Ahli Budaya Jawa Dr Sudiyatmana: Sultan & Ratu Kidul Tak Harmonis

Ahli Budaya Jawa Dr Sudiyatmana: Sultan & Ratu Kidul Tak Harmonis

- detikNews
Senin, 05 Jun 2006 14:13 WIB
Jakarta - Sebagian besar orang Jawa masih mempercayai adanya Ratu Kidul. Gempa Yogya diyakini akibat Ratu Kidul ngambek terhadap Sri Sultan. Ada apa antara Sri Sultan dan Ratu Kidul?Ahli Budaya Jawa, yang juga Dewan Penasihat Lembaga Kebudayaan Nasional Jateng, Dr. Romo Sudiyatmana menyatakan, saat ini hubungan Sri Sultan dengan Ratu Kidul sedang tidak harmonis.Dosen luar biasa di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Semarang ini mengurai sejarah mitos Ratu Kidul sampai hubungan Sang Ratu dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X. Berikut wawancara detikcom dengan Sudiyatmana:Sebagian warga Yogya mempercayai gempa Yogya akibat Ratu Kidul marah. Kepercayaan Jawa menyebutkan Ratu Kidul adalah sosok yang mempunyai nilai magis. Sebenarnya seberapa kuat masyarakat Jawa mempercayainya?Sebagian besar masyarakat masih percaya. Tidak hanya warga Yogya, tapi warga di sepanjang samudera selatan dari Trenggalek, mereka sebagian besar masih percaya. Bukti atau fakta masih adanya kepercayaan adanya Ratu Kidul seperti apa?Buktinya, orang tidak pergi ke samudera selatan dengan berpakaian hijau yang diyakini adalah warna kesukaan Nyi Roro Kidul. Nggak mau mereka. Contoh lain setiap Selasa kliwon dan Jumat kliwon, mereka datang ke sana (Laut Kidul) untuk bertapa.Saya rasa itu tradisi. Bertapa itu baik sekali. Kita arus sering bertapa, kan manusia itu "Lahir Iku Utusane Batin", nomor satu adalah mengelola batin dulu. Karena itu merupakan sarana metafisis yang bisa kita gunakan.Awal mula masyarakat percaya adanya Ratu Kidul?Sudah dari zaman raja-raja dahulu, misal kalau ada kesempatan itu biasanya menyepi untuk merenungi diri di tepi pantai pada waktu malam yang sepi. Sebenarnya manusia rindu dengan Tuhan.Selain mempercayai tidak memakai pakaian hijau, mereka mempercayai dengan apa?Misalnya saat ke sana (Parangtritis), saya semalam ke sana dan orang-orang kebanyakan. Duduk jauh dari tepi pantai tidak usah mendekat, kalau kita mendapat sesuatu, air akan mendekat sendiri kepada kita. Seolah-olah mengajak bermain dengan kaki kita. Kemudian airnya buat kita basuh ke muka, dimaknai sebagai penyucian diri dan penyucian jiwa.Menurut legenda, raja-raja Jawa mempunyai hubungan khusus dengan Ratu Kidul, apa benar?Iya benar, secara magis para raja dianggap sebagai para permaisurinya. Secara Ilmiah, Indonesia merupakan negara nusantara. Oleh karena itu para pemimpin harus dekat dengan lautan, tetapi (mohon maaf) malah angkatan laut kita lemah. Itu keliru kalau saya.Cerita yang beredar, hubungan antara Sri Sultan dengan Ratu Kidul sekarang tidak armonis?Memang sedikit tidak harmonis. Karena misalnya yang namanya raja tidak pernah naik haji. Tetapi yang sekarang (Sultan Hamengkubuwono X) naik haji, itu tidak boleh. Karena raja tidak pernah memihak pada satu golongan.Kemudian akhir-akhir ini raja sering marah-marah, ini nggak boleh. Seorang raja tidak boleh marah-marah. Seperti kemarin, orang-orang pakai janur kuning. Seharusnya Sultan menanggapi sebagai perintah leluhur kita, tetapi sultan malah bilang orang-orang pakai janur kuning buat apa, itu tidak mengerti.Seharusnya Sultan bilang saja mereka memakai sebagai tanda bela sungkawa atau dipercayai untuk menolak bala. Kan lebih enak didengar. Jadi sekarang raja kata-katanya sudah mulai berkurang. Berbeda dengan Sri Sultan HB IX terdahulu, tahta untuk rakyat. Artinya semua untuk rakyat.Bapak setuju dengan anggapan gempa kemarin merupakan teguran Ratu Kidul karena tidak suka dengan Sultan?Ya tidak hanya Ratu Kidul saja, tapi dari Tuhan sendiri. Gempa terjadi karena manusia tidak akrab dengan lingkungan dan tidak akrab dengan sesama.Gempa akibat kemarahan Ratu Kidul, saya lihat hanya sebagai fenomena saja. Kalau saya hubungkan langsung dengan Tuhan. Buktinya daerah-daerah istimewa tidak disukai Tuhan, seperti Aceh lebur oleh tsunami, kemudian Yogyakarta. Setelah itu Jakarta juga akan digoyang, lihat saja nanti.Bapak sebagai ahli budaya Jawa, dengan memperhatikan tradisi-tradisi apakah pernah mendapatkan tanda-tanda akan ada bencana?Satu minggu sebelum kejadian saya menyekar ke beberapa makam antara lain di makan Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Senopati, Pangeran Jati Kusumo, dsb. Sewaktu saya sendekap di makam orang tua Pangeran Jati Kusumo, saya seperti digoyang-goyang. Ternyata memang akan ada gempa di Yogya dan daerah istimewa lainnya. Bahkan akhir-akhir minggu ini akan ada kejutan dari merapi.Bagaimana mengetahuinya?Pokoknya segera, semakin banyak hujan akan semakin cepat kejutannya. Masa seharusnya bulan ini bukan bulan hujan, sekarang masih hujan. Yang penting hati-hati saja.Ada saran buat masyarakat?Kita manusia hendaklah berusaha harmonisasi. Kita sebagai mikro, harus berusaha menghubungkan diri atau mendekatkan diri dengan sang makro, Tuhan dan harus ada harmonisasi antara manusia dengan alam. Karena Tuhan menciptakan manusia dan alam jadi mereka harus harmonis. Kalau tidak harmonis maka Tuhan akan marah. (/)


Berita Terkait