" adalah beberapa sinetron yang sempat dibesutnya.
Β 
'Bertapa' hampir 9 tahun setelah menggarap Fatahillah, sutradara kawakan ini kembali turun gunung. Ia didapuk menyutradarai novel laris karya Habiburrahman El Shirazy "Ketika Cinta Bertasbih". Ayat Ayat Cinta, karya Kang Abik, begitu Habiburrahman disapa, sebelumnya, telah difilmkan dan laris manis dengan 3 juta penonton.
Β 
Ketika Cinta Bertasbih berkisah soal Azzam, seorang mahasiswa yang kuliah selama 7 tahun di Al Azhar, Cairo, Mesir. Azzam yang miskin, tapi ulet dan teguh beragama, harus mengalami sejumlah persoalan hidup yang menderanya mulai harus dengan berjualan bakso dan tempe sampai masalah cinta dengan sejumlah perempuan cantik.
Β 
Bagaimana sutradara gaek ini akan memfilmkan novel laris Kang Abik? Apa strateginya agar filmnya tidak kalah dengan Ayat Ayat Cinta yang terlanjur menjadi fenomena?
Β 
Pukul tiga sore Chaerul Umam meminta detikcom menemuinya di Gedung Perintis Kemerdekaan atau Gedung Joeang, Jakarta. Lantai 5 gedung ini merupakan lantai yang khusus mengurusi perfilman Indonesia. Berikut petikan wawancara Ronald Tanamas dari detikcom dengan Chaerul Umam:
Β 
Target apa yang ingin anda capai dalam pembuatan film Ketika Cinta Bertasbih ini?
Β 
Saya inginnya film Ketika cinta bertasbih bisa mengalahkan film ayat-ayat cinta. Mengingat penjualan novelnya sudah dalam cetakan 18 ribu gitu. Padahal waktunya belum mencapai satu tahun. Sedangkan Ayat-Ayat cinta hebohnya setelah 2 - 3 tahun. Kalau pembacanya lebih, biasanya penontonnya juga akan lebih. Tapi banyaknya penonton inikan hanya salah satu faktor dari sebuah keadaan pada saat itu.
Β 
Seberapa jauh Kang Abik ikut berperan dalam film ini ?
Β 
Dia menginginkan film ini otentik. Kang Abik selalu mendampingi kita dalam pencarianΒ  tempat-tempat seperti yang dia maksud. Dalam masalah pencarian pemain, dia juga maunya otentik seperti orang nya yang berakhlak, pintar ngaji dan seperti itulah.
Β 
Kabarnya pembuatan film ini juga dibuat dengan menggunakan bahasa Arab?
Β 
Iya. Bahasa Arab itu akan digunakan pada saat orang Indonesia berkomunikasi dengan orang Arab agar penonton jangan bingung saat menonton filmnya. Karena nantinya ada set lokasinya di negara Mesir. Kalau menggunakan bahasa Indonesia kan nanti mereka bingung.
Β 
Kang Abik saya minta menjadi supervisi dalam bahasa Arab, dan ada 5.000 mahasiswa IndonesiaΒ  yang sedang kuliah di Mesir yang bisa digunakan untuk membantu dalam pembuatan film ini. Saat ini sudah banyak email, dan sms yang masuk dari mahasiswa Indonesia yang kuliah di Mesir menyatakan kesiapan untuk membantu.
Β 
Anda sudah lama menghilang dari dunia film, apakah tidak takut menjadi beban kalau film ini tidak sukses nantinya ?
Β 
Kalau masalah artistik dan penyutradaraan itu sama saja. Saya juga menyutradarai sinetron. Pekerjaannya itu sama saja, tinggal masalah teknologinya saja. Dari dulu saya tidak ngerti masalah teknologi film dan biasanya saya serahkan kepada orang-orang yang ahli di bidangnya. Dan Cuma yang menjadi masalah orang akan menantang besarnya penonton.
Β 
Tapi itu bukan urusan saya. Urusan saya adalah penyutradaraan dari sebuah film yang artistik dan komunikatif. Untuk masalah penonton itu urusan Allah.
Β 
Adakah strategi khusus yang anda buat untuk film ini ?
Β 
Jadi film ini akan mengikuti apa yang ada di dalam novel itu. Karena orang punya image tentang apa yang diceritakan oleh Kang Abik. Saya akan mencoba bayangan pembaca itu diterjemahkan dalam gambar.
Β 
Kapan rencananya film ini akan mulai produksi ?
Β 
Mungkin setelah lebaran. Karena Juli-Agustus itu sudah harus selesai megenai persiapannya, Setember itu kan sudah Ramadhan kalau kita syuting pada saat Ramadhan kayaknya kurang enak ya, mungkin sekitar awal Oktober mulainya.
Β 
Bagaimana dengan karakteristik dari para calon pemain film ini ?
