'Pengelola radio belum leluasa bergerak'
Minggu, 31 Jul 2005 07:10 WIB
- - Bagi masyarakat, mendengarkan radio sudah menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari, baik di kota besar sampai di pelosok. Namun, perkembangan bisnis radio secara makro masih terkendala oleh belum adanya regulasi pelaksanaan UU No. 32/2002 tentang Penyiaran.Di seluruh Indonesia, saat ini terdapat stasiun radio, baik milik pemerintah maupun swasta, yang jumlahnya mencapai ribuan. Segmennya pun bervariasi, dari khusus untuk anak muda, orang tua, dengan program siaran yang beragam.Jika dulu stasiun radio swasta masing-masing berdiri sendiri, saat ini terjadi kecenderungan beberapa stasiun radio tergabung dalam satu jaringan, yang antara lain terbentuk dengan adanya merger.Untuk mengetahui bisnis radio swasta dan merger di antara mereka, serta tren dan prospek bisnis radio swasta ke depan, wartawan Bisnis Neneng Herbawati mewawancarai Malik Sjafei Saleh, Direktur Utama PT Radionet Cipta Karya & Komisaris Utama PT Jaringan Delta Female Indonesia. Berikut petikannya.Bagaimana perkembangan bisnis radio sekarang?Saya yang sudah 30 tahun mengurus bisnis radio, kelihatannya dari hari ke hari biasa saja. Berangkat pagi pulang malam, tidak ada yang heboh. Ini cuma ilustrasi barangkali saya tidak punya empati terhadap hebohnya bisnis radio.Dulu ngurusin jam siaran, sekarang ngurusin due diligence, itu diri saya. Dulu ngurusin penyiar datang apa tidak, sekarang ngurusin ada uang apa tidak untuk bayarnya atau value of company-nya kayak apa. Buat saya bisnis is ussualyMengapa makin banyak investor yang menerjuninya?Secara umum, memang terlihat sepertinya bisnis radio gegap gempita. Padahal bukan hanya bisnis radio yang gegap gempita, tapi seluruh media juga [TV dan cetak]. Ketika Orba, setelah krisis orang masuk ke bisnis media itu karena tadinya konsumen media tersebut. Biasanya orang yang konsumen media, punya modal dan akhirnya ingin memiliki media tersebut.Di Indonesia banyak pebisnis yang kalau sudah sukses, jangankan yang bisnisnya mirip, yang bidang ekspor impor saja bikin media. Ada satu [pemilik] radio di Jakarta yang bandar oli, tapi dia tidak sengaja masuk ke bisnis radio.Mungkin karena media kelihatannya dikonsumsinya menarik. Kebayangkan bila seorang pebisnis yang suka dengar radio Delta, misalnya, ternyata ketemu partner/counter part nya yang ternyata juga suka dengar Delta. "Oh banyak ya, teman-teman yang suka dengar Delta." Akhirnya ingin punya sebuah bisnis yang teman-teman bisa dengar. Sebetulnya itu hobi yang dikemas secara profesional.Contohnya?Seperti Bimantara di zaman Orba kan bergerak di segala bidang. Tapi sekarang mungkin dia memutuskan, tinggal media, dan telekomunikasi. Itu feeling saya. Even propertinya sudah di-share dengan orang lain, tapi fokusnya memang sudah ke media dan telekomunikasi. Karena bisnis yang di konsumsi langsung sama konsumen, hanya media layar kaca, RCTI.Setelah itu baru bisnis radio [Trijaya]. Kalau asumsi dan analisis saya benar, betapa hiruk pikuknya bisnis radio, mungkin karena modalnya relatif tidak besar sehingga diminati investor baru.Barangkali memang ada yang melihat ini sebagai peluang besar. Sekarang saja Harry Tanu melalui PT Media Nusantara Cipta (MNC), akan membuat 100 radio di Indonesia. Selain itu, MNC yang membawahi RCTI, TPI, Global TV juga masuk ke bisnis media cetak, seperti Seputar Indonesia dll.Misalnya, [jika] MNC ambil sahamnya dari radio yang sudah ada saja, di Indonesia saat ini ada sekitar 1.000 lebih radio. Secara prinsip tinggal beli saham dan bikin brand yang sama. Dengan target MNC 100 radio, dan Indosiar [PT Indosiar Karya Media] sekitar 50 radio, berarti ada pergerakan yang kelihatannya hiruk pikuk di bisnis radio.Berapa besar modal mendirikan radio?Kalau di Jakarta bisa sampai belasan miliar rupiah, Surabaya sekitar Rp5 miliar dan daerah lainnya rata-rata Rp3 miliar. Untuk perusahaan sebesar MNC, dengan target 100 radio berarti dibutuhkan sekitar Rp300 miliar- Rp500 miliar, bila rata-rata modal yang dibutuhkan per radio sekitar Rp3 miliar - Rp5 miliar.Apakah menjadi tren satu kelompok menguasai semua bisnis media?Mungkin ya, karena yang terjadi dari bisnis TV, ke radio, terus media cetak. Atau dari media cetak, ke radio lalu ke TV. Tetapi sebetulnya bisnis TV saat ini sudah salah konsep.Kalau ada konsep televisi yang orang harus nonton terus, sebetulnya itu salah. Karena itu konsep radio. Karena TV ratingnya bukan dari brand-nya, tapi acaranya. Seperti acara lakon atau tontonan, bukan memperbanyak talkshow.Sedang radio itu dikonsumsi sebagai teman, karena tidak ada orang yang mendengarkan radio secara khusus. Telinga adalah indra yang bisa tetap bekerja tanpa mengganggu aktivitas lainnya. Dan media cetak seperti koran dan majalah, adalah media yang memuat informasi lebih dalam.Sehingga tidak bisa dihindari, misal hubungan emosional pendengar radio sudah sangat kuat, dari kekuatan itu mereka minta ditambahin dong jadi gambar. Jangan cuma suara terus, lalu ada lagi permintaan muncul dong orangnya di layar kaca.Itu yang menjadi pertimbangan grup [Masima Grup melalui PT Radionet Cipta Karya] ini untuk punya medium lain, seperti media cetak dan layar kaca.Apakah perkembangan bisnis radio sudah maksimal?Perkembangan bisnis radio secara makro masih terkendala oleh belum adanya regulasi pelaksanaan UU No. 32/2002 tentang Penyiaran. Mestinya sudah ada juklak atau peraturan di bawah UU yang mengaturnya, sehingga pertumbuhan perolehan iklan dan pengembangan program radio swasta bisa maksimal.Dengan tidak adanya juklak membuat orang yang sudah berkecimpung di bisnis radio menjadi tidak leluasa untuk bergerak. Sampai sekarang lembaga yang memiliki wewenang memberi izin dan mengatur radio swasta masih belum jelas, apakah pemerintah atau lembaga Komisi Penyiaran Indonesia. Ini membingungkan, padahal investor besar yang berminat makin banyak.Inikah awalnya PT Radionet mau merger dengan PT Abdi Bangsa Tbk?Awalnya mulai dari pelayanan terhadap konsumen, supaya ada value added dan brand-nya jadi tambah kuat. Karena itu kami akan penuhi hidupnya dengan teman dari radio tadi, dengan produk media lainnya.Rencananya kami akan merger, nawaitu [niat]-nya sudah bulat, tinggal teknisnya. Tapi balik lagi kalau ada yang secara prinsip tidak bisa dilakukan, ya tidak dilanjutkan. Niat tinggal niat. Itulah bedanya dengan akuisisi, cocok nggak cocoknya di angka. Kalau ini tidak. Apakah visinya sudah cocok, kalau tidak, ya tidak jalan.Misal dari 51 ke 100 itu, kami mau sama-sama ngembangin. Jadi yang 1-50 tidak dikorbankan. Itulah susahnya kalau banyak maunya, beda dengan grup besar seperti MNC, tinggal mau atau tidak lalu beli.Mengapa pilihannya ke PT Abdi Bangsa Tbk?Radionet dengan Abdi Bangsa merasa banyak kecocokan. Kami akan cari bahasa yang sama dulu, yang lain tinggal penyesuaian-penyesuain. Tapi bila ada prinsip yang tidak bisa dikompromikan perbedaannya apa boleh buat.Bagaimana Abdi Bangsa berkembang dengan Republika-nya, yang pendirinya bukan yang suka bikin koran. Tapi para penggagas yang mewujudkan untuk jadi koran Republika. Selain Republika, PT Abdi Bangsa Tbk, menerbitkan Golf Digest, Radio One dan JakTV Jakarta.Sebaliknya dengan Radionet. Grup ini juga berangkatnya dari Prambors, yang kini memiliki 18 radio, jadi ada cerita dari 0 sampai 50. So far, insya Allah nggak ada masalah.Prosesnya merger itu sudah sampai tahap mana?Konkretnya, kami akan due diligence [pemeriksaan menyeluruh]. Kalau ada due diligence akan ada valuasinya. Itu dimaksudkan agar kami mempunyai benchmark dan bicaranya berbasis apa. Bagaimanapun perusahaan itu sudah Tbk, Radionet tinggal mengikuti aturan-aturan yang disepakati sebagai perusahaan Tbk. Itu yang sekarang sedang dikerjakan, toh itu bahasa yang sama di dunia bisnis.Agustus-September ini kami mulai due diligence. Saya pikir, bisa merger tahun ini saja sudah hebat. Tetapi karena PT Abdi Bangsa Tbk sudah go public, maka untuk merger harus dapat izin.Izinnya sudah disampaikan di RUPSLB Abdi Bangsa belum lama ini, selanjutnya panggil lagi para pemegang saham untuk presentasi hasil due diligence, bila disetujui baru merger. Jadi mungkin teraelisasinya baru tahun depan.Rencana kerja ini bagi Abdi Bangsa mungkin lebih untuk peningkatan value ketimbang bikin radio, dengan merger jadi langsung ketambahan 18 radio. Sehingga ada peningkatan capital melalui merger. Tidak simple, tidak matter of dua bulan lah.Target dari merger ini?Target penggabungan dari Radionet, dan Abdi Bangsa akhirnya peningkatan pelayanan untuk konsumen. Kalau bisa kebutuhan medianya minimum terjawab oleh penggabungan ini.Yang kami inginkan adalah kedua perusahaan saling bertukar saham [share swap], dengan cara ini artinya Radionet bisa memiliki Abdi Bangsa dan sebaliknya, tergantung komposisi kemampuan masing-masing.Merger ini juga akan membuat kami menjadi lebih efisien, bukan hanya divisi iklan yang bisa menawarkan satu paket pariwara untuk banyak media, tetapi juga berita yang dperoleh reporter bisa dimuat di media cetak dan disiarkan di radio.Apa saja brand radio yang berada di Radionet?Masima Corporation sebagai pemilik atau holding company-nya PT Radionet. Unit usaha di bawah Grup Masima a.l. Pambors 102,3 FM, Delta 99,5 FM dan Female 100,2 FM, M97FM, SPFM, Bahana, Rase 102,3 FM (Bandung), SOL FM (Manado) dan web belanja di Internet radioclick.comKenapa ini confuse, kerena setiap license harus punya PT sendiri-sendiri. Jadi di setiap kota ada PT sendiri, bahkan bisa tiga PT kalau tiga brand radio. Total ada 18 PT radio yang berada di bawah Radionet.Selain itu, PT Radionet punya bisnis buying house yang melayani pemasang iklan untuk beriklan di radio-radio di seluruh Indonesia. Kami yang placement, hitung-hitungan harganya berapa, sasarannya siapa, ini sangat membantu calon pemasang iklan. Bagi calon pemasang iklan, 1.000 radio di Indonesia ini terlalu complicated, untuk itu kami bantu menjembataninya. Sementara pengiklan terbanyak, atau hampir 90% berada di Jakarta.Sementara Radionet punya JDFI yang mengelola radio-radio ini. JDFI karena kemampuannya mengelola radio, maka dia juga punya kemampuan bisa memberi saran/pengelolaan untuk radio lain. JDFI kalau dibilang divisi di Radionet, dia mempunyai keahlian how to run radio. Untuk know how-nya di JDFI.Bagaimana karakteristik kue iklan dalam bisnis radio?Kue iklan untuk radio di dunia mencapai 7% dari total iklan di berbagai media, dan di Indonesia baru 3,5% dari total nasional. Kalau rata-rata di AS sebesar 11%, Filipina 11%, Malaysia 5%, Singapura 7%, Australia belum sampai 10%. Mestinya Indonesia sudah 7%, dan yang menyedot bukan hanya JDFI, tapi harus 1.000 radio.Kalau industri radio itu karet busa, airnya itu iklan. Kalau yang sebelah sini ke isi air, yang lain kering, misal JDFI nyerap airnya kencang. Cuma sebelah sini yang kena air, yang lain tidak menyerap, malah ada yang sudah rusak karet busanya sehingga tak mampu menyerap air. Jadi yang salah karet busanya, bukan airnya. Banyak persoalan yang mengakibatkan kurangnya iklan ke radio.Dari 1.000 radio yang mampu menyerap iklan hanya 10%-nya saja. Kenapa bisnis radio jadi hiruk pikuk karena grup besar seperti MNC masuk ke industri radio.Kalau ada industri besar yang masuk malah bisa mendongkrak tumbuhnya kue iklan, kalau sendiri-sendiri tidak akan bisa sampai 7%.
(/)











































