'Pilihlah bisnis yang susah dimasuki orang lain'

'Pilihlah bisnis yang susah dimasuki orang lain'

- detikNews
Kamis, 13 Okt 2005 13:54 WIB
- - Memiliki mobil mewah selalu identik dengan menguras banyak uang. Sebagian besar adalah untuk biaya perawatan. Tapi bagi Anda yang berjiwa bisnis, ceritanya bisa lain. Anda mungkin saja masih menjadi pengguna mobil mewah dan setiap bulannya rutin mendatangi bengkel khusus BMW, tetapi Anda tidak puas hanya menjadi obyek. Anda tak akan menunggu-nunggu kesempatan untuk merancang 'sesuatu' yang bisa membalikan keadaan, dari objek menjadi subjek. Entah itu perekonomian negara tengah krisis, atau modal Anda yang masih cekak. Kalau ada kemauan, pasti ada jalan. Mobil mewah bisa menjadi peluang usaha untuk mendapatkan keuntungan. Buka usaha Membuka usaha memang layaknya bermain judi, kadang untung kadang rugi. Bahkan unsur sedikit 'nekad' merupakan modal awal dalam berbisnis. "Saya nekad saat membuka bisnis bengkel khusus BMW ini, tapi ada perhitungan. Bisnis itu bukan kayak lempar dadu, tapi main kartu. Kuncinya, bisakah kita membaca kartu orang," ucap William Runturambi, Managing Director Bavarian Motors-bengkel khusus BMW. William memulai bisnisnya pada 1999 saat ekonomi negeri ini sedang lesu pasca dilanda krisis. Kalau hanya dipikir dari sisi awam, bakal sulit menangguk fulus dengan membuka bengkel BMW. Kalau negara tengah krisis, jangankan mengurusi atau membeli BMW, untuk biaya hidup sehari-hari saja sulit karena harga barang-barang meroket. Tetapi ternyata pemilihan jenis usaha juga menentukan keberhasilan. Jika ingin menguasai pasar, masuklah ke sektor bisnis yang susah dimasukin orang atawa entry barier-nya sulit. Begitulah yang menjadi pedoman William ketika memulai bisnis bengkel BMW-nya. Dan ternyata perhitungan William tidak meleset. Bagaimana pengalaman William ketika memutuskan memulai bisnis bengkel khusus BMW ini? Lalu apa saja kiat dan bagaimana dia menjalankan usaha khusus kalangan kelas atas ini? Berikut wawancara wartawan Bisnis Uang dengan William Runturambi, Managing Director Bavarian Motors. Mengapa pilih membuka bengkel BMW? Bukankah sektor ini tergolong sulit dijalani? Saya pakai BMW sejak 1993. Terus saya pikir kenapa saya tidak buka bengkel yang kualitasnya bagus tapi murah. Saya juga sering datang ke bengkel resmi, harga perawatannya mahal. Tapi saya coba ke bengkel lain, kok modelnya seperti ini, saya nggak mau. Lalu saya pikir-pikir kenapa nggak bikin bengkel BMW saja. Pertama BMW itu kendaraan yang mewah, jadi kalau kita buka bisnis yang entry barier-nya gampang itu akan gampang dimasukin orang, seperti toko handphone (hp). Orang buka toko hp juga gampang. Kalau ini agak susah, karena ini perlu knowledge, how to service customer well. Kemudian harus punya diagnostic tolls-nya yang baik. Maka saya buka bengkel BMW. Gimana memulainya? Dulu saya kenal seorang mekanik, akhirnya saya ajak kerja, cuma kemudian dia keluar karena tidak sevisi dengan saya. Kalau saya visinya jangka panjang, saya nggak mau istilahnya maksain dapat duit cepat, tapi kami ingin long term relationship. Jadi mungkin visinya beda. So far, menurut saya bisnis itu sukses karena manajemennya yang benar. Kalau hanya skill dan mekanik itu masih bisa kita beli. Tapi how to manage itu yang terpenting. Saat memulai bisnis, modalnya berapa? Modal saya cuma Rp60 juta terus saya dikasih pinjam customer saya Rp50 juta. Itu untuk bisnis awal saat di Tebet Jakarta Selatan, kemudian setelah 2 tahun saya pindah ke sini (Jl.KH Abdullah Syafi'ie, Lapangan Ros, Casablanca Jakarta Selatan) akhirnya balik modal juga dalam dua tahun. Lalu saya dapat bantuan teman karena mereka respek terhadap usaha saya. Saya bikin konsep, buat contoh bujet setiap tahun. Jadi nggak asal jalan, growth-nya 20 persen setiap tahun. Saya pindah kemari dalam keadaan pertumbuhan yang tinggi sekali, yaitu 40 persen. Dari tahun pertama ke tahun kedua, cepet banget growth-nya. Tapi sekarang stabil, pertumbuhannya 20 persen per tahun. Sehari bisa berapa mobil? Setiap hari sekitar 10-15 mobil, dengan rata-rata belanja sekitar Rp1,2 juta. Perawatannya tergantung, ada yang regular maintenance, perbaikan karoseri. Tapi kebanyakan adalah perawatan rutin. Kebetulan kita ada program paket murah untuk ini. Sekarang kami punya total