Saya Dilarang Banyak Bicara

Curhat Endang Tri Setyarsih (1)

Saya Dilarang Banyak Bicara

- detikNews
Rabu, 13 Jun 2007 12:11 WIB
Saya Dilarang Banyak Bicara
Jakarta - Dua buah foto ukuran 4R yang dibawa Inu Kencana ke Komnas HAM membuat wartawan dan anggota Komnas HAM terkejut. Foto pertama terlihat gambar close up seorang wanita berpakaian u can see dengan rambut seleher. Sedangkan dalam foto kedua memperlihatkan seorang perempuan, yang menurut Inu seorang dosen Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), sedangberpelukan. Dosen itu berpelukan dengan seorang praja yang waktu itu jadi anak didik sang dosen.Dosen perempuan IPDN yang diabadikan itu menurut Inu berinisial ET. Inu memang tidak menyebut secara jelas nama dosen tersebut. Namun dari gambaran fisik dan informasi-informasi terkait ET yang dilontarkannya kepada wartawan, dosen yang Inu maksud adalah Endang Try Setyasih. Dan Inu selalu mangangguk ketika nama Endang disebut, meski tanpa keluar kata-kata.Bagaimana dengan Endang terkait foto-foto itu? Bagaimana sikapnya terhadap Inu terkait kabar-kabar miring tentang dirinya yang dibeber Inu dalam buku IPDN Undercover karyanya?Berikut petikan wawancara detikcom dengan Endang Try Setyasih di kediamannya di Blok E 27, Komplek Dosen IPDN, Jatinangor, Sumedang.Inu kencana membeberkan foto syuur dosen IPDN ke Komnas HAM. Menurutnya itu foto Ibu benarkah demikian?Pernyataan itu kan dari Pak Inu tanyakan saja ke dia, dari mana dapat foto itu dan apakah memang saya. Karena dalam beberapa kesempatan dia selalu mengelak menyebutkan inisial ET seperti dalam bukunya. Dan saya sudah sampaikan saat melapor ke Polda Jawa Barat, 7 Juni lalu. Bahkan Pak Kapolda rjen Pol Sunarko, meminta saya untuk tetap sabar dan jangan banyak bicara. Karena kasus ini sudah ditangani Polda.Saat ke Komnas HAM Inu Kencana juga mengaku dirinya dalam ancaman. Salah satunya adalah dari orang suruhan Ibu ?Saya juga mendengar seperti itu. Dan soal tersebut juga sempat dibahas dalam pertemuan tertutup antara saya, Inu Kencana dan tiga anggota Pokja Komisi II DPR, yakni Priyo Budi Santoso, EE Mangindaan, serta Ida Fauziah. Dalam pertemuan itu saya jelaskan, bagaimana mungkin saya memakai jasa bodyguard. Lihat saja keadaan rumah saya dan keluarga saya. Apa mungkin saya mampu membayar bodyguard untuk mengancam Inu Kencana.Terus saya juga bilang ke anggota DPR, kalau rumah saya dengan Inu berdempetan di komplek dosen IPDN. Jadi saya tahu kalau Inu ada di rumah.Selama ini dia bilang, setelah mengungkap kehidupan IPDN, dirinya banyak mendapat ancaman. Sehingga dia harus tinggal berpindah-pindah, dan sering menginap di hotel. Padahal setiap hari yang saya tahu dia selalu pulang ke rumah. Karena rumah saya berdempetan. Jadi saya selalu dengar suaranya di rumah.Anggota DPR sempat kaget mendengar keterangan saya itu. Dan saya katakan juga, tinggal di dalam komplek IPDN itu cukup aman. Tidak seperti yang digembar-gemborkan Inu. Para tetangga kami, sesama dosen IPDN, juga biasa-biasa saja.Dalam pertemuan tertutup dengan Inu dan anggota Komisi II, apa saja yang dibicarakan?Seputar somasi saya terhadap Inu. Pada kesempatan itu saya langsung curhat tentang tekanan batin dan keselamatan saya. Alhamdulillah, anggota dewan yang terhormat mau mendengarkan keluhan saya. Mereka kemudian meminta kepada Inu untuk fokus tentang pembenahan IPDN, bukan soal kabar-kabar seperti itu.Akibat tulisan di buku itu, ibu sempat didatangi ormas Islam. Bagaimana ceritanya?Pertengahan Mei lalu, tiba-tiba rumah saya didatangi puluhan orang yang mengaku dari Forum Silaturahmi Pondok Pesantren dan Majleis Ta'lim se Bandung. Mereka menanyakan apa saya telah melakukan penginjakan Al Quran seperti yang diungkap dalam buku IPDN Undercover.Saat itu saya sempat tanyakan kepada mereka. Kenapa bapak-bapak yakin kalau yang ditulis itu saya. Tapi jawab mereka, mereka tahu kalau inisial ET yang ada di buku itu adalah saya. Akhirnya saya jelaskan kalau saya tidak pernah melakukan perbuatan yang Inu tuliskan dalam buku tersebut.Untung saja yang saat itu menanyakan ke saya para pimpinan ormas. Kalau santri-santrinya atau ormas Islam radikal yang datang, pasti ceritanya jadi lain. Bisa-bisa saya dituduh dukun santet. Saya dan keluarga bisa saja dibunuh saat itu.Makanya saya langsung angkat bicara dan mensomasi Inu. Karena tulisan di buku IPDN Undercover yang menyebut saya menginjak Al Quran, bisa mengundang emosi massa. Nyawa saya tentunya sangat terancam.Bagaimana tanggapan pimpinan dan dosen-dosen IPDN?Awalnya mereka menyarankan saya untuk tidak ambil pusing. Apalagi posisi Inu saat ini sedang "naik daun". Jadi apapun kata saya pasti tidak akan didengar. Malah bisa dikatakan cuma untuk pembelaan saja. Makanya sebagai bawahan saya mengikuti apa kata pimpinan. Tapi ketika nyawa saya terancam, saya akhirnya mengadukan hal ini ke pimpinan. Dan mereka akhirnya merestui langkah somasi saya.Sikap praja sendiri seperti apa waktu itu?Mereka, terutama praja putri sangat mendukung langkah saya. Apalagi mereka juga disebut-sebut sebagai perempuan yang bisa dibayar atau bispak. Mereka sangat tersinggung karena setiap lewat ada saja yang menawar. "Neng sabaraha hargana" . Itulah yang membuat mereka akhirnya mengadukan Inu.Tapi kata Inu kedatangan praja karena tekanan pejabat Depdagri. Dan Inu sempat memperlihatkan SMS yang berisi keluhan praja putri yang katanya terpaksa ikut karena diancam?Kalau memang Inu benar-benar di SMS tunjukan ke pimpinan IPDN. Apakah benar itu SMS dari seorang praja putri atau bukan. Karena bisa saja itu SMS dari orang lain yang ngaku-ngaku sebagai praja putri. Karena setiap praja putri nomer handphonenya tercatat di kantor. Inu juga mengatakan keluhan di atas sepanduk yang digagas dosen dan praja IPDN, adalah bentukan ancaman terhadap dirinya?Itu sama sekali tidak benar. Sebab ide curhat di spanduk adalah spontan dari praja. Mereka bingung mau ngeluh tentang nasib mereka kepada siapa. Kepada DPR maupun ke publik, tentu saja sulit. Karena imej publik sangat miring terhadap praja IPDN. Mau demonstrasi ke jalan-jalan tentu tidak mungkin. Karena itu bukan watak seorang praja, calon aparat pemerintahan. Makannya para praja akhirnya menumpahkan unek-uneknya di spanduk.(den) (/)


Berita Terkait