Indonesia basis penting bagi Toyota
Kamis, 27 Okt 2005 06:40 WIB
Tokyo - PT Toyota-Astra Motor mengundang sejumlah media massa nasional, termasuk Bisnis, mengikuti Tokyo Motor Show ke-39 di Jepang. Di sela-sela acara tersebut, wartawan Bisnis dan wartawan Indonesia lainnya berkesempatan mewawancarai Presiden Toyota Motor Corporation (TMC) Katsuaki Watanabe. Berikut petikannya. Dalam hal investasi, mengapa TMC terkesan lebih memprioritaskan Thailand dan Filipina dibandingkan Indonesia, padahal Indonesia memiliki sejarah kerja sama lebih lama dengan Toyota? Kami memang punya sejarah operasi yang panjang di Indonesia dan operasi kami itu berjalan dengan sangat baik. Kami memiliki proyek IMV (Innovative International Multipurpose Vehicle) dan sudah menanamkan modal di Indonesia serta terus memperluas operasi kami di Indonesia. Tolong, selalu diingat apa permintaan pasar lokal di masa mendatang dan itulah dasar dari strategi produksi kami. Apa rencana Anda untuk Indonesia dalam lima tahun ke depan? Saya tidak punya data konkret yang dapat saya bagi dengan Anda saat ini, sebab itu merupakan informasi rahasia perusahaan. Jadi, sulit bagi saya untuk menyebutkan angka pasti. Namun, karena operasi di Indonesia penting, kami-di bawah proyek IMV-bersama dengan Daihatsu, menghasilkan produk IMV. Dalam konteks itu, Indonesia dinilai sebagai basis produksi yang penting untuk jenis kendaraan tersebut, termasuk Kijang Innova. Apakah kondisi ekonomi saat ini, di mana harga-harga melonjak, mempengaruhi kebijakan produksi Toyota? Pada saat ini, meroketnya harga minyak dunia atau melambungnya harga bahan baku tidak berpengaruh langsung terhadap produksi atau biaya. Itu bukan masalah pada saat ini. Tetapi jika harga minyak yang tinggi berlangsung lama, hal itu akan mempengaruhi seluruh perekonomian dunia. Tentu saja hal ini akan memberikan dampak negatif dalam banyak aspek dan kemungkinan itu menjadi perhatian saya. Bagaimana kemungkinan produksi kendaraan hibrida diproduksi di luar Jepang untuk memangkas biaya, mungkin di negara Asia lainnya? Saya pikir, negara-negara Asia dapat menjadi calon potensial tapi saat ini sulit untuk memproduksi kendaraan hibrida di luar Jepang karena membutuhkan bahan baku yang sangat canggih dan mesin yang mutakhir pula. Di Jepang pun, sulit memproduksi komponen tersebut. Kami bekerja dan beroperasi dengan sumber daya yang sangat terbatas dalam hal ini. Namun selama permintaan mobil hibrida meningkat, maka kemungkinan untuk merakitnya di negara lain semakin terbuka. Bagaimana Anda melihat Toyota dalam lima tahun mendatang dalam menangkap peluang pasar kendaraan hibrida di dunia? Rencana kami pada tahun depan, kami akan memproduksi sekitar 400.000 unit mobil hibrida dan menjualnya dalam kisaran angka tersebut.
(Hery Lazuardi/)











