pengunjung aktif sebanyak 1.000 mobil. Dulu saat baru buka, seharinya 6-8 mobil. Saya berusaha mensyukuri apa yang saya dapat, jadi tidak kemaruk, nggak nipu kiri-kanan. Saya menasihati anak buah saya, kalau untuk urusan materi, lihatlah ke bawah, masih banyak orang yang nggak bisa makan. Tapi, untuk prestasi lihatlah ke atas untuk mencari hal positif. Bagaimana prospek bisnis perbengkelan? Otomotif sebenarnya industri yang nggak ada matinya. Waktu krismon 1999 memang turun, tapi nggak lama bangkit lagi. Karena mobil itu adalah alat transportasi, selain itu bagian dari life style. Selain itu mobil adalah simbol kesuksesan. Prospek bengkel khusus seperti BMW? BMW tetap prospektif, karena BMW sudah terkenal mahal. Orang yang beli BMW menurut saya 90 persen bukan beli mobil, tapi beli merek. Sudah kelihatan kan simbol kesuksesan itu apa? Mobil BMW. Jujur dulu saya beli BMW karena beli merek. Memang setelah dikendarai BMW ternyata juga enak. Bengkel khusus BMW cukup prospektif karena kalau nggak salah, jualan BMW setiap tahun bisa mencapai 1.000 unit di Indonesia. Ambil saja 50 persennya di Jakarta, setiap tahun ada 500 yang masuk ke Jakarta. Dari situ saja saya bisa prediksi. Setelah selesai garansi pabrik, mereka lari ke saya. Jadi marketnya sudah bisa dilihat. Bagaimana bersaing dengan bengkel resmi BMW? Patokan kualitas saya tetap di bengkel authorized, tetapi yang price oriented akan lari ke saya. Saya memperhatikan kualitas bengkel tak resmi yang lain, tapi tetap patokan saya adalah bengkel resmi. Saya beda dengan bengkel BMW non-authorized lain, karena mainstrem-nya beda. Kalau saya how to serve customer. Dalam jangka panjang saya tetap ingin hidup. Saya lihatnya lebih ke arah sana. Bahkan saya juga bercita-cita agar bengkel ini bisa IPO (go publik di bursa saham) pada 2010. Yang jelas, harga di bengkel saya lebih murah dari bengkel resmi, tapi sedikit lebih mahal dari penjual spare part. Karena kami menyediakan layanan 24 jam, siap dipanggil dan menjemput kendaraan. Harga BBM apakah ngaruh ke pengunjung bengkel? Sekarang purchasing power kami turun, karena Pertamax naik. Kami usahakan untuk meningkatkan kembali revenue, caranya dengan bikin paket murah. Jadi di bulan Januari, saat Pertamax naik, pendapatan kami langsung turun. Habis mau diapain lagi, Pertamax nggak bisa digantiin premium. Customer menyicil service yang seharusnya. Mestinya mereka ganti, tapi ditunda. Kurang lebih begitu. Tapi lama kelamaan sudah biasa diatasi, belanja customer sudah biasa lagi. Tapi nggak tahu nanti kalau BBM naik lagi, ya kami siap-siap saja. Yang punya BMW biasanya kan orang kaya. Kenapa terpengaruh Pertamax? Mereka kaya karena mereka smart, educated. Mereka harus milih mana yang harus didahulukan. Memang sih kalau saya lihat mobil sudah termasuk kebutuhan dasar. Jadi mau nggak mau harus keluarkan uang banyak ke mobil. Lama-lama mereka juga terima kenyataan, mau nggak mau harga naik, tapi mobilnya masih perlu perawatan. Ya harus juga dirawat. Kuncinya kalau seperti ini yakni how to serve customer well. Saya punya satu asisten yang kerjanya menerima telpon dan sms dari customer. Kerjanya cuma begitu, karena ini bagian program Customer Relation Manage. Apa saja bentuk pelayanan di Bavarian Motors ini? Customer di sini kebanyakan manja, ya itu tujuan kita memang memanjakan mereka. Kami ada layanan deliveri 24 jam. Standarnya 10 menit harus berangkat, cuma kan macet. Kalau parah banget kami naik motor, yang penting tertangani dulu. Biasanya pelanggan, begitu kami datang, mereka tinggal saja mobilnya. Nanti tinggal kami yang bawa kemari mobilnya, yang penting mereka aman dulu, nggak usah pikirin, yang ngurusin mobilnya kami. Customer saya datang kemari karena mencari yang lebih murah dari bengkel khsusus, tapi mutunya benar-benar saya jaga. Saya ada garansi 1 tahun. Apa rencana bisnis bapak ke depan? Saya ingin membuka franchise bengkel BMW. Tahun depan saya mulai, satu di Fatmawati satu lagi sedang dicari di Jakarta Barat. Namanya tetap Bavarian Motor. Yang kami siapkan adalah sistem dan orang. Franchise itu bagus, mensinergikan orang yang punya uang dengan yang punya sistem. Saya sudah mulai siap-siapkan. Saya sudah punya sistemnya sendiri, tinggal jalan. Saya belajar dari Wong Solo. (Berliana Elisabeth/)



Berita Terkait