Saya Dituding Jadi Agen BIN

Bersama Ja\'far Umar Thalib (2)

Saya Dituding Jadi Agen BIN

- detikNews
Jumat, 05 Okt 2007 10:14 WIB
Saya Dituding Jadi Agen BIN
Jakarta - Sikap Ja'far yang belakangaan sering menentang tindakan kelompok-kelompok Islam garis keras di Indonesia, membuatnya diserang tudingan. Ja'far Umar Thalib diduga telah menjadi antek pemerintah. Tapi Ja'far tidak menggubrisnya. Begitupun dengan tudingan bahwa pembubaran Laskar Jihad akibat tekanan Barat terhadap dirinya. Menurut Ja'far, Laskar Jihad, juga Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jamaah. Malah Ja'far kerap mengajak debat tokoh-tokoh kelompok tersebut, termasuk Ustad Abu Bakar Ba'asyir (ABB). Namun niat itu tidak kesampaian. Karena yang diinginkan Ba'asyir hanya ingin membahas soal politik, bukan soal tafsir agama.Bagaimana ceritanya? Berikut petikan wawancara Deden Gunawan dari detikportal dengan Ja'far Umar Thalib usai mengikuti diskusi di Universitas Paramadina: Saat ini banyak masyarakat yang terpancing melakukan aksi kekerasan terhadap kelompok yang dianggap ajaran sesat, atau terhadap agama lain, bagaimana ini bisa terjadi?Kondisi ini memang sangat merisaukan. Saya mengimbau kepada masyarakat, terutama umat Islam untuk lebih banyak bekerjasama dengan aparat penegak hukum, guna menyatakan ketidakpuasan dan keresahan-keresahan tetang ajaran sesat. Supaya penyelesaiannya bisa melalui jalur hukum. Tidak dengan tindakan anarkis.Lantas bagaimana dengan tokoh-tokoh Islam yang selalu memanas-manasi umatnya untuk bersikap keras Saya rasa kelompok-kelompok yang memberikan doktrin-doktrin dan pemahaman agama yang ekstrim tersebut mestinya dieliminir oleh aparat keamanan dan hukum, termasuk juga MUI. Ini bertujuan untuk menghindarkan potensi kerusuhan yang terus mengintai akibat gerakan dan kiprah mereka. Itu harus ada tindakan dan pembahasan yang lebih komprehensif tentang pemahaman ajaran yang sesat yang ekstrim. Agar masyarakat atau umat muslim terhindar pengaruh kelompok garis keras ini bagaimana? Ya pertama, para ulama harus lebih gencar mensosialisasikan pemahaman ajaran Islam yang benar. Kedua, harus ada upaya untuk membantah pemahaman seperti itu. Mungkin dengan mengadakan diskusi atau debat. Apakah pernat melakukan debat dengan salah satu tokoh Islam garis keras? Saya pernah ajukan tantangan debat kepada Abu Bakar Ba'asyir tentang pemahamannya yang sesat itu. Tapi pihak Abu Bakar Ba'asyir menyatakan, justru dia ingin topik debat itu bukan tentang pemahaman sesat mereka. Yang ingin mereka bahas adalah soal tudingan mereka terhadap saya yang mereka duga sebagai agen intelijen BIN dan sebagainya. Saat itu saya bilang, kalau isu-isu politik seperti itu bukan urusan kami. Saya tidak mau debat dalam urusan gosip. saya ingin debat secara ilmiah, yaitu tentang pemahaman sesat yang ada pada mereka itu. Mengapa ABB bersikap demikian? Itu kembali kepada pemahaman dia (Ba'asyir), soal akidah Islam. Jadi jelas terlihat ABB tidak bisa mendudukan persoalan yang sesungguhnya. Karena yang ingin bahas adalah soal pemahamannya soal tindakan jihad yang mereka dengung-dengungkan. Apakah sesuai dengan tafsir Al Quran dan hadits atau hanya untuk kepentingan tertentu.Sebab kadang-kadang ada pihak tertentu yang ingin menunggangi simbol-simbol agama untuk memobilisasi dukungan untuk kepentingan politik sesaat. Ini tentunya yang lebih berbahaya lagi. Saat ini ada banyak masyarakat yang menganggap kelompok garis keras sebagai mujahidin penegak syariat. Sehingga mereka begitu dielu-elukan oleh pengikutnya. Bagaimana cara menjelaskannya Ini sebenarnya tugas pemerintah dan ulama. Mereka berkewajiban untuk memberi pemahaman yang jelas supaya mudah dimengerti masyarakat.Terlebih kelompok-kelompok ini sepertinya mendapat tempat dalam pemberitaan di sejumlah media. Mereka seolah-olah dianggap pahlawan bagi umat Islam, misalnya Amrozi cs.Pemerintah harus mensosialisasikan bahwa mereka memang layak dihukum.Usahakan pelaksanaan eksekusi terhadap tokoh-tokoh pengacau itu, jangan sampai memberi peluang tampilnya orang-orang ini sebagai pahlawan. Ini sangat merugikan kita.Selain itu saya berharap eksekusi terhadap Amrozi, Imam Samudera, Muklas dilakukan di luar wilayah Bali. Sebab kalau di Bali bisa dimanfaatkan oleh kelompok tertentu. Mereka akan membuat kesan tokoh Islam yang didzolimi oleh kelompok Hindu. Karena selama ini simbol-simbol agama itu paling mudah ditunggangi.(den) (Deden Gunawan/)


Berita Terkait