Β 
Kita akan mencari 5 pemain untuk tokoh mudanya. Kelimanya ini harus memenuhi syarat taat beribadah, akhlaknya yang baik,Β  usianya sudah dewasa. Pemain utamanya seperti Azzam orangnya memang gesit,Β  cerdas, religius, jelas pribadinya dan penuh tanggung jawab.
Β 
Perempuannya bernama Ana, seorang anak Kiai, S2,Β  Sholeh, cerdas dan menguasai 4 bahasa asing. Ada lagi seorang anak perempuan dari duta besar yang berlatar belakang sekuler dan cerdas juga kuliahnya di Prancis.
Β 
Para pemain ini harus lolos seleksi dari para juri yang terdiri dari Neno Warisman, Didi Petet, Kang Abik dan untuk finalnya saya akan minta tolong kepada Dedi Mizwar untuk mengaudisi.
Β 
Untuk lokasinya syutingnya di mana saja ?
Β 
Di luar negeri ada di Mesir dan Tunisia. Sedangkan di dalam negeri akan diambil di Jawa Tengah bagian selatan seperti Klaten, Solo, dan Semarang.
Β 
Menurut anda, idealnya pembuatan film harus seperti apa ?
Β 
Film bernuansa seperti ini (Ketika Cinta Bertasbih) yang seharusnya banyak dibuat. Selain itu naskah- naskahnya juga harus berisi pencerdasan. Tidak menakut-nakuti. Berseleranya agak dalam, bukan hanya dipermukaan. Kalau ada konflik, buat konfliknya yang berkualitas seperti konflik batin, perbedaan pendapat dalam berdiskusi kalau sekarang konfliknya hanya fisik saja, akhirnya tidak menjadi mutu.
Β 
Untuk kemajuan perfilman apa yang bapak harapkan dari pemerintah ?
Β 
Pemerintah mensupport film- film yang dianggap bagus seperti Ayat-Ayat Cinta, Nagabonar karena ini bisa mempengaruhi masyarakat untuk menonton film. Karena kita tahu masyarakat sekarang sudah apriori dengan perfilman saat ini karena mereka merasa tertipu oleh covernya saja. Sedangkan isinya tidak bagus. Kemudian bagaimanapun juga kita tergantung kepada teknologi, tolong dong kepada pihak pemerintah untuk diberikan kemudahan dalam hal ini.
Β 
Apakah banyaknya pejabat menonton film, menurut anda cukup signifikan untuk mempengaruhi masyarakat mau menonton?
Β 
Oh tentu. Karena kita ini masih menganut faham 'ikut bapak' kalau bagus filmnya itu positifkan.
Β 
Apa hal yang paling mendasar yang perlu diketahui oleh para sineas agar bisa membuat film yang benar-benar bagus ?
Β 
Pendidikan. Pendidikan perfilman dan tentunya harus membutuhkan support seperti alat-alat dan teknologi dari pemerintah. Misalnya pemerintah menyekolahkan sineas yang berbakat atau datangkan guru-guru dari luar negeri. Seperti di Malaysia contohnya para sineasnya disekolahkan dan bila berprestasi akan diberikan kemudahan untuk nonton di mana saja bebas. Dan ini juga bisa membuat para sineas bergairah untuk membuat film yang bagus bukan membuat film yang asal laku.
Β 
Pemerintah sekarang lebih fair dan mau memberikan perhatiannya dibandingkan pemerintah yang dulu. Mana ada presiden atau wakil presiden nonton film? karena biasanya mereka merasa gengsi untuk menonton film.
Β 

DATA PRIBADI
Β 
Nama asliΒ Β Β  : Imam Setyantono Chaerul Umam
LahirΒ Β Β  Β Β Β  Β Β Β  : Tegal, 4 April 1943
Pendidikan : Fakultas Psikologi UGM
Β 
Filmografi
Β 
Β Β Β  * Ketika Cinta Bertasbih (2008)
Β Β Β  * Fatahillah (1997)
Β Β Β  * Al Kautsar (1977)
Β Β Β  * Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982)
Β Β Β  * Nada dan Dakwah (1992)
Β Β Β  * Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986)
Β Β Β  * Ramadhan dan Ramona (1992)
Β Β Β  * Bintang Kejora (1986)
Β Β Β  * Hati yang Perawan (1984)
Β Β Β  * Keluarga Markum
Β Β Β  * Joe Turun ke Desa (1989)
Β Β Β  * Tiga Sekawan (1975)
Β Β Β  * Cinta Putih {1977)
Β Β Β  * Sepasang Merpati (1979)
Β 
Sinetron
Β 
Β Β Β  * Jalan Lain ke Sana
Β Β Β  * Jalan Takwa
Β Β Β  * Astagfirullah
Β Β Β  * Maha Kasih
Β Β Β  * Rumah Tuhan Rumah Kehidupan
Β 
Penghargaan:
-Film 'Al-Kautsar' meraih penghargaan dari Festifal Film Asia (FFA) di Bangkok (1977) untuk Film Budaya Sosial Terbaik dan Rekaman Suara Terbaik. (ron/iy)
(Ronald Tanamas/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads