Asing Hanya Kuasai 5,4% Pasar SUN

Benny Haryanto, Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia

Asing Hanya Kuasai 5,4% Pasar SUN

- detikNews
Rabu, 07 Des 2005 07:06 WIB
Jakarta - Porsi investor asing di pasar surat utang negara (SUN) ternyata hanya mencapai 5,4% dari total nilai SUN yang tercatat Rp 57,7 triliun. Hal itu berarti, pasar SUN Indonesia masih didominasi investor lokal baik berbadan usaha maupun individu.Untuk mengetahui perkembangan investor di pasar saham maupun di pasar obligasi, wartawan Investor Daily Michael Ferdin dan Parluhutan Situmorang mewawancarai Dirut KSEI Benny Haryanto di ruang kerjanya belum lama ini. Berikut petikannya.Bagaimana komposisi investor yang berinvestasi di pasar portofolio? Perkembangannya cukup menarik. Dari sisi angka, bisa saya jelaskan bahwa untuk saham dari total nilai perdagangan sebesar Rp 466 triliun, investor asing memegang 71,6 %. Investor lokal berbadan usaha tetap 17%, individu 3,93%, broker 2,47%, reksa dana 1,6%, dana pensiun 1,07%, asuransi 0,97%, dan bank 0,5%. Hal itu berarti bursa saham kita masih dikuasai investor asing. Saat ini total investor mencapai 113 ribu pihak. Lalu, bagaimana dengan obligasi? Dari total Rp 57,7 triliun asing hanya memiliki 5,4%. Lokal sendiri terdiri atas dana pensiun 33,16%, reksa dana 19,52%, bank 19,47%, badan usaha tetap 12,7%, asuransi 8,97%, dan individu 1,07%. Khusus reksa dana, dari total NAB Rp 30,56 triliun per 30 November 2005, komposisinya obligasi korporasi 36,91%, SUN 29,68%, equity 25,03%, dan time deposit 7,05%. Sedangkan untuk SBI 0,56% dan MTN 0,40%. Posisi kas hanya 0,34%. Dengan kondisi tersebut, apa yang dilakukan KSEI untuk meningkatkan jumlah investor lokal di bursa saham? Secara fundamental, investor adalah pilar utama pasar modal itu. Kami akan memperkuat investor education di tahun depan. Kami akan melakukan sosialisasi karena banyak investor yang tidak bisa membedakan antara saham, obligasi, dan reksa dana. Perbedaan saving dan investments. Sosialisasi juga dapat melalui kampus sehingga pengetahuan mahasiswa tentang pasar modal semakin dalam. Kami akan membicarakan hal tersebut dengan beberapa dekan universitas supaya pasar modal bisa dijadikan sebagai mata kuliah khusus. Untuk itu kami akan menyusun bahan ajaran menggunakan multimedia. Bagi dosen-dosen yang mau mengajar akan di-traning lebih dulu oleh orang yang ahli di bidang pasar modal. Sebagai contoh, salah satu sosialisasi pasar modal yang sedang KSEI selenggarakan bertempat di Plaza Indonesia, dihadiri juga 45 MI dan anggota bursa. Hari Jumat (9/12) ada talk show. Kami berharap kegiatan tersebut dapat menambah wawasan pasar modal bagi para investor. Pada Februari atau Maret 2006, kami akan masuk Plaza Senayan dalam program dari mal to mal. Bahkan, tidak menutup kemungkinan kami akan melakukan sosialisasi ke daerah. Selain Jakarta, ke Surabaya, Medan, dan Bandung. Sejauh ini, apa progress sosialisasi KSEI ? KSEI memiliki tujuan meningkatkan jumlah investor di pasar modal. Oleh karena itu, selain investor education, kami meningkatkan efisiensi pada infrastruktur pasar modal. Saat ini kami menggerakkan infrastruktur reksa dana. Selama ini, jual-beli reksa dana itu masih menggunakan formulir yang sifatnya manual, kami sedang mempersiapkan pembuatan sistem C-Trust. Sistem tersebut sudah siap, tapi kami akan meminta masukan dari market lebih dulu untuk melengkapi sistem tersebut. Misalnya, kalau ada manajer investasi yang ingin presentasi di Surabaya, mereka tak perlu bersusah payah mencetak prospektus atau formulir, karena mereka bisa melihat di terminal C-Trust dan langsung bisa mencetak di situ. Bagaimana dengan feed back market? Bagi yang belum memiliki sistem ini merupakan satu keuntungan karena itu mereka tidak perlu investasi langsung di sistem ini. Yang menjadi tantangan adalah selling agent perbankan, ide kita itu sebetulnya menciptakan suatu transparansi di pasar modal. Saat ini semua data itu ada di selling agent tidak di bank kustodian, sedangkan mengenai transparansi itu perlu diperbaiki. Data itu kita inginkan sentral seperti C-Trust. Semua data ada disentral kustodian. Mudah-mudahan ini berjalan, kita sudah beberapa kali sosialisasi ke semua pelaku. Sistem ini pun sebetulnya merupakan masukan dari para pelaku pasar. Apa saja kegiatan KSEI pada 2006? Salah satunya kami akan luncurkan C-Trust berikut tetap menstabilkan program yang sudah ada sehingga lebih optimal. Berhubung institusi seperti KSEI ini tidak dapat menjalankan bisnis modal maka kami harus berkoordinasi lebih dulu dengan Bapepam terkait dengan investor education. Itu program yang lebih banyak kami lakukan di tahun mendatang. Selanjutnya, sejalan dengan perkembangan pasar, kami akan mengadakan instrumen-instrumen baru, yang seharusnya digunakan seluruh pelaku pasar. Yang jelas perhatian kami membantu peningkatan segmen obligasi. Sebab pasar modal tidak boleh pincang, semua harus bertumbuh. Reksa dana tumbuh, saham tumbuh, obligasi tumbuh, kalau semua berjalan dengan baik maka pasar modal kita akan jauh lebih bagus. Terkait dengan obligasi, selama ini orang tahu obligasi itu SUN. Padahal, ada juga obligasi korporasi yang sering ditransaksikan. Hal ini yang akan kami sempurnakan.Apa metodologi yang digunakan untuk menyempurnakan hal tersebut? Sesuai dengan hasil pengamatan kami di negara-negara luar, transaksi obligasi di luar bursa boleh saja dilakukan semua pihak, tetapi beberapa menit seusai transaksi hasil transaksi tersebut dilaporkan kepada pihak otoritas. Hal itu merupakan satu platform yang akan kami kembangkan. Mudah-mudahan KSEI dapat berkontribusi mengembangkan platform tersebut. Soal penerapan C-Trust, apakah Bapepam akan mengeluarkan regulasi? Regulasi cukup dari kita karena kita juga termasuk SRO. Dalam surat Bapepam tanggal 26 Oktober 2005 dinyatakan, KSEI diperkenankan melakukan layanan jasa ini. Pada 2006, kami akan membantu broker yang aktif transaksi SUN untuk bisa melakukan penyelesaian melalui KSEI. Saat ini semua penyelesaian hanya di Bank Indonesia (BI) melalui bank dalam pengertian bank kustodian yang juga sub registrinya di BI. Bapepam melalui surat yang sama memberikan persetujuan kepada kami bekerja sama dengan BI untuk memfasilitasi dan menjembatani anggota bursa yang bukan bank. Saat ini kan setiap melakukan transaksi harus melalui bank, jadi kita sentral di sini lagi. Apakah KSEI dan BI sudah membicarakan soal itu? Memang sudah ada pemicaraan awal, tetapi Bapepam kepada BI memberikan kesempatan untuk memfasilitasi. Mudah-mudahan itu sudah bisa terlaksana tahun 2006. selama tahun 2006 kami akan sibuk dengan C-Trust dan penerapan sub registri.Target mengenai C-Trust seperti apa? C-Trust itu nanti akan diawali dengan keberhasilan menerapkan efisiensi. Saya rasa kami akan melakukan training kepada pelaku terkait proses penggunaan C-Trust itu. Menurut saya sangat prematur kalau mengatakan ada target. Kami, dengan bisa memberikan nilai tambah semestinya sudah merupakan perkembangan yang baik. Keuntungannya ada pada akurasi dan kecepatan proses data, mulai dari investor membeli produk sampai konfirmasi kepada investor lagi. Juga, efisiensi kepada MI dari sifatnya manual menjadi elektronik. Dengan sistem baru itu, pihak otoritas akan tahu jelas apa yang terjadi dan bagaimana prosesnya saat itu juga. Misalnya, kalau ada pergerakan suku bunga naik, obligasi menurun, otoritas langsung mengetahui reaksi peningkatan tersebut kepada pasar. Jadi, melalui sistem itu kami bisa melihat ada tidak reaksi dari satu indikator. Seperti peningkatan suku bunga terhadap peningkatan investor yang melakukan redemption unit penyertaan reksa dana. Kemana dana hasil redemption tersebut mengalir dan berapa orang yang melakukan redemption? Melalui sistem tersebut, kami akan mengetahui MI mana yang mengalami redemption paling besar dan pada reksa dana jenis apa? Informasi tersebut dapat kita lihat didalam sistem C-Trust tersebut dengan akurat dan cepat. Kami mengharapkan data akan sangat kuat karena kita sudah punya sentralisasi investor, saham, sentralisasi untuk aktivitas reksa dana. (Michael Ferdin Parluhutan Situmorang/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads