Nike Nggak Usah Banyak Cingcong

Blak-blakan Hartati Murdaya (1)

Nike Nggak Usah Banyak Cingcong

- detikNews
Rabu, 25 Jul 2007 09:00 WIB
Nike Nggak Usah Banyak Cingcong
Jakarta - Kantor PT Hardaya Aneka Shoes Industri (HASI) masih ramai. Ratusan pekerja masih berada di pabrik itu. Padahal malam sudah hampir habis. Jam menunjuk pukul 23.35 WIB.Wajah-wajah pekerja pabrik di di Jalan Pasar Kamis, Tangerang, itu terlihat gelisah. Mereka menunggu kedatangan Hartati Murdaya, bos mereka.Akhirnya menjelang tengah malam itu, seorang perempuan mengenakan kemeja batik datang dengan mobil mewah warna hitam. Dialah Hartati Murdaya, perempuan yang ditunggu-tunggu itu. Hartati adalah bos PT HASI. Dia pula yang mengomandani PT Naga Sakti Paramashoes (NASA). PT HASI dan PT Nasa adalah dua pabrik yang selama ini memproduksi sepatu Nike. Namun Nike memutuskan kontrak.Maka tak heran para pekerja yang jumlahnya mencapai 14 ribu orang pun dibuat gelisah. Mereka jelas terancam PHK. Mereka berharap kedatangan si bos yang terus melobi para menteri akan membawa kabar gembira.Nike menyatakan memutus kontrak dengan alasan kecewa dengan kualitas sepatu buatan pabrik Hartati. Namun Hartati membantahnya. Alasan Nike, bagi Hartati, hanya dicari-cari.Bagaimana sebenarnya yang terjadi antara Nike dengan Hartati? Apa yang salah sehingga Nike memutus kontrak?Di antara rapat marathon hingga tengah malam, Hartati dengan mata berkaca-kaca blak-blakan menceritakan kasus antara Nike dan pabrik yang dipimpinnya. Berikut perbincangan detikcom dengan Hartati di kantor HASI:Bisa ceritakan bagaimana berdirinya PT HASI dan PT NASA?Pabrik ini berdiri tahun 1989. Semuanya di sini masih kampung dan banyak pohon pisang. Orang-orang di sini banyak yang compang-camping. Saya bangun pabrik ini dengan modal Rp 100 juta lebih, dengan awal bekerjasama dengan Tekwan dari Korea. Namun di tengah jalan Tekwan bangkrut, dan saya berjalan sendiri.Kapan surat pemutusan kerjasama itu datang?Tanggal 6 juli 2007, saya tidak beritahu langsung kepada semuanya karena takut syok. Setelah yakin dan dapat jawaban untuk semua pertanyaan, saya baru kasih tau ke manajemen. Dalam surat itu pemutusan kerja akan terjadi akhir tahun ini.Bagaimana status awal antara HASI, NASA dan Nike pada saat bekerjasama?Status Nike itukan pembeli, status saya kan investor domestik, di sini melibatkan karyawan sebagai pekerja. Tenaga, keringatnya itu yang bikin sepatu bukan investor. Investor itu bisa rugi bisa untung, di mana semuanya ditanggung sendiri sebagai resiko. Perusahaan ini di-run sama manajemen professional dan dikerjakan oleh tenaga dan keringat pekerja. Sejak tahun 1989 saya menjalin kerjasama dengan buyer. Hubungan berjalan dengan baik. Nike mendapat banyak keuntungan.Apakah ada keuntungan yang ibu raih selama menjalani bisnis ini?Ada. Pada saat 5 tahun pertama. Tapi uangnya tidak saya ambil dan masukkan ke kantong pribadi saya. Melainkan saya belikan mesin, tanah agar pabrik ini bisa menjadi besar. Sekarang luas tanah untuk HASI sendiri kurang lebih ada 12 hektar.Berapa jumlah pabrik Nike yang ada di seluruh dunia?Kurang lebih ada 34 pabrik dan NASA berada di urutan pertama selama 15 tahun itu. Semua atas penilaian dari NIKE sendiri yang memberikan laporannya kepada kita.Bagaimana ibu menggaji karyawan untuk per bulannya?Misalnya untuk 1 pasang dibeli dengan harga 11 dolar, 4 dolar untuk gaji karyawan dan sisanya untuk materialnya (bahan mentah).Kalau ordernya menurun seperti sekarang ini, itu hanya cukup untuk bayar gaji karyawan saja. Sedangkan materialnya saya yang tombokin dan itu terjadi setiap bulannya. Terus terang saya senang dengan pemotongan seperti ini karena saya tidak perlu repot-repot untuk memikirkan gaji karyawan lagi. Tapi kalau lihat mereka saya tidak sanggup. Apalagi kemarin ada yang sampai menangis karena keluarganya semua bekerja di sini.Siapa yang memperkenalkan Nike di Indonesia waktu pertama kali?Saya yang membawa Nike masuk ke Indonesia, dan saya juga yang membuat keuntungan banyak untuk Nike di Indonesia. Lalu keadaan berkembang di mana Nike punya kelompok strategi sourching selalu konsolidasi untuk mencari sumber-sumber yang lebih bagus dan lebih murah. Nah melalui strategi sourching ini Nike punya rencana untuk mengurangi pabrik dan menambah pabrik lagi. Sebagai contoh saya sudah dengar beberapa waktu yang lalu Thailand ingin dipotong. Benar dipotong dengan segala alasan lah. Kemudian Indonesia juga akan dipotong dengan alasan yang sama diada-adain seperti nggak performe lah, kurang standart lah, bikin skorsing merah, hijau, biru lah.Tapi itu semua administratif. Kita cuma bisa jawab, kalau kita punya return atau sepatu yang dikembalikan ke pabrik lagi di antara semua pabrik HASI dan NASA Cuma 2 persen. Sedangkan yang lain bisa sampai 11 dan 12 persen. Itukan sudah menjawab dari semua pertanyaan.Nike memutuskan kontrak kerja dengan ibu. Karena alasannya pabrik ibu kurang bermutu hasilnya saat ini?Sudahlah nggak usah banyak cingcong. Itu semua kan yang buat manusia dan harus dibuktikan. Kalau nggak percaya coba tanya sama mereka apa kita terima sepatu yang dibawa pulang? Kalau dibandingan dengan pabrik lain data mereka lebih tinggi. Jadi mereka jangan banyak alasan.Mengenai pengiriman sepatu?Lalu mengenai delivery, delivery itu kalau misalnya Nike ada pabrik lain yang menurunkan harga setengah dolar, kita punya planning kan jadi kacau sehingga jadi terlambat. Tapi bukan berarti terlambat dari yang lain untuk pengiriman.Yang kedua pada saat determinit kondisi kita sudah clear dan pada saat kita dalam determinit dari bagian no situ malah mendorong kita bikin nos. Sekarang udah jadi nosnya, dari bagian engineering yang dulu biasa diatur mesin, sekarang orang kita yang mengatur mesin dan bahkan ada mesin baru yang atas permintaan dari Nike sendiri. (ron) (/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads